Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Terindikasi Oplosan, Pemkab Malang Temukan Lima Kemasan yang Mencurigakan saat Melakukan Sidak

Bayu Mulya Putra • Rabu, 23 Juli 2025 | 18:00 WIB
DIUJI LAB: Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi (kanan) dan Ketua Satgas Pangan Polres Malang AKP Mochammad Nur melakukan sidak di Pasar Kepanjen, kemarin (22/7).
DIUJI LAB: Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi (kanan) dan Ketua Satgas Pangan Polres Malang AKP Mochammad Nur melakukan sidak di Pasar Kepanjen, kemarin (22/7).

KABUPATEN - Seperti di daerah lain, Pemkab Malang dan Satgas Pangan juga rutin melakukan inspeksi dadakan (sidak) untuk menangkal peredaran beras oplosan. Seperti dilakukan di Pasar Kepanjen dan beberapa gudang beras, kemarin. Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi menyampaikan, berdasar informasi yang diterimanya, di Kabupaten Malang terdapat 26 merek beras yang terindikasi oplosan.

Saat sidak dilakukan di dua toko sembako di Pasar Kepanjen, hanya ditemukan lima beras yang terindikasi oplosan. ”Ada beberapa indikasi beras oplosan. Pertama, dari segi tampilan, warna berasnya tidak seragam. Sebab, beras medium itu warnanya lebih kusam dibanding beras premium,” ujarnya setelah melakukan sidak kemarin (22/7).

Selain itu, patahan beras juga tidak seragam. Beras premium biasanya memiliki patahan hanya 14 persen. Berat beras medium juga lebih ringan. Karena itu, salah satu cara cepat untuk melihat oplosan yakni dengan memperhatikan visual beras dan menimbang beras kemasan tersebut. 

Dari hasil penimbangan, ditemukan lima beras yang tidak sesuai dengan informasi di kemasan. Beras tersebut hanya memiliki berat 4,9 sampai 4,98 kilogram. Selain itu, tampilan beras juga tidak seragam. Ketua Satgas Pangan Polres Malang, AKP Mochammad Nur menambahkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Bulog Cabang Malang dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang terkait temuan tersebut.

”Kami akan membawa sample yang sudah kami ambil ke laboratorium Bulog untuk dicek. Apakah beras tersebut benar-benar oplosan atau tidak,” kata dia. Dia tidak bisa memastikan waktu uji laboratorium tersebut. Hasil temuan tersebut akan didata terlebih dahulu. 

Saiful, salah satu pedagang toko menyebut, pihaknya tidak mengetahui jika isinya kurang. ”Ini kan merugikan konsumen. Kami sebagai pedagang juga tidak pernah mengecek atau menimbang dan tidak mau tahu, meskipun isinya kurang,” ucap pria berusia 62 tahun itu. 

Di tokonya, ditemukan dua merek yang isi berasnya lebih sedikit dari seharusnya. Yakni beras lumba-lumba dan sania. Beras lumba-lumba dijual dengan harga Rp 70 ribu per kemasan 5 kilogram. Sedangkan beras sania dijual Rp 76 ribu per kemasan 5 kilogram. 

Dia menyebut bahwa isu beras oplosan tersebut tidak banyak memengaruhi konsumen. Sebab, mereka bisa saja mencari alternatif beras merek lain. Namun, dia menyebut, produsen menjadi tidak mengeluarkan produknya untuk sementara waktu. Sehingga pasokan di pasar berkurang karena tidak ada pengiriman. (yun/by)

Editor : A. Nugroho
#satgas pangan #Disperindag #Pemkab Malang #Sidak #beras oplosan