Perempuan ini adalah sosok penting di belakang perjuangan, karir, dan prestasi seorang Rendra Kresna. Jajuk Sulistyowati yang mendampingi Rendra meniti karir politik dari bawah, hingga menjadi bupati Malang selama dua periode. Ketika sang suami diuji dengan kasus KPK, Jajuk pun tegar. Bahkan, dia meneguhkan tekadnya untuk tetap berlaga di medan politik. Apa yang membuatnya tetap terjun ke dunia politik?

HAPPY ROIKHAN

Malam itu, suasana di kediaman Jajuk di kawasan Pakis, Desa Tirtomoyo, tampak ramai. Beberapa petugas satpol PP dan linmas terlihat berjaga-jaga mulai dari masuk gang, menuju ke rumah dengan arsitektur Jawa itu.

Beberapa banner dan spanduk bergambar Kresna Dewanata Phrosakh mencolok terpasang dan terlihat di sudut-sudut di sekitar rumah tersebut. Dewa (panggilan akrab Kresna Dewanata Phrosakh) adalah putra Rendra Kresna yang mengikuti jejak sang ayah, menjadi politisi. Dan saat ini dia adalah anggota DPR RI dari Partai Nasdem, daerah pemilihan Malang Raya.

Kalaupun terpasang beberapa foto Dewa,  karena pada malam itu (30/12) adalah malam syukuran ulang tahunnya yang ke-33. Pemandangan malam itu begitu meriah dengan hampir ribuan undangan.

Mulai dari para pendukung dan simpatisan Dewa yang berjuluk: Bolo Dewa, juga hadir hampir semua kepala OPD (organisasi perangkat daerah), serta para camat yang ada di lingkungan Kabupaten Malang.

Rumah Pakis adalah kediaman keluarga Rendra Kresna. Sejak Rendra berurusan dengan KPK, dinyatakan tersangka hingga ditahan Oktober lalu, rumah tersebut seakan kehilangan aura-nya. Tetapi, malam itu, aura itu seakan kembali lagi dan kembali hidup.

Bisa jadi, baru malam itu, Dewa dan Jajuk kembali menerima tamu, berinteraksi dengan masyarakat secara terbuka, setelah sebelumnya keluarga Rendra Kresna lebih memilih untuk  menenangkan diri, pasca ujian yang dialami sang kepala keluarga.

”Harus tetap semangat Mbak. Tapi, saya turun (berat badan) hampir 7 kilo lho,” kata Jajuk membuka percakapan dengan Radar Malang yang malam itu datang ke rumah Pakis. Memang, Jajuk terlihat lebih kurus dari biasanya.

Gurat-gurat kesedihan masih terlihat di wajahnya. Tapi, yang tidak berubah adalah gaya bicaranya yang tegas dan cenderung ceplas-ceplos, apa adanya. Sesekali dia tampak tertawa lepas, saat bercanda dengan para kepala OPD yang mengelilinginya di ruang tamu.

Wis pokoke nggak kudu membantu Pak Rendra. Tapi yang penting seduluran tetap jalan,” kata perempuan 49 tahun itu, ketika dipamiti Kepala Inspektorat Tridiyah Maistuti dan Kepala OPD Dispendukcapil Sri Meichanrini.

Meski ada satu-dua kepala OPD yang mulai berpamitan, tampak sekitar 30-an kursi yang ada di ruang tamu masih penuh terisi.  Terlihat para kepala OPD dan badan duduk melingkar, menemani Jajuk yang malam itu mengenakan setelan biru bermotif polkadot serta jilbab warna senada itu.

Semua anggota inti keluarga Rendra malam itu keluar menyambut para tamu. Mulai dari anak-anak Rendra, menantu, hingga cucu-cucu. Mereka ini sesekali naik ke panggung, berdiri di depan ribuan masyarakat yang datang.

”Apa yang terjadi ini, semua atas kehendak Allah. Nggak boleh berkurang rasa syukurnya,” katanya. ”Terima kasih sekali saudara-saudara semua. Ini sebenarnya momen tidak mengenakkan, tapi semua harus tetap jalan. Mohon doanya saja, Pak Rendra diberi kesehatan dan kuat menjalani semua ini,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) ini, berusaha move on.

Dia menyatakan, tidak menyangka kalau undangan yang hadir sebanyak itu. Malam itu, para tamu yang datang benar-benar di luar dari perkiraannya. Kondisi ini yang menjadikan dia optimistis untuk mengemban amanah dari sang suami untuk tetap terjun di dunia politik. ”Saya tetap akan nyaleg DPRD Jatim (maju dari Partai Nasdem dari Dapil Malang Raya). Mohon doa restunya kepada seluruh undangan dan warga Malang Raya. Ini sesuai amanah beliau (Rendra Kresna),” kata Jajuk ketika didaulat untuk memberikan sambutan,  diiringi  tepuk tangan hadirin.

Jajuk mengakui, hal ini bukan amanah yang mudah. Sebagai istri, apa pun keadaan yang sedang mendera suami, adalah ujian terberat dalam hidupnya. Tapi, semua ujian itu bisa dilalui, berkat support dari anak-anaknya yang diakuinya sebagai motivasi terkuat. ”Saya dan keluarga harus bangkit. Anak-anak yang selalu menguatkan saya,” jelas nenek empat cucu tersebut.

Ketika ditanya terkait status tersangka Rendra Kresna, Jajuk memilih tidak banyak berkomentar.  Jajuk menyampaikan, dia menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Harapannya, segera ada keputusan untuk suaminya.

Jajuk lantas menceritakan ketika sang suami dipanggil dan diperiksa pertama kalinya ke Jakarta, Oktober tahun lalu. ”Waktu itu, Bapak berpesan, kalau aku tidak balik, segera kemasi barang-barang, dan pulang ke rumah Pakis.”

Dan ternyata benar. Rendra saat itu tidak  pulang, karena langsung ditahan KPK. Maka, Jajuk pun melaksanakan amanah dari suaminya. Dalam waktu tak lebih dari tiga hari untuk berkemas-kemas, Jajuk dan keluarganya langsung pindah dari rumah dinas di Pendapa Kabupaten menuju ke rumah Pakis. ”Saya paham mengapa Bapak menyuruh saya tinggal di Pakis. Karena beliau ingin saya dan keluarga lebih tenang,” jelasnya.

”Selain pesan Bapak, ada alasan lain yang membuat kami harus cepat-cepat ke  rumah Pakis,” cerita Jajuk. Ketika Radar Malang menanyakan alasan apa yang dimaksud, ”Pokoknya adalah. Wis jangan tanya itu ya,” Jajuk mencoba berkelit.

Jajuk mengakui, begitu sang suami ditahan di Jakarta, dia sengaja tidak banyak berinteraksi dengan handphone-nya. Bahkan, banyak tamu yang akan menjenguknya juga ditolaknya secara halus.

Semata-mata ketika itu karena dia sedang sibuk berkemas-kemas persiapan pindah dari rumah pendapa ke rumah Pakis. Saat itu anak-anaknya juga dikumpulkan untuk diajak bareng-bareng mengemasi barang-barangnya dengan cepat.

”Namanya sedang kemas-kemas.  Pakaian saya apa adanya. Terus kalau ada tamu kemudian saya pas pakai daster, nanti malah dipersepsikan lain. Duh, kasihan ya Bu Rendra sekarang ya,” katanya lantas tertawa. Daripada menimbulkan persepsi macam-macam itu, dia putuskan untuk sementara tidak melayani tamu-tamu yang ingin sekadar bersimpatik.

Hal yang membuatnya lebih berat menghadapi cobaan ini adalah menemani sang ibunda Rendra Kresna, Hj. Sulasmi. Di usianya yang sudah lanjut, setiap hari sang ibunda mengikuti perkembangan anaknya, Rendra Kresna, melalui media massa. Agar situasi lebih tenang, Jajuk pun terpaksa menyembunyikan koran yang datang ke rumah, agar tak dibaca sang ibu.

”Daripada kepikiran, lebih baik nggak usah baca berita dulu,”  tambahnya.

Keinginan untuk menjenguk sang suami di tahanan, sebenarnya ingin sesering mungkin. Sayangnya, keinginan tersebut justru terbentur ketidaktegaannya melihat respons sang suami. Setiap kali pamit pulang ada rasa berat yang dirasakan Rendra Kresna. ”Pak Rendra sempat bilang, bagaimana nanti masa depan anak-anaknya. Apakah mau besanan sama tersangka KPK. Duh, mewek Mbak,” jelasnya.

Selain Kresna Dewanata Phrosakh dan Kresna Tilottama Phrosakh, masih ada dua putri yang belum berkeluarga dari pasangan Jajuk-Rendra. Masing-masing Kresna Utari Devi Phrosakh, 20, dan Kresna Tribuana Putri Phrosakh, 18. Keduanya kini masih menyelesaikan studi S-1.

Pewarta            : *
Copy Editor       : Dwi Lindawati
Fotografer         : Dea Priharseno