Dilansir dari Refinitiv, pada hari Senin (7/4/2025), nilai tukar mata uang Garuda telah mencapai Rp17.261/US$ atau merupakan posisi terendah sepanjang sejarah.
Nilai tukar rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) menunjukkan pelemahan yang cukup tajam dibandingkan dengan penutupan perdagangan reguler terakhir sebelum libur Lebaran, yakni pada Kamis (27/3/2025) saat rupiah berada di level Rp16.555/US$ atau menguat sebesar 0,12%.
Hal ini mengindikasikan bahwa rupiah berpotensi mengalami pelemahan yang cukup signifikan pada pekan ini.
Baca Juga: Tarif Impor AS Trump: Negara-Negara dengan Dampak Tarif Tertinggi hingga Terendah
Dilansir dari Antara, pengamat pasar uang sekaligus Presiden Direktur PT. Doo Financial Futures, Aristo Tjendra, menganggap penyebab pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah hari ini adalah karena pengaruh respons negatif negara-negara atas kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat, yaitu Donald Trump baru-baru ini.
Indonesia menjadi salah satu korban baru dalam perang dagang yang dipicu oleh Trump.
Indonesia dikenai tarif resiprokal hingga 32% karena besarnya defisit Amerika Serikat terhadap Indonesia.
Baca Juga: Trump Lakukan Pemecatan Massal di Voice of America, Anggaran Media Pemerintah AS Dibekukan
Hal ini berdampak negatif pada tidak lakunya barang Indonesia di Amerika Serikat mengingat harga barang yang masuk akan cenderung lebih mahal dari biasanya.
Alhasil, masyarakat Amerika Serikat akan memilih produk lokal daripada impor dari Indonesia.
"Sentimen negatif dari pengumuman kebijakan tarif Trump yang direspons negatif oleh negara-negara yang dinaikkan tarifnya menjadi pemicu utama pelemahan rupiah," ucapnya kepada Antara di Jakarta, Senin (7/4/2025).
Baca Juga: Donald Trump Umumkan Kebijakan Larangan Negara Mayoritas Muslim Masuk AS
Menurutnya, pasar memiliki kekhawatiran bahwa ekonomi global tak akan baik-baik saja.
Penurunan akibat perang dagang yang didorong kebijakan resiprokal Amerika Serikat memicu pelaku pasar keluar dari aset berisiko dan masuk ke aset yang lebih aman.
Selain itu, menurutnya juga pelemahan kurs rupiah dipengaruhi oleh data tenaga kerja nonfarm payrolls Amerika Serikat yang lebih bagus dari proyeksi.
"Kita masih menunggu respons pasar terhadap hasil negosiasi, bisa saja Trump melunak dan positif lagi untuk harga aset berisiko," lanjut Ariston.
Dengan melihat berbagai faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah, termasuk kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global, pelaku pasar dan pemerintah perlu tetap waspada dan sigap dalam merespons dinamika yang terjadi.
Stabilitas nilai tukar rupiah ke depan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan global serta strategi domestik dalam menjaga kepercayaan investor dan memperkuat fondasi ekonomi nasional. (nai)
Editor : A. Nugroho