alexametrics
29C
Malang
Monday, 19 April 2021

64 Ribu Ton Gula Milik Petani Malang Akhirnya Terbayar Juga

MALANG – Manisnya tebu hasil panen periode 2020 lalu akhirnya bisa dirasakan petani Malang raya. Hal ini setelah gula sebanyak 64 ribu ton yang sempat mangkrak di dua pabrik gula (PG) yakni Krebet dan Kebon Agung terbeli semua. Bendahara Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M Kholiq mengatakan, transaksi pembayaran 42 ribu ton gula di PG Krebet telah terbayar Jumat lalu (26/2). ”Alhamdulillah, saat ini pembayaran sudah dilakukan secara penuh sebanyak Rp 427 miliar,” kata Kholiq saat dikonfirmasi kemarin (1/3).

Diketahui, gula sebanyak 42 ribu ton tersebut laku dengan harga Rp 10.600 per kilogram. Pembelinya adalah salah satu distributor gula nasional yang ada di Jakarta. Dampaknya, mulai hari ini (2/3) sekitar 17 ribu petani yang berada di bawah koordinasi PG Krebet akan segera mendapatkan hasil panennya secara bertahap. ”Sudah kami data dan akan kami lakukan pembayaran secara berkala. Nanti semua petani tebu akan mendapatkan labanya,” imbuh Kholiq.

Pria yang juga Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Malang itu menjelaskan, dengan rampungnya pembayaran ini maka rampung juga tugas APTRI. Utamanya dalam menjalankan tugas mengkoordinir penjualan gula milik petani. Namun agar tidak terulang kembali, dia berharap ke depan ada regulasi yang jelas tentang pembelian gula petani itu. Sehingga keterlambatan pembayaran seperti tahun ini bisa diminimalisir. ”Karena kasihan para petani di bawah. Mereka juga butuh biaya untuk menanam tebu lagi,” jelas Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Malang itu.

Senada, Ketua DPC APTRI PG Kebonagung Dwi Irianto mengatakan pembayaran hasil tebu kepada petani yang ada di naungan PG Kebonagung juga sudah dilaksanakan. Berbeda dengan PG Krebet, gula yang sempat ngendon di pabriknya laku lebih dulu pada pertengahan Februari, tepatnya Jumat (12/2). ”Gula kami terjual dengan harga Rp 10.650 perkilo,” kata Dwi.

Menurutnya, gula di Kebonagung bisa terjual lebih mahal karena memang jumlahnya lebih sedikit dari PG Krebet. Total gula yang sempat ngendon sekitar 22 ribu ton. Saat ini pihaknya masih dalam proses merampungkan semua pembayaran hasil tebu terhadap 19 ribu petani tebu yang menyetorkan gula di PG Kebon Agung. ”Proses pembayaran sudah kami mulai sejak bulan lalu. Saat ini kami hanya tinggal menyelesaikan yang kurang saja,” pungkas Dwi.

Terpisah, Ketua Pusat Koperasi Primer Tebu Rakyat (PKPTR) PG Krebet KH Hamim Kholili menyebut keterlibatan pemerintah dalam membuat regulasi tentang pembelian gula petani ini menjadi jalan untuk menyejahterakan petani tebu. Harapannya, pada importir gula tak seenaknya sendiri mendatangkan gula impor. ”Pemerintah daerah juga diharapkan punya keperdulian terhadap gula lokal. Caranya dengan membuat aturan atau anjuran agar masyarakat menggunakan gula produk daerah sendiri,” ujar pria yang akrab disapa Gus Hamim itu.

Hal ini mempertimbangkan status Kabupaten Malang sebagai salah satu daerah penghasil gula besar di Jawa Timur. Banyak warga Kabupaten Malang yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai petani tebu. ”Produk unggulan Kabupaten Malang itu di tebu. Artinya masyarakat Kabupaten Malang ini interaksi secara ekonominya juga berasal gula yang dihasilkan petanian tebu,” pungkas Gus Hamim. (rmc/fik/iik)

MALANG – Manisnya tebu hasil panen periode 2020 lalu akhirnya bisa dirasakan petani Malang raya. Hal ini setelah gula sebanyak 64 ribu ton yang sempat mangkrak di dua pabrik gula (PG) yakni Krebet dan Kebon Agung terbeli semua. Bendahara Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M Kholiq mengatakan, transaksi pembayaran 42 ribu ton gula di PG Krebet telah terbayar Jumat lalu (26/2). ”Alhamdulillah, saat ini pembayaran sudah dilakukan secara penuh sebanyak Rp 427 miliar,” kata Kholiq saat dikonfirmasi kemarin (1/3).

Diketahui, gula sebanyak 42 ribu ton tersebut laku dengan harga Rp 10.600 per kilogram. Pembelinya adalah salah satu distributor gula nasional yang ada di Jakarta. Dampaknya, mulai hari ini (2/3) sekitar 17 ribu petani yang berada di bawah koordinasi PG Krebet akan segera mendapatkan hasil panennya secara bertahap. ”Sudah kami data dan akan kami lakukan pembayaran secara berkala. Nanti semua petani tebu akan mendapatkan labanya,” imbuh Kholiq.

Pria yang juga Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Malang itu menjelaskan, dengan rampungnya pembayaran ini maka rampung juga tugas APTRI. Utamanya dalam menjalankan tugas mengkoordinir penjualan gula milik petani. Namun agar tidak terulang kembali, dia berharap ke depan ada regulasi yang jelas tentang pembelian gula petani itu. Sehingga keterlambatan pembayaran seperti tahun ini bisa diminimalisir. ”Karena kasihan para petani di bawah. Mereka juga butuh biaya untuk menanam tebu lagi,” jelas Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Malang itu.

Senada, Ketua DPC APTRI PG Kebonagung Dwi Irianto mengatakan pembayaran hasil tebu kepada petani yang ada di naungan PG Kebonagung juga sudah dilaksanakan. Berbeda dengan PG Krebet, gula yang sempat ngendon di pabriknya laku lebih dulu pada pertengahan Februari, tepatnya Jumat (12/2). ”Gula kami terjual dengan harga Rp 10.650 perkilo,” kata Dwi.

Menurutnya, gula di Kebonagung bisa terjual lebih mahal karena memang jumlahnya lebih sedikit dari PG Krebet. Total gula yang sempat ngendon sekitar 22 ribu ton. Saat ini pihaknya masih dalam proses merampungkan semua pembayaran hasil tebu terhadap 19 ribu petani tebu yang menyetorkan gula di PG Kebon Agung. ”Proses pembayaran sudah kami mulai sejak bulan lalu. Saat ini kami hanya tinggal menyelesaikan yang kurang saja,” pungkas Dwi.

Terpisah, Ketua Pusat Koperasi Primer Tebu Rakyat (PKPTR) PG Krebet KH Hamim Kholili menyebut keterlibatan pemerintah dalam membuat regulasi tentang pembelian gula petani ini menjadi jalan untuk menyejahterakan petani tebu. Harapannya, pada importir gula tak seenaknya sendiri mendatangkan gula impor. ”Pemerintah daerah juga diharapkan punya keperdulian terhadap gula lokal. Caranya dengan membuat aturan atau anjuran agar masyarakat menggunakan gula produk daerah sendiri,” ujar pria yang akrab disapa Gus Hamim itu.

Hal ini mempertimbangkan status Kabupaten Malang sebagai salah satu daerah penghasil gula besar di Jawa Timur. Banyak warga Kabupaten Malang yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai petani tebu. ”Produk unggulan Kabupaten Malang itu di tebu. Artinya masyarakat Kabupaten Malang ini interaksi secara ekonominya juga berasal gula yang dihasilkan petanian tebu,” pungkas Gus Hamim. (rmc/fik/iik)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru