MALANG — Peringatan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Kota Malang pada pada hari ini (7/2) dan besok (8/2) jadi momentum untuk mengenang sejarah panjang organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sekaligus merefleksikan kontribusinya bagi bangsa dan negara. Acara ini diikuti para pengurus NU dari berbagai tingkat, akademisi, dan masyarakat umum.
Nahdlatul Ulama resmi berdiri pada 31 Januari 1926 di Surabaya, diprakarsai oleh sekelompok ulama pesantren yang ingin menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah perubahan sosial dan kolonialisme. Tokoh sentral pendirian NU adalah Kyai Haji Hasyim Asy’ari dari Jombang, pendiri Pesantren Tebuireng, yang menjadi Rais Akbar NU pertama.
Selain dia, tokoh penting lain antara lain KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Asnawi, KH Nawawi, dan KH Mas Alwi yang menyatukan gagasan kebangkitan ulama dalam organisasi modern.
Sejak awal, NU menempatkan pendidikan dan dakwah sebagai fondasi utama, tetapi kiprahnya tidak berhenti di bidang keagamaan. Organisasi ini aktif dalam bidang sosial, kemanusiaan, dan politik.
Tokoh NU berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, antara lain dengan ikut dalam pergerakan diplomasi dan sosial-politik melawan kolonialisme, mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan umat, serta menyebarkan semangat persatuan dan toleransi antarumat beragama.
Kontribusi NU juga terlihat dalam pembangunan bangsa pascamerdeka. Organisasi ini mendukung pendidikan massal, pendirian rumah sakit, lembaga sosial, serta keterlibatan dalam perumusan kebijakan negara melalui tokoh-tokohnya yang duduk di lembaga pemerintahan dan legislatif. Perayaan harlah di Malang menjadi momen untuk merenungkan warisan besar tersebut, sekaligus memperkuat komitmen NU dalam merawat kerukunan, kemaslahatan umat, dan pembangunan bangsa hingga hari ini.
Editor : Aditya Novrian