alexametrics
32C
Malang
Monday, 19 April 2021

Tren Transaksi Digital di Malang Raya Terus Meningkat

MALANG KOTA – Tren transaksi menggunakan sistem digital di Malang Raya berkembang pesat. Di wilayah kerja kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang misalnya, terjadi peningkatan 360 persen untuk pengguna QRIS (Quick Response Indonesia Standard) dalam tiga tahun terakhir.

QRIS merupakan standardisasi pembayaran menggunakan metode QR code dari BI. Sistem ini menyatukan semua sistem pembayaran digital, misalnya GoPay, OVO, maupun e-money milik bank.

Tren peningkatan transaksi digital menggunakan QRIS itu terungkap dalam data kantor Perwakilan BI Malang. Saat pertama kali diluncurkan pada 2019 lalu, QRIS hanya dipakai sekitar 31 ribu merchant (pedagang). Kini bertambah menjadi 140 ribu merchant. Mayoritas berada di Kabupaten Malang, yakni 110 ribu merchant. ”Serapan merchant yang memiliki QRIS ini di Kota Malang dan Kabupaten Malang itu 70 sampai 80 persen,” jelas Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan Aminurridho.

Sisanya yang 20 persen itu tersebar di lima wilayah kerja BI Malang, seperti Kota Batu, Pasuruan, dan Probolinggo. Oleh karena itu, dengan menggalakkan sosialisasi QRIS Go 12 Juta Merchant kepada penyedia jasa sistem pembayaran (PJSP).

Untuk diketahui, QRIS ada dua jenis. Yaitu QRIS customer presented mode (CPM) atau model QRIS yang dimiliki oleh konsumen. Sedangkan jenis lainnya adalah QRIS merchant presented mode (MPM) atau QRIS yang dimiliki oleh merchant. ”Gerakan Go 12 Juta Merchant ini akumulasi, yang tahun 2020 sudah ada 6 juta merchant. Jadi harus nambah 6 juta merchant lagi (tahun 2021 ini) secara nasional,” kata Azka.

Dari tambahan 6 juta merchant itu, wilayah kerja BI Malang itu setidaknya bisa menyerap 238 ribu target merchant. ”Kita sudah di 136 ribu merchant, jadi nambah 100–110 ribu merchant setahun,” jelasnya.

PJSP yang diundang ada 18 bank dan 5 nonbank, seperti Linkaja, GoPay, ShopeePay, OVO, dan Dana. Para PJSP itulah yang menawarkan kepada pengusaha, UMKM, merchant, atau outlet untuk menggunakan QRIS. Untuk diketahui, penggunaan QR code dalam alternatif pembayaran digital saat ini sudah memiliki banyak pengguna. Hanya permasalahannya, masing-masing PJSP mengeluarkan QR code-nya sendiri.

Sehingga saat bertransaksi, antara konsumen dengan merchant harus memiliki PJSP yang sama. Hal ini akan menyulitkan proses transaksi. Oleh karena itu, BI berharap dengan para PJSP menggunakan QRIS sebagai kanal untuk memudahkan proses transaksi pembayaran. Perbedaan merchant sebelum menggunakan QRIS harus memiliki akun pada setiap penyedia jasa sistem pembayaran. Sedangkan jika sudah memiliki QRIS konsumen bisa melakukan scan QR code dari setiap penyedia jasa. (rmcref/dan)

MALANG KOTA – Tren transaksi menggunakan sistem digital di Malang Raya berkembang pesat. Di wilayah kerja kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang misalnya, terjadi peningkatan 360 persen untuk pengguna QRIS (Quick Response Indonesia Standard) dalam tiga tahun terakhir.

QRIS merupakan standardisasi pembayaran menggunakan metode QR code dari BI. Sistem ini menyatukan semua sistem pembayaran digital, misalnya GoPay, OVO, maupun e-money milik bank.

Tren peningkatan transaksi digital menggunakan QRIS itu terungkap dalam data kantor Perwakilan BI Malang. Saat pertama kali diluncurkan pada 2019 lalu, QRIS hanya dipakai sekitar 31 ribu merchant (pedagang). Kini bertambah menjadi 140 ribu merchant. Mayoritas berada di Kabupaten Malang, yakni 110 ribu merchant. ”Serapan merchant yang memiliki QRIS ini di Kota Malang dan Kabupaten Malang itu 70 sampai 80 persen,” jelas Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan Aminurridho.

Sisanya yang 20 persen itu tersebar di lima wilayah kerja BI Malang, seperti Kota Batu, Pasuruan, dan Probolinggo. Oleh karena itu, dengan menggalakkan sosialisasi QRIS Go 12 Juta Merchant kepada penyedia jasa sistem pembayaran (PJSP).

Untuk diketahui, QRIS ada dua jenis. Yaitu QRIS customer presented mode (CPM) atau model QRIS yang dimiliki oleh konsumen. Sedangkan jenis lainnya adalah QRIS merchant presented mode (MPM) atau QRIS yang dimiliki oleh merchant. ”Gerakan Go 12 Juta Merchant ini akumulasi, yang tahun 2020 sudah ada 6 juta merchant. Jadi harus nambah 6 juta merchant lagi (tahun 2021 ini) secara nasional,” kata Azka.

Dari tambahan 6 juta merchant itu, wilayah kerja BI Malang itu setidaknya bisa menyerap 238 ribu target merchant. ”Kita sudah di 136 ribu merchant, jadi nambah 100–110 ribu merchant setahun,” jelasnya.

PJSP yang diundang ada 18 bank dan 5 nonbank, seperti Linkaja, GoPay, ShopeePay, OVO, dan Dana. Para PJSP itulah yang menawarkan kepada pengusaha, UMKM, merchant, atau outlet untuk menggunakan QRIS. Untuk diketahui, penggunaan QR code dalam alternatif pembayaran digital saat ini sudah memiliki banyak pengguna. Hanya permasalahannya, masing-masing PJSP mengeluarkan QR code-nya sendiri.

Sehingga saat bertransaksi, antara konsumen dengan merchant harus memiliki PJSP yang sama. Hal ini akan menyulitkan proses transaksi. Oleh karena itu, BI berharap dengan para PJSP menggunakan QRIS sebagai kanal untuk memudahkan proses transaksi pembayaran. Perbedaan merchant sebelum menggunakan QRIS harus memiliki akun pada setiap penyedia jasa sistem pembayaran. Sedangkan jika sudah memiliki QRIS konsumen bisa melakukan scan QR code dari setiap penyedia jasa. (rmcref/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru