Tak ada istilah tua dalam urusan asmara. Setidaknya begitulah kesimpulan pria asal Kepanjen, Kabupaten Malang, sebut saja namanya Markucel, 57. Meski pendapatan dari bekerja di Surabaya terbilang pas-pasan, dia tak ingin urusan libido juga ikut-ikutan gersang. Walaupun memiliki Markonah, 55, yang setia menunggunya pulang di Kepanjen, Markucel memilih mendua.

Ya, pensiunan abdi negara ini memang berusaha tetap terlihat gagah di usia mendekati senja. Rambut cepaknya disemir hitam klimis, sepatu yang dipakai juga rajin disikat hingga mengilat. Tak heran jika Srintil, 35, perawan tua, dibuat klepek-klepek dan pasrah saat Markucel mengajaknya hidup serumah di Surabaya.

Markucel pun merasakan hidupnya begitu lengkap. Di Surabaya, dia diladeni Srintil dan saat sambang ke Kepanjen dilayani Markonah. Namun,  sepintar-pintarnya don juan kampung ini menutupi kebohongannya, toh akhirnya terbongkar juga. Markonah yang mendapati suaminya jarang pulang dan kiriman uang terus berkurang, akhirnya tahu suaminya mendua. Markonah pun meminta cerai.

Karena masih punya Srintil, awalnya Markucel tak ambil pusing dengan ancaman Markonah. Dalam bayangannya, dia bisa lebih bebas layaknya biker HD WL (hidup damai dengan wanita lain). Dia semakin jarang pulang ke Kepanjen.

Sementara Srintil sendiri juga senang- senang saja hidup serumah dengan Markucel. Karena kebutuhan hidupnya dipenuhi  oleh pria yang lebih pantas menjadi ayahnya itu. Apa yang diinginkan selalu dituruti. Meski untuk urusan di ranjang, Srintil terpaksa sering gigit jari. Maklum saja, Markucel termasuk pria Gandi Semedi (ganas di awal, letoy semenit kemudian).

Tapi, karena makin sering kecewa di ranjang dan jatah bulanan kian berkurang, Srintil pun mulai pindah haluan. Apalagi Markucel lebih sering mengeluh sakit daripada mencari uang. Srintil akhirnya mengucapkan selamat tinggal kepada Markucel.

Sementara itu, Markonah sudah mantap melayangkan gugat cerai ke Pengadilan Agama Kabupaten Malang. ”Awalnya Markucel mengiyakan gugatan cerai klien saya. Tapi di tengah jalan, Markucel minta damai dan kembali bersatu,” ujar Moch. Asni, kuasa hukum Markonah. Nah, saat sidang mediasi, hakim sempat mengingatkan Markucel atas ulahnya berselingkuh. ”Sudah tua, jangan banyak tingkah, sudah tinggal tunggu waktu juga,” ujar Asni menirukan perkataan hakim. Melihat raut muka menyesal yang ditunjukkan Markucel, Markonah luluh juga. Don juan kampung ini akhirnya kembali ke pelukan istrinya karena Markonah bersedia mencabut gugatan cerainya.

Pewarta             :  Fajrus Shidiq
Copy Editor        :  Dwi Lindawati
Penyunting         :  Ahmad Yani
Ilustrasi             :  Andhi Wira