Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ketelatenan Ahmad Hafidh Azkia Menekuni Dunia Desain 3D dan 3D Printing

Fathoni Prakarsa Nanda • Rabu, 16 Juli 2025 | 16:40 WIB
DETAIL: Ahmad Hafidh Azkia menunjukkan dua contoh diecast mobil karyanya yang sudah dipasarkan di dalam negeri maupun luar negeri.
DETAIL: Ahmad Hafidh Azkia menunjukkan dua contoh diecast mobil karyanya yang sudah dipasarkan di dalam negeri maupun luar negeri.

Satu Diecast Mobil Bisa Berisi 60 Komponen

Kuliahnya di jurusan Sastra Inggris. Tapi Ahmad Hafidh Azkia begitu mencintai dunia desain 3D. Dia pernah bergabung dengan perusahaan pengembang video game asal Inggris dan menghasilkan banyak karya. Kini, bapak tiga anak itu malah fokus memproduksi diecast.

AROMA resin seolah menjadi ciri khas kantor Amescale dan Estungkara Digital di Jalan Perum Joyo Grand, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Start-up perusahaan yang memproduksi desain 3D dan 3D printing itu didirikan Ahmad Hafidh Azkia Alam, atau akrab disapa Haqi, pada 2022. Tapi, sebelum mendirikan perusahaan sendiri, Haqi sudah menekuni dunia desain 3D sejak 15 tahun lalu.

Saat wartawan Jawa Pos Radar Malang ke kantor tersebut pada 14 Juli lalu, Haqi tampak sedang memasang satu per satu komponen miniatur mobil buatannya. Di atas meja bertebaran puluhan komponen, alat untuk mengecat, obeng mini, hingga capit dengan berbagai ukuran.

Di belakang Haqi beraktivitas, terdapat lemari yang berisi beragam barang. Mulai dari diecast yang sudah jadi dan siap dijual hingga rak-rak kecil berisi komponen diecast yang akan dirakit.

“Satu mobil, komponennya bisa sampai 60 bagian,” ujarnya.

Komponen-komponen berukuran sangat kecil itu dicetak menggunakan mesin 3D printing. Proses selanjutnya adalah merakit komponen hingga membentuk miniatur mobil. Menurut Haqi, proses paling sulit adalah memasang baut pada ban mobil diecast. Sebab, diameter ban itu hanya 11 milimeter, tapi dilengkapi lima baut kecil.

Namun Haqi harus telaten karena detail semacam itu menjadi keunggulan produknya di pasaran. Bahkan bisa bersaing dengan diecast dari brand ternama seperti Hot Wheels, Inno, hingga High Speed. Dengan akurasi 0,02 milimeter, diecast yang diproduksi Haqi sudah mampu menembus pasar luar negeri.

Kolektor diecast sering kali jatuh cinta dengan detail yang dibuat Haqi. Meskipun dengan skala diecast terkecil 1:87, produknya sudah digemari orang Jerman, Inggris, hingga Brunei. Tak rugi dirinya mengimpor langsung mesin cetak 3D dari China.

“Sampai sekarang, seluruh desain diecast saya yang handle,” papar lulusan D3 Sastra Inggris, Universitas Negeri Malang (UM) itu.

Ketertarikan Haqi pada dunia desain 3D sebenarnya sudah dimulai sejak 2005. Saat itu dia masih duduk di bangku SMA dan berniat melanjutkan ke pendidikan tinggi jurusan Desain Visual. Namun karena peralatan kuliah pada jurusan itu mahal, Haqi mengalihkan pilihan ke Sastra Inggris.

Selama kuliah, Haqi juga belajar membuat film animasi secara otodidak. Karya-karyanya diunggah di media sosial untuk portofolio. Meski berawal dari iseng, aktivitas itu mengantarkan Haqi pada pengalaman internasional.

Pada 2010, dia direkrut pengembang video game asal Inggris, Codemasters. Mendapat kontrak selama satu tahun dan bekerja di Malaysia. Karyanya pun sudah dimainkan jutaan orang di dunia. Seperti game F1 2010, Dirt 3 Rally, hingga GRID 2.

Namun, pada 2016, Haqi memutuskan kembali ke Indonesia dan terjun ke dunia 3D printing. Sama-sama berkutat pada desain 3D, tapi memiliki perbedaan yang mendasar. Adaptasi paling mendasar yang harus benar-benar dilakukan Haqi adalah masalah detail. Di dunia 3D game, para desainer lebih menonjolkan estetika. Namun di dunia 3D printing, Haqi juga harus memikirkan ukuran masing-masing bagian.

“Contohnya, kalau garis antar pintu depan ini terlalu rapat, komponen diecast tidak bisa dipasang,” papar Haqi sembari menunjukkan diecast yang sedang dia kerjakan.

Untuk saat ini Haqi fokus memproduksi diecast mobil Toyota Kijang dan BMW. Tapi, desain yang dia buat sengaja diberi tambahan komponen lain agar lolos hak cipta.

Pada awal-awal produksi, Haqi menerapkan sistem pre-order dalam penjualannya. Ternyata pesanan langsung membeludak hingga 60 diecast. Kini, tiap bulan dia konsisten memproduksi 100 diecast untuk penjualan dalam kondisi normal. Namun pada high season seperti seusai libur sekolah, Haqi menambah produksi hingga dua kali lipat.

Awal Juli lalu dia dihubungi penyelenggara International Diecast Show (IDS). Haqi diberi tawaran gratis menggunakan salah satu tenant pameran yang juga diikuti peserta dari Thailand, Singapura, Malaysia, hingga Amerika Serikat. Itu menjadikan dirinya satu-satunya produsen diecast asal Malang yang ikut IDS pada 30–31 Agustus mendatang di Jakarta.

Untuk mengikuti pameran bergengsi itu, Haqi menyiapkan dua series miniatur mobil. Yakni seri mobil pikap dan mobil boks Kijang keluaran tahun 2000-an.

“Di Indonesia, rata-rata pencinta diecast memang lebih gemar membeli series Kijang,” terangnya.

Beda dengan pasar luar negeri seperti Jerman dan Brunei. Rata-rata yang laku adalah series BMW. Haqi konsisten mengirim 80 diecast per bulan ke pasar luar negeri.

“Karena secara bahan lebih mahal, jadi satu diecast kita jual mulai Rp 400 ribu untuk yang ready stock,” terang Haqi. (*fat)

Editor : A. Nugroho
#um #3D #pasar luar negeri #mesin cetak #desain 3D