alexametrics
30.6 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Harga Migor Mulai Terkendali, Kini Gantian Gas Elpiji Terusik

MALANG KOTA – Lonjakan harga minyak goreng (migor) selama Februari berhasil dikendalikan pemerintah melalui program satu harga dan operasi pasar. Itu terbukti dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut migor sebagai penyumbang deflasi bulan lalu. Sayang, lepas dari tekanan harga migor, masyarakat kini terusik dengan melejitnya harga gas elpiji nonsubsidi12 kilogram yang tembus Rp 200 ribu.

Penetapan satu harga migor pada awal Februari lalu memang lumayan manjur menyumbang angka deflasi.Porsinya pun cukup besar, yakni menyumbang penurunan hingga 14,41 persen.Atau bisa dikatakan memiliki andil sebesar -0,15 persen. ”Ya, minyak goreng mengalami deflasipada Februari. Berbeda jauh dengan Desember (2021) atau Januari (2022) yang ikut menyumbang inflasi,” kata Kepala BPS Kota Malang ErnyFatmaSetyoharini kemarin (1/3).

SUMBANG DEFLASI: Pekerja agen minyak goreng di kawasan Sanan mengisi jeriken dengan minyak goreng curah kemarin.
Meski belum stabil, harga minyak goreng di Malang relatif bisa dikendalikan. (Suharto/Radar Malang)

Tak hanya migor saja, Erny juga menjelaskan bahwa komoditas telur ayam ras dan cabai rawit sempat mengalami penurunan harga.Ketika itu, komoditas telur ayam ras mengalami penurunan harga sebesar 14,41 persen.Sementara untuk komoditas cabai rawit mengalami penurunan harga sebesar 19,45 persen.

Meski demikian, Erny menyebut penurunan harga pada tiga komoditas tersebut tak sampai membuat deflasi secara keseluruhan.Kota Malang masih mengalami inflasi di angka 0,18 persen.Lebih rendah dibanding inflasi bulan sebelumnya yang mencapai 0,52 persen.

Sementara itu, Masyarakat Kota Malang masih harus menghadapi kenaikan harga sejumlah komoditas, selain kedelai dan daging, kini harga gas elpiji juga ikut-ikutan melejit. Bahkan di level eceran atau untuk rumah tangga, harga elpiji ukuran 12 kilogram sudah menembus angka Rp 200 ribu.

Pantauan Jawa Pos Radar Malang di sejumlah agen besar, harga elpiji ukuran 5,5 kilogram naik dari sebelumnya Rp 65 ribu menjadi Rp 88 ribu. Begitu juga dengan harga elpiji ukuran 12 kilogram yang kini menjadi Rp 187 ribu dari harga sebelumnya Rp 163 ribu.

Kenaikan harga semacam itu bisa dijumpai di salah satu agen elpiji PT Mason Naraji.Agen yang terletak di Kecamatan Blimbing itu sudah dua bulan terakhir menjual harga elpiji nonsubsidi di atas harga normal.”Kami naikkan harga juga menyesuaikan dari pemasoknya, sudah dari Januari lalu,” kata Kepala Operasional PT Mason Naraji Made Ari Arjana saat ditemui kemarin (1/3).

Meski demikian, harga elpiji subsidi atau ukuran 3 kilogram tak mengalami kenaikan. Begitu juga dengan stok elpiji di agennya yang bisa mencukupi kebutuhan masyarakat.Stok elpiji sekitar 300-400 tabung per hari. Hanya saja, omzet dari penjualan tiap tabung tak bisa diandalkan cukup banyak.

Apalagi dengan adanya kenaikan harga elpiji non-subsidi, membuat masyarakat berbondong-bondong beralih ke gas bersubsidi. Sebelumnya, Made bisa menjual 13 ribu tabung elpiji nonsubsidi per pekan.Namun ketika terjadi kenaikan harga, penjualan melorot menjadi sekitar 4 ribu tabung. “Kalau (harga) naik nggak masalah, kalau bisa harga elpiji subsidi bisa disesuaikan juga,” harap Made.

Menanggapi hal itu, Section Head Communication Pertamina Patra Niaga Jawa Timur Bali Nusa Tenggara (Jatimbalinus) AryaYusaDwicandra menyatakan, kenaikan harga elpiji dipicu tren harga Contract Price Aramco (CPA) terus meningkat pada Februari mencapai 775 USD/Metrik Ton (MT). Atau dengan kata lain, lebih tinggi 21 persen dari rata-rata CPA sepanjang tahun 2021.

Tak hanya itu, kondisi geopolitik yang memanas di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina juga menjadi penyebab harga gas ikut naik. ”Meski demikian, stok tabung elpiji di Malang Raya masih aman. Jadi harga yang terjual saat ini merupakan penyesuaian,” bebernya.

Arya melanjutkan, pihaknya memastikan penyesuaian harga hanya berlaku untuk gas nonsubsidi, seperti Bright Gas yang porsi konsumsinya hanya 7 persen. Penyesuaian harga yang berlaku sejak 27 Februari lalu itu juga telah mempertimbangkan kondisi serta kemampuan pasar gas nonsubsidi. Di Malang, kebutuhan elpiji subsidi mencapai 133 ribu tabung per hari. Sementara elpiji nonsubsidi mencapai 3 ribu tabung per hari.(adn/fat)

 

MALANG KOTA – Lonjakan harga minyak goreng (migor) selama Februari berhasil dikendalikan pemerintah melalui program satu harga dan operasi pasar. Itu terbukti dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut migor sebagai penyumbang deflasi bulan lalu. Sayang, lepas dari tekanan harga migor, masyarakat kini terusik dengan melejitnya harga gas elpiji nonsubsidi12 kilogram yang tembus Rp 200 ribu.

Penetapan satu harga migor pada awal Februari lalu memang lumayan manjur menyumbang angka deflasi.Porsinya pun cukup besar, yakni menyumbang penurunan hingga 14,41 persen.Atau bisa dikatakan memiliki andil sebesar -0,15 persen. ”Ya, minyak goreng mengalami deflasipada Februari. Berbeda jauh dengan Desember (2021) atau Januari (2022) yang ikut menyumbang inflasi,” kata Kepala BPS Kota Malang ErnyFatmaSetyoharini kemarin (1/3).

SUMBANG DEFLASI: Pekerja agen minyak goreng di kawasan Sanan mengisi jeriken dengan minyak goreng curah kemarin.
Meski belum stabil, harga minyak goreng di Malang relatif bisa dikendalikan. (Suharto/Radar Malang)

Tak hanya migor saja, Erny juga menjelaskan bahwa komoditas telur ayam ras dan cabai rawit sempat mengalami penurunan harga.Ketika itu, komoditas telur ayam ras mengalami penurunan harga sebesar 14,41 persen.Sementara untuk komoditas cabai rawit mengalami penurunan harga sebesar 19,45 persen.

Meski demikian, Erny menyebut penurunan harga pada tiga komoditas tersebut tak sampai membuat deflasi secara keseluruhan.Kota Malang masih mengalami inflasi di angka 0,18 persen.Lebih rendah dibanding inflasi bulan sebelumnya yang mencapai 0,52 persen.

Sementara itu, Masyarakat Kota Malang masih harus menghadapi kenaikan harga sejumlah komoditas, selain kedelai dan daging, kini harga gas elpiji juga ikut-ikutan melejit. Bahkan di level eceran atau untuk rumah tangga, harga elpiji ukuran 12 kilogram sudah menembus angka Rp 200 ribu.

Pantauan Jawa Pos Radar Malang di sejumlah agen besar, harga elpiji ukuran 5,5 kilogram naik dari sebelumnya Rp 65 ribu menjadi Rp 88 ribu. Begitu juga dengan harga elpiji ukuran 12 kilogram yang kini menjadi Rp 187 ribu dari harga sebelumnya Rp 163 ribu.

Kenaikan harga semacam itu bisa dijumpai di salah satu agen elpiji PT Mason Naraji.Agen yang terletak di Kecamatan Blimbing itu sudah dua bulan terakhir menjual harga elpiji nonsubsidi di atas harga normal.”Kami naikkan harga juga menyesuaikan dari pemasoknya, sudah dari Januari lalu,” kata Kepala Operasional PT Mason Naraji Made Ari Arjana saat ditemui kemarin (1/3).

Meski demikian, harga elpiji subsidi atau ukuran 3 kilogram tak mengalami kenaikan. Begitu juga dengan stok elpiji di agennya yang bisa mencukupi kebutuhan masyarakat.Stok elpiji sekitar 300-400 tabung per hari. Hanya saja, omzet dari penjualan tiap tabung tak bisa diandalkan cukup banyak.

Apalagi dengan adanya kenaikan harga elpiji non-subsidi, membuat masyarakat berbondong-bondong beralih ke gas bersubsidi. Sebelumnya, Made bisa menjual 13 ribu tabung elpiji nonsubsidi per pekan.Namun ketika terjadi kenaikan harga, penjualan melorot menjadi sekitar 4 ribu tabung. “Kalau (harga) naik nggak masalah, kalau bisa harga elpiji subsidi bisa disesuaikan juga,” harap Made.

Menanggapi hal itu, Section Head Communication Pertamina Patra Niaga Jawa Timur Bali Nusa Tenggara (Jatimbalinus) AryaYusaDwicandra menyatakan, kenaikan harga elpiji dipicu tren harga Contract Price Aramco (CPA) terus meningkat pada Februari mencapai 775 USD/Metrik Ton (MT). Atau dengan kata lain, lebih tinggi 21 persen dari rata-rata CPA sepanjang tahun 2021.

Tak hanya itu, kondisi geopolitik yang memanas di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina juga menjadi penyebab harga gas ikut naik. ”Meski demikian, stok tabung elpiji di Malang Raya masih aman. Jadi harga yang terjual saat ini merupakan penyesuaian,” bebernya.

Arya melanjutkan, pihaknya memastikan penyesuaian harga hanya berlaku untuk gas nonsubsidi, seperti Bright Gas yang porsi konsumsinya hanya 7 persen. Penyesuaian harga yang berlaku sejak 27 Februari lalu itu juga telah mempertimbangkan kondisi serta kemampuan pasar gas nonsubsidi. Di Malang, kebutuhan elpiji subsidi mencapai 133 ribu tabung per hari. Sementara elpiji nonsubsidi mencapai 3 ribu tabung per hari.(adn/fat)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/