RADAR MALANG - Misi mulia Trianko Hermanda dan teman-temannya terpaksa harus tertunda. Dia hendak memasang pipa untuk menyalurkan air bersih di salah satu desa yang terisolasi. Karena cuaca buruk dan akses yang terputus, mereka harus menunggu waktu lagi.
Trianko menggambarkan kondisi terbaru di Desa Atu Payung, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah cukup detail. Relawan Gimbal Alas itu menyebut akses darat menuju desa itu kembali terputus. Air bersih masih sulit dijangkau warga. Kalaupun ada air, warnanya keruh. Alirannya pun kecil.
Akses listrik belum bisa menjangkau warga-warga di sana. ”Tiang-tiang sudah ada, tetapi listriknya masih belum,” tutur dia. Mereka yang berada di Desa Atu Payung harus mengandalkan lilin dan minyak sebagai penerangan. Kondisi itu cukup disesalkan Sleng, sapaan akrab Trianko. Sebab, sepekan sebelum Ramadan, dia bersama relawan-relawan lainnya ingin memastikan aliran air bisa lebih deras dan lebih bersih ke Desa Atu Payung.
Tujuannya agar warga di sana bisa beribadah dengan lebih tenang. Namun harapan itu pupus. Cuaca buruk dalam beberapa hari terakhir memicu terjadinya longsor di beberapa titik. Memaksa memutus beberapa akses menuju desa tersebut.
”Rasanya sedih melihat warga masih beraktivitas dalam gelap. Meski air ada, tapi kecil. Jadi harus bergantian,” imbuh Sleng. Saat menggelar salat Tarawih dan tadarus, kabarnya warga menggunakan lilin-lilin kecil sebagai penerangan. Sebagai umat Kristiani, dia ikut bersedih ketika melihat warga kesusahan dalam beribadah.
Sleng tak tahu pasti bagaimana cara mereka menjalani bulan mulia ini. ”Sebab, kami belum berhasil tembus ke sana sampai hari Kamis (19/2),” kata dia. Sleng bersama teman-temannya hanya bisa mengakses ke Desa Kelitu, Kecamatan Bintang, Kabupaten Tengah. Desa itu berjarak 60 km dari Desa Atu Payung.
”Kalau di Desa Keliru warganya masih bisa salat Tarawih berjemaah di musala dan masjid,” kata pria berusia 50 tahun itu. Akhir pekan lalu, dia dan kawan-kawan bergegas meninggalkan Aceh. Dia akan bertandang ke Medan dulu. ”Karena nggak enak juga kalau lama numpang di sini (Aceh),” ujar dia.
Sejak Jumat malam (20/2), Sleng dan lima rekannya menggunakan bus menuju ke Medan. Mereka tiba sekitar pukul 08.00 WIB. Misi awal mereka untuk melakukan pipanisasi di Desa Atu Payung belum usai. Jika cuaca dan jalur kembali dibuka, dia dan rekannya akan kembali ke sana.
”Sepertinya setelah tuntas pemasangan (pipa) di Atu Payung juga akan ada satu kegiatan lagi. Yakni menggantikan kawan-kawan Surabaya yang tidak jadi berangkat,” ungkapnya.
Beberapa hari sebelumnya, ban kendaraan yang digunakan Sleng dan rekan-rekannya dari relawan Gimbal Alas terjerembap di aliran lumpur.
Mereka terpaksa mengurungkan misi pipanisasi di sana. Mereka dipaksa mundur oleh alam dan keadaan. ”Kami saat itu gagal masuk saat hendak melakukan pemasangan pipa ke Desa Atu Payung,” tutur Trianko lemas.
Dia menyebut, saat itu hujan dengan intensitas sedang hingga deras terjadi di daerah Aceh Tengah. Sehingga muncul kembali titik longsor. Setidaknya ada 80-an titik longsor di jalur antara Takengon ke Desa Atu Payung. ”Tetapi yang disebabkan hujan beberapa hari terakhir hanya ada 20 titik longsor baru,” kata dia.
Material pipanisasi yang dibawa mereka kembali dititipkan di Desa Kelitu. Sembari menunggu jalur kembali normal dan bisa dilalui. Konon, perbaikan jalur biasanya perlu waktu yang lumayan lama. Pemerintah dan dinas terkait di Aceh Tengah kini terus mengupayakan agar jalur menuju Desa Atu Payung segera bisa kembali dilewati. ”Informasinya perlu waktu lima hari, bisa jadi lebih dari itu,” kata Sleng dengan nada pasrah. (*/by)
Disunting kembali oleh Intan Nurlita Dewi
Editor : Aditya Novrian