JawaPos.com – Hasil survei Voxpol Center Research and Consulting menyebutkan, terdapat tujuh partai politik (parpol) yang dimungkinkan gagal duduk di kursi parlemen. Namun masih dimungkinkan beberapa partai yang elektabilitasnya kurang dari empat persen dapat memperebutkan undecided voters yang mencapai 7,3 persen.

“Terdapat tiga partai berwajah lama dan empat partai baru berkemungkinan tidak lolos parliamentry threshold atau ambang batas parlemen,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago dalam keterangannya, Senin (11/3).

Dalam survei yang dilakukan Voxpol pada 24-6 Maret 2019, elektabilitas Partai Perindo hanya memperoleh angka sebesar 3,5 persen, kemudian partai Hanura hanya memperoleh elektabilitas sebesar 1,1 persen, selanjutnya PBB sebesar 0,8 persen.

Kemudian disusul partai Berkarya sebesar 0,7 persen, selanjutnya perolehan tingkat elektabilitas PSI sebasar 0,5 persen, berada posisi dua terakhir yakni PKPI sebesar 0,4 persen dan posisi elektabilitas paling bawah ditempati partai Garuda dengan perolehan tingkat elektabilitas partai sebesar 0,3 persen.

“Sementara dalam survei elektabilitas partai tersebut, yang belum memutuskan pilihan partai atau undecided voters masih di angka 7,3 persen,” ucap Pangi.

Dalam survei tersebut, Voxpol menemukan sembilan parpol yang dimungkinkan duduk di kursi parlemen di antaranya PDI-P, Gerindra, Golkar, PKB, Demokrat, Nasdem, PKS, PAN dan PPP.

Pangi menyebut, belum ada satu pun parpol baru yang dimungkinkan lolos ambang batas parlemen. Sehingga kursi di parlemen masih akan diduduki oleh partai berwajah lama.

Survei dilakukan melalui pemilihan responden secara acak atau multistage random sampling. Tingkat kesalahan alias margin of error kurang lebih 2,98 persen dengan melibatkan 1.220 responden di seluruh provinsi di Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas dengan selang kepercayaan survei ini adalah 95 persen.

Setiap responden terpilih diwawancarai dengan metode wawancara tatap muka oleh pewawancara yang terlatih secara khusus. Quality control dilakukan dengan mendatangi kembali 20 persen sampel responden yang ada kemudian terpilih secara acak. Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan secara berarti.

Editor           : Kuswandi

Reporter      : Muhammad Ridwan