KOTA MALANG – Hampir semua warga ataupun alumni Universitas Brawijaya pasti mengenal Nasi Lengko satu ini. Diklaim oleh penjualnya sebagai satu-satunya yang menjual menu nasi lengko khas Tegal di Kota Malang, terbukti lengko pak Sukirman, (57) ini selalu ramai pembeli sejak buka sampai tutup, bahkan saat libur semester ataupun hari minggu, ia tetap buka.

Seperti yang terlihat di kedai kecilnya di Jalan Mayjen Panjaitan Gang 19 Kelurahan Penanggungan, Klojen, Kota Malang, Minggu, (24/3) pagi tadi. Saat radarmalang.id mampir ke sana, mahasiswa sudah memadati warung Sukirman. Ia mengaku sudah membuka kedai di sana sejak tahun 2011. Sebelumnya, dirinya membuka warung di samping masjid Besar Universitas Brawijaya sejak tahun 1996.

“Saya ke Malang ini merantau, sampai sekarang, kadang ya masih pulang, kalau mulai berjualan Nasi Lengko sejak tahun 1999,” ujar pria asli Tegal ini.

Sukirman memilih menu lengko karena ingin membawa makanan khas daerah sendiri ke Malang. Menengok waktu itu di Kota Malang masih belum ada, bahkan mungkin masyarakat masih tidak familiar dengan apa itu Nasi Lengko.

“Mungkin yang tahu ya anak Jakarta soalnya di sana lumayan banyak, atau yang asli Tegal dan sekitarnya, kalau di Malang saya rasa cuma di sini saja,” katanya sambil melayani pembeli.

Bila di sandingkan dengan makanan khas Jawa Timur lain, makanan 100 persen non hewani atau full sayuran ini memang bisa dibilang mirip pecel. “Kalau di Tegal sana bilangnya Sega Lengko, kalau di sini mungkin mirip ya pecel itu, soalnya pakai bumbu kacang, tapi kalau pecel kan banyak di sini, makanya saya mikir apa bikin lengko saja ya,” terangnya mengingat masa sebelum memutuskan membuka warung Nasi Lengko di Kota Malang ini.

Nasi Lengko sejatinya berisi irisan tahu kecil, kecambah, ketimun yang dipotong dadu, ditambah tauge dan kubis plus bumbu kacang. “Plus sambel kecap, itu yang tidak boleh ketinggalan, yang asli di Tegal ya seperti ini,” tambahnya. Di Malang, ia juga terkadang menjual sayur sop dan sayur terong sebagai tambahan menu.

Untuk side dish, ada gorengan, tempe, ikan hingga ayam yang bisa dipilih pembeli. Pilihan menunya cuma ada dua, jumbo atau biasa. Harganya? jangan ditanya, sangat ramah di kantong mahasiswa. Untuk nasi lengko biasa ia hargai Rp 4000 saja, sedangkan jika ingin porsi jumbo, tinggal tambahkan Rp 1000.

“Kan kadang mahasiswa ada yang makannya banyak, minta jumbo, ya saya kasih,” canda Sukirman.

Warung lengko-nya diakui Sukirman tidak pernah tutup. Ia mengaku hanya menutup warungnya saat dirinya memutuskan pulang ke kampung halamannya di Tegal.

Untuk menuju warung ini, ada dua alternatif jalan, yakni lewat Gang 19 Jalan Mayjen Panjaitan atau bisa juga masuk lewat Universitas dan memarkir kendaraan di dekat bekas Pujasera CL Universitas Brawijaya dan berjalan hingga menemui tembusan ke Gang 19 tersebut.

Pewarta: Elfran Vido
Foto: Elfran Vido
Penyunting : Fia