RADAR MALANG – Dalam percakapan sehari-hari maupun media massa, kita sering menemukan kata “perempuan” dan “wanita” digunakan secara bergantian. Meski tampak serupa, ternyata kedua istilah ini memiliki sejarah dan makna yang berbeda secara mendasar, bahkan bisa mencerminkan cara pandang masyarakat terhadap kaum hawa.
Etimologi: Antara Kehormatan dan Keinginan
Secara etimologis, kata perempuan memiliki akar yang mulia. Ia berasal dari bahasa Sansekerta “pu” yang berarti hormat, atau dari bahasa Jawa Kuno “empu” yang bermakna tuan, mulia, atau orang yang dihormati. Setelah mengalami pembentukan kata menjadi “per-empu-an”, maknanya mengarah pada seseorang yang memiliki posisi penting dan terhormat dalam masyarakat.
Baca Juga: Diam Karena Takut: Mengapa Banyak Korban Kekerasan Seksual di Kampus Memilih Tak Melapor?
Sementara itu, kata wanita diserap dari bahasa Sansekerta “vanita” yang berarti “yang diinginkan.” Dalam budaya Jawa kuno yang feodal, istilah ini menempatkan perempuan dalam posisi subordinat: sebagai objek keinginan laki-laki. Konotasinya tidak lagi netral, tetapi lebih kepada kerangka patriarki yang membentuk narasi ketundukan.
Makna Sosial dan Filosofis di Baliknya
Kata perempuan membawa filosofi keberdayaan dan martabat. Ia merepresentasikan sosok yang bukan hanya memiliki kasih dan kelembutan, tetapi juga kekuatan untuk berperan aktif di berbagai ranah, baik domestik maupun publik. Dalam banyak wacana kesetaraan gender, kata ini dipilih karena mencerminkan pandangan yang progresif dan menghormati eksistensi perempuan secara utuh.
Baca Juga: Jerat Sunyi di Balik Layar: Saat Kekerasan Seksual Mengintai di Media Sosial
Sebaliknya, kata wanita sering digunakan dalam konteks-konteks yang menempatkan perempuan sebagai pelengkap laki-laki. Bahkan dalam bahasa Jawa, wanita sering dipelesetkan sebagai singkatan dari “wani ditata” atau “berani diatur”, seolah menekankan kepatuhan. Tidak heran jika dalam organisasi dan aktivisme kesetaraan gender, istilah ini mulai ditinggalkan.
Relevansi dalam Isu Kesetaraan Gender
Di era modern yang mengedepankan kesetaraan hak, istilah yang kita gunakan memiliki dampak besar dalam membentuk persepsi sosial. Kata perempuan lebih banyak digunakan oleh media, akademisi, dan organisasi yang mengusung nilai-nilai kesetaraan dan pemberdayaan. Ia dianggap lebih netral dan inklusif.
Baca Juga: Ketika Kekuasaan Membungkam Keadilan: Deretan Predator Seksual di Balik Seragam, Gelar, dan Jabatan
Penggunaan kata wanita yang cenderung mengacu pada konteks seksual atau domestik dinilai kurang relevan ketika membicarakan hak-hak, perjuangan politik, atau peran sosial perempuan dalam masyarakat. Oleh karena itu, banyak aktivis menyarankan untuk lebih memilih kata perempuan dalam ranah formal dan publik.
Kata Bukan Sekadar Pilihan, Tapi Cermin Peradaban
Mengganti kata “wanita” dengan “perempuan” bukan sekadar persoalan linguistik. Ia adalah upaya membangun kesadaran kolektif untuk memperlakukan perempuan sebagai subjek, bukan objek. Sebuah langkah kecil dalam melawan narasi yang secara tidak sadar masih menomorduakan kaum perempuan.
Sebagai masyarakat yang terus berkembang, penting bagi kita untuk memahami bahwa bahasa membentuk cara berpikir. Dan ketika kita memilih kata yang lebih bermartabat, kita sebenarnya sedang menciptakan ruang yang lebih adil dan setara. (my)
Editor : Aditya Novrian