alexametrics
22.1 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Data Belum Lengkap, Catatan Ekspor Kota Malang Masih Kecil

MALANG KOTA – Capaian ekspor Kota Malang terbilang masih seret. Data resmi pada 2021 memang belum lengkap. Namun yang terdata sementara baru Rp 1,3 miliar. Padahal jika mengacu pada 2020 lalu, nilai ekspor tembus Rp 39 miliar.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Sailendra membenarkan hal tersebut. Angka tersebut memang relatif menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Komoditi terbanyak yang diekspor antara lain emas, tembakau iris, baby shoes, coconut filter, snack happytos dan teak furniture. “Jumlah komiditi terbanyak snack happytos,” ungkapnya.

Terkait rendahnya capaian pada 2021 sekitar Rp 1,3 miliar karena data yang masuk baru komoditi snack. Komoditi itu diekspor ke Singapura, Brunei Darussalam, Australia, Taiwan, China dan Filipina. “Dan itu juga dari komoditi snack happytos,” imbuhnya.

Meski awal pandemi juga sempat melemah, namun perlahan bisa kembali bangkit. Akan tetapi, peningkatan tentunya belum signifikan. “Sekitar 25 persen, dan didominasi sektor mamin dan fashion,” sebutnya.

Kemungkinan, menurut dia, adanya kenaikan nilai di sektor UMKM ini karena mamin (makanan minuman) tidak terdampak pandemi. “Karena itu masih menjadi kebutuhan pokok,” tambahnya.

Sedangkan untuk sektor fashion, lanjut dia, mereka kebetulan mendapatkan pangsa pasar baru skala Asia. Misalnya, di Asia tenggara dan Australia. “Kami memang fasilitasi mereka untuk mendapatkan buyer dari luar,” jelasnya.

Sampai saat ini pihaknya masih menunggu feedback positif berupa laporan dari UMKM. Lantaran, menurut dia, masih rendahnya nilai ekspor ini juga karena tingkat kesadaran UMKM untuk melapor pada Diskopindag masih minim. “Untuk UMKM masih kami minta untuk laporan secara resmi ke dinas,”ungkapnya.

Selama ini, pihaknya juga mengupayakan untuk terus meningkatkan nilai ekspor. Salah satunya dengan mensosialisasikan bagaimana cara mengekspor. Sebab, yang sering menjadi keluhan adalah mereka kesulitan tentang langkah-langkah pengeksporan. “Jadi kami berikan edukasi pada mereka, bahkan kami juga bekerjasama dengan kementerian untuk melakukan sosialisasi itu,” paparnya.

Selain itu, Diskopindag juga bekerjasama dengan stakeholder yang lain untuk mencari buyer luar negeri. “Meski masih pandemi kami intens berkoordinasi secara virtual,” ujarnya. Dengan begitu, mereka bisa mempunyai peluang untuk meningkatkan nilai ekspor.

Berbeda dengan ekspor, nilai impor justru tinggi. Tahun ini, dia menyebutkan nilai impor tembus Rp 655 miliar. Yakni dari komoditi flavour, tobacco, carbon molecular, paper printing, tipping paper dan cut rag tobacco. Komoditi itu impor dari Amerika, Singapura, Prancis, Itali, Polandia, China, Jerman, Hongkong, Arab, Malaysia, Selandia Baru dan Kanada. “Itu diimpor dari berbagai macam negara,” imbuhnya. (ulf/abm/rmc)

MALANG KOTA – Capaian ekspor Kota Malang terbilang masih seret. Data resmi pada 2021 memang belum lengkap. Namun yang terdata sementara baru Rp 1,3 miliar. Padahal jika mengacu pada 2020 lalu, nilai ekspor tembus Rp 39 miliar.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Sailendra membenarkan hal tersebut. Angka tersebut memang relatif menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Komoditi terbanyak yang diekspor antara lain emas, tembakau iris, baby shoes, coconut filter, snack happytos dan teak furniture. “Jumlah komiditi terbanyak snack happytos,” ungkapnya.

Terkait rendahnya capaian pada 2021 sekitar Rp 1,3 miliar karena data yang masuk baru komoditi snack. Komoditi itu diekspor ke Singapura, Brunei Darussalam, Australia, Taiwan, China dan Filipina. “Dan itu juga dari komoditi snack happytos,” imbuhnya.

Meski awal pandemi juga sempat melemah, namun perlahan bisa kembali bangkit. Akan tetapi, peningkatan tentunya belum signifikan. “Sekitar 25 persen, dan didominasi sektor mamin dan fashion,” sebutnya.

Kemungkinan, menurut dia, adanya kenaikan nilai di sektor UMKM ini karena mamin (makanan minuman) tidak terdampak pandemi. “Karena itu masih menjadi kebutuhan pokok,” tambahnya.

Sedangkan untuk sektor fashion, lanjut dia, mereka kebetulan mendapatkan pangsa pasar baru skala Asia. Misalnya, di Asia tenggara dan Australia. “Kami memang fasilitasi mereka untuk mendapatkan buyer dari luar,” jelasnya.

Sampai saat ini pihaknya masih menunggu feedback positif berupa laporan dari UMKM. Lantaran, menurut dia, masih rendahnya nilai ekspor ini juga karena tingkat kesadaran UMKM untuk melapor pada Diskopindag masih minim. “Untuk UMKM masih kami minta untuk laporan secara resmi ke dinas,”ungkapnya.

Selama ini, pihaknya juga mengupayakan untuk terus meningkatkan nilai ekspor. Salah satunya dengan mensosialisasikan bagaimana cara mengekspor. Sebab, yang sering menjadi keluhan adalah mereka kesulitan tentang langkah-langkah pengeksporan. “Jadi kami berikan edukasi pada mereka, bahkan kami juga bekerjasama dengan kementerian untuk melakukan sosialisasi itu,” paparnya.

Selain itu, Diskopindag juga bekerjasama dengan stakeholder yang lain untuk mencari buyer luar negeri. “Meski masih pandemi kami intens berkoordinasi secara virtual,” ujarnya. Dengan begitu, mereka bisa mempunyai peluang untuk meningkatkan nilai ekspor.

Berbeda dengan ekspor, nilai impor justru tinggi. Tahun ini, dia menyebutkan nilai impor tembus Rp 655 miliar. Yakni dari komoditi flavour, tobacco, carbon molecular, paper printing, tipping paper dan cut rag tobacco. Komoditi itu impor dari Amerika, Singapura, Prancis, Itali, Polandia, China, Jerman, Hongkong, Arab, Malaysia, Selandia Baru dan Kanada. “Itu diimpor dari berbagai macam negara,” imbuhnya. (ulf/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/