Punya Pasar Potensial, Indeks Digital Indonesia Masih Rendah

KOTA MALANG – Pertumbuhan penetrasi internet dalam bentuk peningkatan infrastruktur digital di seluruh wilayah Indonesia ternyata belum dibarengi dengan peningkatan daya saing digital Indonesia. Berdasarkan East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2020, Indonesia berada pada skala 27,9 dari skala 0 -100.

“Angka ini terbilang masih rendah. Artinya, Indonesia memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital,” jelas Co-founder & Managing Partner, East Ventures, Willson Cuaca.

Willson menjelaskan, indeks EV-DCI tersebut didasarkan dari 9 pilar, diantaranya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT), kewirausahaan, dan sumber daya manusia (SDM). ICT mendapatkan nilai tertinggi. Ini berarti dari segi infrastruktur, Indonesia tergolong paling siap dalam ekonomi digital.

Hal ini bisa dilihat dari pembangunan proyek infrastruktur telekomunikasi Palapa Ring membuat Indonesia menjadi pasar yang sangat menarik. Perluasan jaringan lewat Palapa Ring diperkirakan akan meningkatkan lalu lintas data hingga enam kali lipat antara 2016 hingga 2020.

Ekosistem digital pun tumbuh makin luas, seperti jual beli online (e-commerce), transportasi online, jasa keuangan online, digitalisasi pariwisata dan lainnya. Beberapa perusahaan tumbuh menjadi pemain digital terbesar dan unicorn, sebut saja Traveloka, Tokopedia, Gojek, Bukalapak dan OVO.

Willson menambahkan, diantara 9 pilar yang menjadi tolok ukur, kualitas SDM dan kewirausahaan di Indonesia memiliki skor paling rendah. Ia menyebut, SDM di Indonesia belum mampu menghadapi pesatnya pertumbuhan digitalisasi di nusantara.

“Ini menandakan bahwa Indonesia harus bekerja keras untuk menyiapkan SDM dan kewirausahaan untuk menghadapi ekonomi digital,” imbuhnya.

Keterbatasan tim SDM yang terampil menjadi hambatan terbesar bagi inovasi digital. Contohnya di industri jasa finansial, SDM dengan keterampilan digital sekaligus memiliki keterampilan utama, jumlahnya sedikit di pasar industri finansial dan tenaga kerja.

Hasil studi PwC, “Fit to Compete” yang dirilis pada Oktober 2019 menunjukkan 80 persen pemimpin industri finansial khawatir kurangnya keterampilan akan menghambat pertumbuhan. Sedangkan, 54 persen kepala eksekutif industri finansial mengatakan bahwa kurangnya keterampilan menghambat kemampuan perusahaan untuk berinovasi dengan efektif.

“Menurut kajian tersebut, keterampilan teknis, kemahiran analisis data dan pemikiran desain yang dibutuhkan perusahaan industri finansial, semuanya membutuhkan orang-orang dengan keterampilan tinggi. Memiliki tenaga kerja yang terampil dan mahir secara digital sangat dibutuhkan untuk keberhasilan strategi digital institusi keuangan yang lebih luas,” jelas dia.

Studi McKinsey Global Institute pada Januari 2017 berjudul “Jobs Lost, Jobs Gained: Workforce Transitions in a Time of Automation” juga menyebutkan bahwa perkembangan teknologi digital menuju revolusi industri 4.0 akan berdampak pula terhadap pergeseran jenis tenaga kerja. Sekitar 400 juta – 800 juta orang kemungkinan bakal digantikan mesin dan harus mencari pekerjaan baru pada 2030 di seluruh dunia.

Yang paling rentan terotomatisasi adalah pekerjaan pekerjaan yang lebih banyak melibatkan kekuatan fisik seperti operator mesin. Tren global menunjukkan bahwa sekitar 60 persen pekerjaan akan mengadopsi sistem otomatisasi dan 30 persen akan menggunakan mesin berteknologi tinggi.

Namun, sebaliknya, teknologi digital akan menciptakan pekerjaan baru dan mayoritas berada di sektor jasa. Sektor jasa akan mengalami pertumbuhan tinggi sejalan dengan perkembangan teknologi digital dan membutuhkan tenaga kerja yang middle higher skilled.

Foto: Telecom
Penyunting: Fia