SURABAYA – Pemkot Surabaya menargetkan perluasan parkir digital secara masif. Hingga akhir 2025, ditargetkan ada 77 lokasi parkir yang menerapkan sistem non tunai, lalu diperluas bertahap hingga sekitar 1.500 titik parkir.
Namun, pelaksanaan di lapangan masih menemui sejumlah kendala. Terutama gangguan sistem yang membuat transaksi digital belum berjalan optimal.
Sejumlah pengguna parkir mengeluhkan kondisi tersebut. Mega Gaisanni, misalnya, mengaku sudah membayar parkir menggunakan QRIS di kawasan Taman Bungkul. Namun, ia tetap diminta membayar ulang secara tunai oleh juru parkir dengan alasan sistem sedang bermasalah.
”Kalau memang error, seharusnya dari awal ada keterangan tidak bisa bayar. Tapi ini sudah berhasil, lalu dibilang bermasalah,” ujarnya saat ditemui kemarin (4/1).
Pengalaman serupa dirasakan Erika Mashel. Saat hendak makan siang di sekitar Taman Bungkul, ia berniat membayar parkir secara nontunai. Namun setelah bertanya kepada juru parkir, ia mendapat informasi bahwa sistem sedang gangguan. ”Akhirnya saya bayar cash,” ungkapnya.
Pantauan Jawa Pos menunjukkan penerapan parkir nontunai di Taman Bungkul belum sepenuhnya efektif. Kondisi tersebut berbeda dengan kawasan Taman Surya di Jalan Sedap Malam.
Di lokasi itu, cukup banyak pengunjung yang membayar parkir menggunakan QRIS. Sukma Sybilla, salah satu pengunjung, menilai sistem parkir digital cukup membantu. ”Tidak perlu repot menyiapkan uang tunai. Lebih cepat dan nyaman, meski kadang jukirnya masih bingung kalau ada error kecil,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan masih adanya jarak antara kebijakan digitalisasi parkir dan praktik di lapangan. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan, parkir tunai memang masih disediakan. Namun, ia mendorong masyarakat beralih ke nontunai untuk mencegah potensi persoalan.
”Dengan nontunai bisa dicek berapa kendaraan yang parkir. Maka semuanya kita fasilitasi, ada nontunai, ada tunai,” tuturnya. (qia/ida/ata/jun/adn)
Editor : Aditya Novrian