Di saat semua mengarah ke digital, termasuk urusan penunjuk waktu, keahlian Alfian Suwanto memperbaiki jam tangan tetap diminati. Terutama bagi mereka yang menganggap jam tangan tak hanya dari fungsinya semata. Lewat tangan dinginnya, jam tua warisan orang tua hingga jam klasik berharga puluhan juta rupiah bisa berdetak kembali.

 IMRON HAQIQI

Toko yang berada di Jalan Sutan Syahrir, Kota Malang, ini bisa dibilang paling sepi dibandingkan kanan-kirinya. Namun, bukan berarti tidak ada aktivitas di toko servis jam milik Alfian Suwanto ini. Maklum saja, hanya orang-orang tertentu yang datang dan membutuhkan keahlian pria paro baya yang sudah 32 tahun menekuni pekerjaannya memperbaiki jam tangan.

Tak banyak yang terlihat di meja kerja tempat Alfian mengoprek jam tangan. Selain beberapa peralatan servis dan kaca pembesar, sejumlah jam yang menunggu diperbaiki ditempatkan di kotak tersendiri.

Sejumlah arloji ditempatkan di etalase berukuran tidak lebih dari 2 meter. Alfian menyebut, jam-jam itu adalah milik konsumennya yang sudah diperbaiki namun belum diambil sang pemiliknya. Meski tak pilih-pilih jenis jam, dia mengaku spesialisasinya adalah servis jam tangan atau arloji.

Bagi para penghobi arloji dan kolektor jam di Malang Raya, boleh jadi Alfian masuk dalam daftar tukang jam yang menjadi jujukan. Bahkan, sebagian konsumen dari luar kota juga memercayakan perbaikan arloji yang dikoleksi kepadanya.

Menurut Alfian, para penyuka arloji yang datang ke tokonya memiliki latar belakang beragam. Para langganannya mulai dari pejabat, dokter, pengusaha, hingga para penghobi yang memang punya koleksi banyak jam. Namun, dia juga tak pilih-pilih konsumen, selama bisa diperbaiki, arloji jenis apa pun bakal dihidupkan kembali. ”Tidak mungkinlah saya pilih-pilih konsumen. Siapa saja saya layani,” ujarnya.

Mulai serius menjadi tukang servis arloji sejak 1982, dia lebih banyak melakoni profesi itu sendiri alias tanpa anak buah atau karyawan. Menurut dia, memperbaiki arloji tidak hanya butuh pengetahuan tentang cara kerja jam, tapi juga harus ada passion dan ketelatenan. ”Dulu pernah merekrut karyawan, tapi kebanyakan ndak betah, mungkin karena kurang telaten,” terangnya.

Dia sendiri pun mahfum dengan kondisi tersebut karena memperbaiki jam yang rusak atau kurang berfungsi dengan baik harus memeriksa komponen dan part arloji yang kecil-kecil dan njlimet. Jadi, dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan seseorang yang membenahi. ”Disitulah makanya tidak banyak orang yang melakoni profesi ini,” ujarnya.

Dia lantas menceritakan prosesnya selama membenahi arloji. ”Komponen mesin arloji itu berbeda dengan komponen jam dinding. Secara sekilas memang tampak hampir sama semua, misalnya antara satu roda dengan roda yang lain, tapi sebetulnya berbeda. Karena itu, harus diperhatikan betul karena jika tidak tepat, otomatis akan rusak semua. Sedangkan arloji beda merek, beda tahun pembuatannya saja sudah beda cara membenahinya,” katanya.

Beberapa merek arloji yang diperbaiki di antaranya, Omega, Rado, Seiko, Lassale, Raymond Weil, dan beragam replika jam klasik, baik yang otomatis maupun yang menggunakan baterai.  Dari yang harganya di kisaran ratusan ribu hingga jutaan rupiah. ”Pernah juga saya perbaiki arloji merek Chopard yang harganya sekitar Rp 75 juta. Milik orang Jombang,” katanya.

Bapak dua anak ini sudah melakoni pekerjaannya sebagai tukang servis arloji sejak dia masih berusia 17 tahun. Dia mengaku waktu itu tidak ada lagi yang bisa dikerjakan kecuali sebagai servis jam. Selain itu, usaha ini merupakan warisan dari ayahnya yang juga seorang tukang servis jam di kawasan Pecinan, Jalan Pasar Besar.

Dia menceritakan waktu itu dia tidak diajari oleh ayahnya sebagaimana layaknya orang mengajari. ”Jam dibongkar, lalu oleh ayah ditinggal dan suruh membenahi sendiri, kan pasti bingung,” kenangnya. Tapi, berkat ketekunan dan ketelatenannya, akhirnya lama-kelamaan dia bisa membenahi sendiri dan saat ini sudah berjalan 32 tahun dia melakoni pekerjaan itu.

Pewarta               : *
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Ahmad Yani
Fotografer          : Rubianto