alexametrics
23 C
Malang
Wednesday, 25 May 2022

Investasi Ruwet Kondotel Malang, Pengelola Baru Ngaku Rugi Rp 39M

MALANG KOTA – Kasus investasi kondominium hotel (kondotel) Bluebells di Jalan Kedawung 45 kian rumit. Terbaru, pengelola baru kondotel yang kini berubah nama menjadi Damar Boutique Hotel itu mengaku mengalami kerugian Rp 39 miliar.

Penyebabnya, ada kewajiban dari pemilik lama, yakni M. Rudiono Kusuma, yang belum terpenuhi. Sehingga pengelola baru, yakni PT Citra Mandiri Cipta (CMC), harus menanggung banyak biaya untuk melanjutkan pembangunan unit yang mangkrak. Terutama untuk proyek tahap 2.

Proyek kondotel itu total ada 103 unit yang terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama ada 33 unit dan tahap kedua terdiri dari 70 unit. Ada 64 user yang mengklaim, dana yang masuk ke Rudiono selaku pemilik kondotel kisaran Rp 15 miliar. Namun, sejak 2018 membeli, user belum mendapatkan haknya sama sekali. Upaya user mempertanyakan nasib duit yang diinvestasikan sepertinya sudah menemui jalan buntu.

Ketika ada polemik itu, pada 3 Desember 2020, ada kesepakatan pengambilalihan Damar Hotel oleh PT CMC. Kala itu, proyek kondotel masih berdiri unit tahap 1. Untuk pembangunan unit tahap dua yang lokasinya di belakang unit 1 masih belum tergarap.

Setelah mengambil alih pengelolaan, PT CMC melakukan audiensi dengan para user pembeli unit tahap 1. Dari situ diketahui jika user untuk unit 2 juga bermasalah. Beberapa hari kemudian, PT CMC mengajak diskusi user unit 2. Disusul gathering gabungan para korban unit 1 dan unit 2.

Ketua Tim Kerja Damar Boutique Hotel Rezal Walyan mengatakan bahwa dirinya juga sebagai korban pemilik lama. Sebab, saat pengambilalihan, ada janji dari pihak pengelola lama, yakni PT Bluebells Wisata Indonesia (BWI), jika akan ada pembayaran 16 unit saat itu. Namun, ternyata belum ada sampai saat ini. Sehingga semua biaya pembangunan untuk tahap kedua ditanggung CMC semua.

”Jadi sementara ini CMC yang menalangi,” kata dia.

Dia menilai, kasus macetnya proses pembangunan kondotel itu harga per unit terlalu murah. Sehingga duit PT BWI tidak bisa diputar untuk biaya pembangunan. Di situlah Rudi–sapaan M. Rudiono Kusuma– rupanya mulai bingung. Apalagi dia ditagih terus oleh user.

”Ini yang sulit sebenarnya, revenue-nya (pendapatannya) tidak cukup. Lalu dibebankan kepada tenant, ada yang Rp 3 juta dikali 33 tenant di tahap satu, itu tidak pernah jelas konsepnya,” ucap dia.

Khusus masalah revenue untuk para pembeli, seharusnya rata-rata per bulan bisa mencapai Rp 60 juta. ”Sudah, jumlah tersebut pun nggak akan ketemu, kami sudah menghitungnya para tenant bisa dibilang tekor,” tegas Rezal.

Bahkan, pihak Rudi berani mengajukan surat pengakuan utang belum bayar revenue kepada PT CMC. Bahkan, Rudi juga pernah bayar dengan cek kosong.

”Kami tutup buku per 3 Desember lalu ada sekitar utang Rp 6 miliar kepada PT CMC yang harus dibayarkan oleh Rudi,” imbuh dia.

Tak cukup itu, utang terhadap nilai objek pun juga dimiliki oleh Rudi sebesar Rp 11,5 miliar. Rezal yang membantu PT CMC sejak Oktober 2020 itu melihat ada resistensi dalam kondotel. Dia menyebut PT CMC bisa saja cabut dari masalah tersebut. Namun, PT CMC masih memiliki keterikatan dengan para tenant Damar I yang harus diayomi. Pertemuan pun sempat dilakukan kepada para tenant tersebut beberapa waktu yang lalu.

Sementara diketahui bila nilai utang atau tanggungan per 19 Maret 2021 ialah sebesar Rp 39 miliar. Faktor membengkaknya biaya ialah infrastruktur yang kualitasnya menurun.

”Jadi sementara ini CMC yang menalangi, karena ibarat mobil yang mesti dirawat, bangunan pun harus ada maintenance-nya,” kata Rezal

Untuk menutup kerugian, Rezal membuat program devaluasi aset untuk mengembalikan kerugian para tenant. Karena itu, opsi pun ada dua yang ditawarkan oleh Rezal yakni jalur hukum dan hukum rimba.

”Tapi kembali lagi, apakah jalur hukum itu akan mengembalikan uang kerugian para tenant sebanyak Rp 36 miliar,” ungkap Rezal.

Cekcok pun sempat terjadi antara para tenant tahap I dan tahap II karena hal tersebut. Rezal memaklumi jika para tenant emosi terkait hal polemik kondotel yang tak kunjung selesai. Diakui Rezal, para tenant hanya pasrah menunggu keajaiban datang.

Untuk saat ini, kondotel tersebut masih dalam tahap renovasi. Rezal selaku pengelola pun mencoba merawat dengan dana dan tenaga seadanya. Targetnya, bulan Agustus sudah selesai dan mampu digunakan. Renovasi itu pun tak melibatkan Rudi karena dianggapnya bisa mempersulit. Dia sudah pusing menghadirkan Rudi ke forum rapat manajemen maupun para tenant. Problemnya sekarang, Rudi tidak mau mengakui kesalahannya hingga sekarang.

Total semua 64 tenant telah dipertemukan dengan Rudi melalui inisiatif Rezal pada bulan lalu. Rezal sudah berusaha semaksimal mungkin membantu Rudi membayar utangnya kepada PT CMC. Tetapi, dia selalu saja tak mau bertanggung jawab. (adn/biy/c1/abm)

MALANG KOTA – Kasus investasi kondominium hotel (kondotel) Bluebells di Jalan Kedawung 45 kian rumit. Terbaru, pengelola baru kondotel yang kini berubah nama menjadi Damar Boutique Hotel itu mengaku mengalami kerugian Rp 39 miliar.

Penyebabnya, ada kewajiban dari pemilik lama, yakni M. Rudiono Kusuma, yang belum terpenuhi. Sehingga pengelola baru, yakni PT Citra Mandiri Cipta (CMC), harus menanggung banyak biaya untuk melanjutkan pembangunan unit yang mangkrak. Terutama untuk proyek tahap 2.

Proyek kondotel itu total ada 103 unit yang terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama ada 33 unit dan tahap kedua terdiri dari 70 unit. Ada 64 user yang mengklaim, dana yang masuk ke Rudiono selaku pemilik kondotel kisaran Rp 15 miliar. Namun, sejak 2018 membeli, user belum mendapatkan haknya sama sekali. Upaya user mempertanyakan nasib duit yang diinvestasikan sepertinya sudah menemui jalan buntu.

Ketika ada polemik itu, pada 3 Desember 2020, ada kesepakatan pengambilalihan Damar Hotel oleh PT CMC. Kala itu, proyek kondotel masih berdiri unit tahap 1. Untuk pembangunan unit tahap dua yang lokasinya di belakang unit 1 masih belum tergarap.

Setelah mengambil alih pengelolaan, PT CMC melakukan audiensi dengan para user pembeli unit tahap 1. Dari situ diketahui jika user untuk unit 2 juga bermasalah. Beberapa hari kemudian, PT CMC mengajak diskusi user unit 2. Disusul gathering gabungan para korban unit 1 dan unit 2.

Ketua Tim Kerja Damar Boutique Hotel Rezal Walyan mengatakan bahwa dirinya juga sebagai korban pemilik lama. Sebab, saat pengambilalihan, ada janji dari pihak pengelola lama, yakni PT Bluebells Wisata Indonesia (BWI), jika akan ada pembayaran 16 unit saat itu. Namun, ternyata belum ada sampai saat ini. Sehingga semua biaya pembangunan untuk tahap kedua ditanggung CMC semua.

”Jadi sementara ini CMC yang menalangi,” kata dia.

Dia menilai, kasus macetnya proses pembangunan kondotel itu harga per unit terlalu murah. Sehingga duit PT BWI tidak bisa diputar untuk biaya pembangunan. Di situlah Rudi–sapaan M. Rudiono Kusuma– rupanya mulai bingung. Apalagi dia ditagih terus oleh user.

”Ini yang sulit sebenarnya, revenue-nya (pendapatannya) tidak cukup. Lalu dibebankan kepada tenant, ada yang Rp 3 juta dikali 33 tenant di tahap satu, itu tidak pernah jelas konsepnya,” ucap dia.

Khusus masalah revenue untuk para pembeli, seharusnya rata-rata per bulan bisa mencapai Rp 60 juta. ”Sudah, jumlah tersebut pun nggak akan ketemu, kami sudah menghitungnya para tenant bisa dibilang tekor,” tegas Rezal.

Bahkan, pihak Rudi berani mengajukan surat pengakuan utang belum bayar revenue kepada PT CMC. Bahkan, Rudi juga pernah bayar dengan cek kosong.

”Kami tutup buku per 3 Desember lalu ada sekitar utang Rp 6 miliar kepada PT CMC yang harus dibayarkan oleh Rudi,” imbuh dia.

Tak cukup itu, utang terhadap nilai objek pun juga dimiliki oleh Rudi sebesar Rp 11,5 miliar. Rezal yang membantu PT CMC sejak Oktober 2020 itu melihat ada resistensi dalam kondotel. Dia menyebut PT CMC bisa saja cabut dari masalah tersebut. Namun, PT CMC masih memiliki keterikatan dengan para tenant Damar I yang harus diayomi. Pertemuan pun sempat dilakukan kepada para tenant tersebut beberapa waktu yang lalu.

Sementara diketahui bila nilai utang atau tanggungan per 19 Maret 2021 ialah sebesar Rp 39 miliar. Faktor membengkaknya biaya ialah infrastruktur yang kualitasnya menurun.

”Jadi sementara ini CMC yang menalangi, karena ibarat mobil yang mesti dirawat, bangunan pun harus ada maintenance-nya,” kata Rezal

Untuk menutup kerugian, Rezal membuat program devaluasi aset untuk mengembalikan kerugian para tenant. Karena itu, opsi pun ada dua yang ditawarkan oleh Rezal yakni jalur hukum dan hukum rimba.

”Tapi kembali lagi, apakah jalur hukum itu akan mengembalikan uang kerugian para tenant sebanyak Rp 36 miliar,” ungkap Rezal.

Cekcok pun sempat terjadi antara para tenant tahap I dan tahap II karena hal tersebut. Rezal memaklumi jika para tenant emosi terkait hal polemik kondotel yang tak kunjung selesai. Diakui Rezal, para tenant hanya pasrah menunggu keajaiban datang.

Untuk saat ini, kondotel tersebut masih dalam tahap renovasi. Rezal selaku pengelola pun mencoba merawat dengan dana dan tenaga seadanya. Targetnya, bulan Agustus sudah selesai dan mampu digunakan. Renovasi itu pun tak melibatkan Rudi karena dianggapnya bisa mempersulit. Dia sudah pusing menghadirkan Rudi ke forum rapat manajemen maupun para tenant. Problemnya sekarang, Rudi tidak mau mengakui kesalahannya hingga sekarang.

Total semua 64 tenant telah dipertemukan dengan Rudi melalui inisiatif Rezal pada bulan lalu. Rezal sudah berusaha semaksimal mungkin membantu Rudi membayar utangnya kepada PT CMC. Tetapi, dia selalu saja tak mau bertanggung jawab. (adn/biy/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/