Hari ini (18/7), Universitas Negeri Malang (UM) mengukuhkan lima guru besar lagi. Pengukuhan tersebut disentralkan di Aula GKN gedung A 19 lantai 9. Dengan tambahan lima profesor ini, kampus eks IKIP Malang itu kini memiliki 119 dosen dengan gelar tertinggi.
Mereka adalah guru besar (gubes) bidang Kimia Analitik Lingkungan Prof Dr Sc Anugrah Ricky Wijaya M Sc, gubes bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Prof Dr Alif Mudiono M Pd, Bidang Biokimia Prof Dr Evi Susanti SSi M Si, bidang Media Pembelajaran Vokasional Teknik Informatika Prof Dr Hakkun Elmunsyah ST MT, dan bidang Ilmu Pembelajaran Gerak Keolahragaan Prof Dr Siti Nurrochmah MKes.
Prof Dr Alif Mudiono M Pd
Guru besar bidang pendidikan bahasa dan sastra Indonesia
Guru Muda Harus Mampu Manfaatkan Teknologi Digital
Di era teknologi digital saat ini, semua usia akrab dengan teknologi digital. Untuk itu, para guru dituntut terus berinovasi agar dapat menerapkan pembelajaran, terutama Bahasa Indonesia melalui digital.
Seperti pidato ilmiah Prof Dr Alif Mudiono M Pd dalam pengukuhannya sebagai guru besar bidang pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) ini.
Yakni Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Literasi dan Karakter di Sekolah Dasar Abad 21. “Kegiatan literasi dapat dilakukan melalui pembelajaran digital,” ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran digital mencakup banyak aspek, alat, dan aplikasi yang berbeda untuk mendukung dan memberdayakan pendidik dan peserta didik.
Pembelajaran digital diharapkan mampu memperkuat pengalaman belajar dengan menyediakan akses ke konten yang menantang dan menarik, umpan balik melalui penilaian formatif hingga peluang belajar kapan saja dan di mana saja.
Lebih lanjut disampaikan bahwa saat ini beberapa guru yang sudah berusia lanjut mungkin kesulitan menerapkan pembelajaran digital.
Sehingga guru-guru muda yang lebih maju dalam bidang teknologi diharapkan mampu memanfaatkan teknologi digital untuk pembelajaran.
Sementara karakter pelajar Indonesia dapat terbentuk dengan Kurikulum Merdeka Belajar. Yaitu kurikulum yang mengutamakan perasaan senang selama proses belajar.
"Dalam kurikulum merdeka belajar melalui pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan memberikan solusi pada permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar," ucapnya.
Prof Dr Evi Susanti SSi MSi
Guru besar bidang Biokimia FMIPA
Kapang Pelapuk Kayu Efektif Atasi Limbah Cair Industri Batik
Banyaknya industri batik di Indonesia, termasuk di Kota Malang masih menimbulkan permasalahan yang belum terpecahkan. Yaitu limbah cair. Permasalahan tersebut ditangkap oleh Prof Dr Evi Susanti SSi MSi dengan memanfaatkan kapang pelapuk kayu sebagai bahan penelitiannya.
Dengan judul 'Kapang Pelapuk Kayu Indigenous Jawa Timur untuk Mewujudkan Konsep Industri Hijau dalam Industri Batik di Indonesia', Prof Evi menjelaskan bahwa masih banyak industri batik yang tidak mengelola limbah cair dengan baik.
Jika dibiarkan, maka lama kelamaan akan menjadi 'bom waktu' yang mengancam pembangunan berkelanjutan.
"Teknik mikoremediasi atau proses pendegradasian atau penghilangan bahan toksik dengan menggunakan kapang pelapuk kayu (KPK) dapat menjadi solusi," tutur guru besar bidang Biokimia Fakultas MIPA tersebut.
KPK merupakan kelompok kapang minoritas yang secara ilmiah dapat mendegradasi lignin untuk menjadi sumber energi bagi pertumbuhannya menjadi CO2 dan H2O. Sementara itu pewarna sintetis dalam limbah cair memiliki kemiripan struktur dengan lignin, sehingga juga dapat didegradasi oleh KPK.
Berdasarkan hasil penelitiannya, mikoremediasi limbah cair batik dengan menggunakan KPK Indigenous Jatim dan metode solid state fermentation (SSF) dengan serbuk gergaji sebagai media pendukung, menghasilkan perubahan menyatakan bahwa hasil mikoremediasi cukup aman jika langsung dibuang ke lingkungan.
Selain itu, nutrisi dalam campuran tersebut diduga lebih mudah diserap dan digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman sebagai media tanam.
"Harapannya ide sederhana ini tidak hanya terhenti sebagai wacana. Karena jika ide tersebut terbukti efektif maka maka industri batik dapat menerapkan proses produksi zero waste dan mewujudkan konsep industri hijau dalam industri batik di Indonesia,” terang dia.
Prof Dr Hakkun Elmunsyah ST MT
Bidang Media Pembelajaran Vokasional Teknik Informatika
Fasilitasi Peserta Didik dengan Learning Management System
Saat pandemi Covid-19 menyerang beberapa waktu lalu, Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) menerapkan Learning Management System (LSM). Kualitas dan tingkat keberhasilan sistem itu selama dua tahun lalu (2021-2022) dikupas oleh Prof Dr Hakkun Elmunsyah ST MT.
Dengan menggunakan DeLone and McLeans Model, kinerja sistem LSM memberikan kesimpulan bahwa spek kualitas sistem, informasi dan kualitas layanan berpengaruh signifikan terhadap pengguna.
"Aspek kualitas pada sistem dan informasi cukup berpengaruh, hanya perlu peningkatan pada beberapa faktor saja," tutur guru besar Bidang Media Pembelajaran Vokasional Teknik Informatika ini.
Karena masih terjadi ketimpangan di beberapa hal, terutama dari infrastruktur hingga kompetensi. Belum lagi, sistem ini digunakan dari Sabang sampai Merauke.
"Kepuasan pengguna sudah memberikan pengaruh signifikan, namun perlu peningkatan kualitas sistem agar relevan dengan harapan mahasiswa," lanjutnya.
Sementara itu, pada tahun berikutnya atau tahun ketiga, Prof Hakkun juga meng-ujicobakan pengembangan media berbasis adaptive learning system pada tiga kampus.
Hasilnya, jika LMS PPG meng-include-kan media berbasis adaptive learning, maka akan lebih memfasilitasi peserta didik.
"Ini adalah media yang bisa diimplementasikan di mata kuliah apa saja. Dan bisa memfasilitasi keragaman peserta didik," pungkasnya.
Prof Dr Siti Nurrochmah MKes
Guru besar bidang ilmu pembelajaran gerak keolahragaan
Asupan Gizi Menentukan Keberhasilan Belajar Motorik Siswa
Agar tujuan pembelajaran motorik atau gerak dan keterampilan bisa terlaksana dengan baik, diperlukan strategi dan rancangan pembelajaran motorik yang efektif, matang dan tertata. Termasuk penggunaan pendekatan yang tepat pada jenjang pendidikan siswa.
Untuk mematangkan hal itu, Prof Dr Siti Nurrochmah MKes meneliti 'Implementasi dan Integrasi Bidang Kinesiologi dan Ilmu Gizi untuk Mendukung Optimalisasi Keberhasilan Belajar Motorik Siswa'.
Menurutnya untuk mencapai efisiensi gerak diperlukan beberapa unsur, salah satunya kemampuan fisik. "Tingkat kebutuhan setiap unsur tidak sama, tergantung jenis keterampilan pada cabang olahraga yang ditekuni," tuturnya.
“Begitu pula dengan pembelajaran gerak harus disesuaikan dengan usia siswa. Jangan sampai anak Usia SD disuruh lari 100 meter. Meskipun mereka sanggup namun itu bukan porsi mereka,” sambung dia.
Latihan fisik yang berulang-ulang dalam hal ini juga diperlukan. Pada penelitian sebelumnya tentang “Peningkatan Kemampuan Kekuatan Otot dan Daya Ledak Otot Akibat Pelatihan Beban Dinamis dan Statis”, menerangkan bahwa latihan fisik rutin termasuk pembelajaran gerak.
Sedangkan pertandingan atau perlombaan membutuhkan energi untuk menopang unjuk kerja tersebut. Sementara ituenergi berasal dari bahan makanan yang dikonsumsi.
Sehingga dapat dikemukakan bahwa untuk memperoleh efisiensi gerak, penting menerapkan prinsip mengulang-ulang gerakan melalui latihan pada komponen kemampuan fisik pada jenis keterampilan yang dipelajari. Disamping itu pemenuhan zat-zat gizi juga diperlukan.
"Jumlah nilai kalori yang dikonsumsi dari bahan makanan disarankan sebaiknya sama dengan jumlah kalori yang dikeluarkan untuk aktivitas fisik seperti latihan atau perlombaan," ujarnya.
Prof Dr Sc Anugrah Ricky Wijaya MSc
Gubes Bidang Kimia Analitik Lingkungan
Teliti Sidik Jari Logam dan Rasio Isotop pada Lingkungan dan Laut
Pengembangan rasio isotop logam melalui detector Mass Spectrometry (MS) sangat jarang di Indonesia. Guru besar Bidang Kimia Analitik Lingkungan UM Prof Dr Sc Anugrah Ricky Wijaya MSc menjawabnya dengan meneliti sidik jari sumber pencemar maupun natural Pb untuk kepentingan konservasi dan eksplorasi menggunakan rasio isotop logam Pb tersebut.
"Kami memiliki alat instrumentasi kimia seperti ICP-MS dan TI-MS yang menggunakan single collector," tuturnya.
Analisis isotop dari model tersebut memberikan sumber informasi yang unik untuk mengidentifikasi kontaminan dan pelacakan polutan lingkungan, serta untuk menyelidiki efek sifat biokimia.
Prof Ricky mengatakan, hasil tersebut dapat menjadi database untuk mendorong kebijakan pemerintah setempat agar tidak serta merta menganalisis. Hasil penelitian pemilihan single collector ICP-MS yang tersimulasi model rasio isotop untuk sidik jari Pb sendiri berhasil diterapkan.
Yakni untuk mengetahui jejak polutan Pb dari solder dan baterai pada media debu trotoar (road-side dust) dan sedimen sungai di Jepang.
"Selain itu rasio isotop Pb digunakan deteksi Pb-fly ash dan Pb-Galena di sungai terbesar Chao Phraya River, Thailand," tambahnya.
Rasio isotop Pb yang dikembangkan juga mampu memberikan sidik jari kluster semua bahan bakar non aditif Pb. Bahkan di Jakarta, sidik jari abu layang, solder dan produk baterai terdeteksi pada media debu trotoar.
Sementara model single collector TI-MS untuk rasio isotop oksigen dan karbon pada sidik jari media air laut dan terumbu karang porites lutea menunjukkan rekonstruksi polutan masa lampau media laut. "Ini dibuktikan pada layer pertumbuhan koral setiap tahun," tuturnya. (Jprm3/dur/nen)
Editor : Neny Fitrin