Ditempeli Tanda Khusus, Pedagang Dipaksa Jual Gula Sesuai HET Rp 12.500 per Kg

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto saat melihat gula hasil sitaan milik distributor nakal yang berada di gudang penyimpanan Pabrik Gula Kebonagung Malang, pekan lalu.

KABUPATEN MALANG – Masih tingginya harga gula di Kabupaten Malang mendorong Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang bertindak tegas. Seluruh kios pedagang di pasar tradisional yang menjual gula khusus dari Disperindag seharga Rp 12.500 per kilogram akan ditandai. Jika ditemukan tidak sesuai ketentuan, sanksi hak penempatan kios untuk berjualan akan dicopot.

“Kalau pedagang kami ketahuan, tentunya akan kami evaluasi hak penempatan berdagangnya. Bisa saja dicopot itu haknya,” kata Kepala Disperindag Kabupaten Malang Agung Purwanto kepada radarmalang.jawapos.com, Sabtu (23/5).

Menurut Agung, penandaan kios para pedagang pasar agar harga gula yang dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp 12.500 per kilogramnya. Saat ini harga gula di pasaran masih di atas Rp 16.000 per kilogram.

“Jadi, nanti akan kami tempeli tanda yang bertuliskan ‘Toko Ini Menjual Gula 12.500’. Itu untuk memudahkan upaya kami memantau toko yang menjual lebih dari HTE akan dikenai sanksi,” jelasnya.

Saat disinggung kapan penandaan itu dilaksanakan, Agung mengatakan, seusai libur Lebaran. “Beberapa hari seusai libur Lebaran akan ditandai. Pokoknya, ketika semua gula sudah didistribusikan ke para pedagang di pasar,” kata Agung.

Harga gula di Kabupaten Malang masih dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 12.500 per kilogram. Padahal, stok gula di Kabupaten Malang pada bulan Mei 2920 ini surplus dari kebutuhan rata-rata per bulannya.

Seperti diketahui, sebelumnya diwartakan, pasokan gula di Kabupaten Malang surplus karena ada tambahan 1.168 ton gula dari hasil sitaan distributor nakal di Kota Malang oleh  Menteri Perdagangan.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Foto: Bob Bimantara Leander
Editor: Hendarmono Al Sidarto