Berdasarkan informasi yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek, peristiwa tersebut terjadi awal Juli  lalu. Kala itu, sekitar pukul 09.00 pelaku bertamu ke rumah korban yang masih kerabatnya dengan tujuan meminjam BPKB sepeda motor Honda Revo nopol AG 4684 ZI.  Namun, karena alasan meminjam BPKB tersebut tidak jelas, korban tidak memperbolehkannya. “Kendati tidak disetujui, hal itu tidak membuat niatan pelaku meminjam BPKB surut, hingga terus membujuk korban agar mau meminjamkan,” ungkap Wakapolres Trenggalek, Kompol Andi Febrianto Ali.

Dia melanjutkan, beberapa menit berselang korban meninggalkan pelaku di ruang tamu rumahnya, karena ingin menyelesaikan pekerjaan di belakang rumah. Tak pelak, hal itu langsung dimanfaatkan pelaku masuk ke kamar korban untuk mencari di mana BPKB tersebut diletakkan. Setelah menggeledah almari milik korban, dan menemukan BPKB yang diinginkan, pelaku langsung membawanya. “Setelah berhasil mendapatkan BPKB itu, pelaku juga meminjam sepeda motor korban untuk menyelesaikan keperluannya, dan korban memperbolehkannya,” jelasnya.

Baru pada Selasa (5/9) lalu, ketika mencari BPKB sepeda motornya, betapa kagetnya korban mengetahui barang tersebut tidak ada di tempatnya. Bersamaan itu, korban langsung mencari tahu dimana keberadaan BPKB  itu dan langsung melapor ke polisi karena tidak kunjung ketemu.

Setelah mendapatkan laporan itu polisi langsung menyelidiki. Tidak menunggu waktu lama, saat itu juga polisi mengetahui siapa yang mencuri BPKB,  dan menangkap pelaku. Dari situ diketahui bahwa pelaku menggadaikan BPKB di salah satu koperasi simpan pinjam wilayah Kota Trenggalek, seharga Rp 3 juta. Dari jumlah itu, pelaku hanya menerima uang sebesar Rp 2,5 juta, sebab dipotong biaya administrasi sebesar Rp 500 ribu. Bukan hanya itu, ketika menggadaikan BPKB, korban tidak membawa bukti identitas lengkap, maka untuk administrasinya menggunakan identitas Ari Prasetyo yang merupakan teman dekat pelaku.

Jika terbukti bersalah pelaku dikenakan pasal 362 KUHP dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. “Setelah kami lakukan penyidikan, ternyata pelaku ini merupakan residivis kasus curanmor yang baru keluar Rutan Klas II B Trenggalek pada Mei kemarin,” jelas perwira polisi satu melati ini.

Sementara itu pelaku Indarwati, tidak mengelak semua tuduhan tersebut. Alasannya, pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, tidak cukup untuk biaya hidupnya dan ketiga anaknya. Sebab, dirinya lama bercerai dengan sang suami. “Semua hasil dari penggandaian BPKB itu saya buat untuk membayar kos, dan makan,” akunya. (*)

(rt/zak/dre/JPR)