alexametrics
22.7 C
Malang
Thursday, 26 May 2022

Triwulan Pertama Penjualan Mobil Merek Favorit Bisa Catat Kenaikan

MALANG KOTA– Meski masih dalam situasi pandemi Covid-19, kinerja penjualan mobil di Kota Malang pada triwulan pertama tahun ini sangat menggembirakan. Itu bisa dilihat dari penjualan jenisjenis mobil-mobil terlaris yang ada di masing-masing dealer. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kenaikannya bahkan bisa menyentuh angka 85 persen. Contohnya penjualan mobil di dealer Toyota Toyota Auto 2000 Jalan Letjen Sutoyo.

Menurut Marketing Sales Supervisor M. Indra Pamungkas, penjualan pada triwulan pertama tahun ini mencapai 269 unit. Jauh di atas penjualan pada triwulan pertama 2021 yang tercatat 151 unit (naik 78 persen). Produk terlaris masih Toyota Avanza yang mencatatkan penjualan 115 unit. Naik drastis (160 persen) dibanding triwulan pertama tahun lalu yang terjual 44 unit.

Penjualan Kijang Innova juga naik dari 19 unit menjadi 36 unit (89 persen). Menurut Indra, kenaikan penjualan itu ditunjang banyak faktor. “Salah satunya kebijakan penurunan tarif PPnBM DTP pada tahun 2021 lalu,” ujarnya. Karena itulah, tren penjualan mobil memang terus meningkat sejak semester dua tahun 2001.

Dengan kebijakan pajak penjualan barang mewah ditanggung pemerintah 100 persen, pelaku usaha di bidang otomotif dan konsumen sama-sama untung. Penjualan meningkat, sementara masyarakat bisa mendapatkan mobil dengan harga yang lebih terjangkau. Tren kenaikan penjualan mobil juga diungkapkan Branch Manager Suzuki SBT Malang PT Sejahtera Buana Trada Angga Dwi Suwarno. Pada triwulan pertama tahun ini, dia menyebutkan penjualan sejumlah mobil terlaris Suzuki. Di antaranya, All New Suzuki Carry yang penjualannya mencapai 117 unit, naik sekitar 60 persen dibandingkan triwulan pertama tahun lalu yang tercatat 73 unit.

Begitu juga dengan produk andalan Suzuki Ertiga yang mengalami peningkatan penjualan dari 42 unit menjadi 94 unit (123 persen). Angga lantas membagikan salah satu kisah pembelinya yang merupakan pedagang buah di jalanan Kota Malang. Awalnya pedagang tersebut menjajakan buah menggunakan mobil pikap sewaan. ”Per hari dia bayar sewa mobil Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu,” ujar Angga. Angga tidak langsung menawarkan produknya kepada pedagang yang sebenarnya belum berniat membeli mobil pikap itu. Dia hanya mengajaknya berhitung tentang keuntungan penjualan buah yang tergerus biaya bayar sewa kendaraan.

Setelah dihitung, biaya sewa harian itu bisa digunakan untuk membayar cicilan mobil pikap. ”Yang berat memang pada saat membayar uang mukanya saja. Tapi pada akhirnya pedagang itu membeli mobil pikap,” ujarnya. Kenaikan penjualan mobil bahkan bisa didukung faktor yang cenderung anomali. Misalnya saat banyak perusahaan yang kolaps akibat pandemi pada pertengahan 2021. Tak sedikit di antara perusahaan-perusahaan itu yang melakukan PHK besar-besaran.

Beberapa karyawan memutuskan untuk menggunakan pesangon mereka untuk membeli mobil dan beralih menjadi driver taksi online. Seperti yang diungkapkan Galih Pamungkas, pria asal Dinoyo yang telah 15 tahun menjabat sebagai supervisor di sebuah pabrik di Surabaya. Pada Maret 2021, dia terkena pemutusan hubungan kerja dan memutuskan untuk pulang ke Kota Malang. Pesangon yang dia dapatkan dibelikan mobil dan dijadikan taksi online. ”Teman-teman sejawat saya yang kena PHK juga pada membeli mobil. Malah ada yang membuka bisnis travel,” katanya.

Kenaikan penjualan juga terjadi pada brand Honda. Misalnya yang dituturkan Sales Supervisor Honda Mandalasena Malang Rizku Al Fajr. Menurutnya, kenaikan penjualan mobil-mobil Honda pada triwulan pertama tahun ini mencapai 50 persen hingga 80 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. ”Yang menyumbang penjualan terbesar masih Honda Brio,” ujarnya. Begitu juga dengan brand Daihatsu. Supervisor Astra Daihatsu Ahmad Yani Malang Wahyu Candra Kurniawan, menuturkan bahwa penjualan pada triwulan pertama tahun ini naik dibandingkan tahun lalu.

”Terutama Ayla, Sigra, dan GranMax pick up yang memiliki kontribusi 60 persen dari penjualan,” kata dia. Melihat kenaikan penjualan mobil di Kota Malang, peneliti senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB Joko Budi Santoso menilai tren itu berdampak baik bagi pemulihan ekonomi di Kota Malang. Sebab, mobil juga diposisikan sebagai bagian dari input produksi. ”Misalnya, mobil untuk bisnis travel, logistik, dan operasional dinas pemerintahan dan perkantoran swasta,” ujarnya. Menurut Joko, sektor transportasi juga akan membawa multiplier effect ke sektor usaha lainnya, seperti bengkel, spare part, dan oli.

Dia lantas mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Maret 2022 yang menyebut mobil menjadi komoditas tertinggi kedua penyumbang inflasi dengan andil 0,10 persen. Joko melihat hal itu sebagai salah satu tanda pergerakan positif sektor dunia usaha. Seperti pembelian mobil yang dilakukan oleh perorangan yang selanjutnya disewakan ke agen travel. Lalu, pembelian mobil oleh kantor untuk operasional. Juga pembelian mobil jenis pikap untuk menjajakan usaha. ”Tren kenaikan penjualan mobil ini juga menandakan daya beli masyarakat naik. Apalagi jika sektor swasta menambah unit mobil, itu mengindikasikan industri dan jasa sudah bangkit,” pungkas Joko. (rb5/fat)

 

MALANG KOTA– Meski masih dalam situasi pandemi Covid-19, kinerja penjualan mobil di Kota Malang pada triwulan pertama tahun ini sangat menggembirakan. Itu bisa dilihat dari penjualan jenisjenis mobil-mobil terlaris yang ada di masing-masing dealer. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kenaikannya bahkan bisa menyentuh angka 85 persen. Contohnya penjualan mobil di dealer Toyota Toyota Auto 2000 Jalan Letjen Sutoyo.

Menurut Marketing Sales Supervisor M. Indra Pamungkas, penjualan pada triwulan pertama tahun ini mencapai 269 unit. Jauh di atas penjualan pada triwulan pertama 2021 yang tercatat 151 unit (naik 78 persen). Produk terlaris masih Toyota Avanza yang mencatatkan penjualan 115 unit. Naik drastis (160 persen) dibanding triwulan pertama tahun lalu yang terjual 44 unit.

Penjualan Kijang Innova juga naik dari 19 unit menjadi 36 unit (89 persen). Menurut Indra, kenaikan penjualan itu ditunjang banyak faktor. “Salah satunya kebijakan penurunan tarif PPnBM DTP pada tahun 2021 lalu,” ujarnya. Karena itulah, tren penjualan mobil memang terus meningkat sejak semester dua tahun 2001.

Dengan kebijakan pajak penjualan barang mewah ditanggung pemerintah 100 persen, pelaku usaha di bidang otomotif dan konsumen sama-sama untung. Penjualan meningkat, sementara masyarakat bisa mendapatkan mobil dengan harga yang lebih terjangkau. Tren kenaikan penjualan mobil juga diungkapkan Branch Manager Suzuki SBT Malang PT Sejahtera Buana Trada Angga Dwi Suwarno. Pada triwulan pertama tahun ini, dia menyebutkan penjualan sejumlah mobil terlaris Suzuki. Di antaranya, All New Suzuki Carry yang penjualannya mencapai 117 unit, naik sekitar 60 persen dibandingkan triwulan pertama tahun lalu yang tercatat 73 unit.

Begitu juga dengan produk andalan Suzuki Ertiga yang mengalami peningkatan penjualan dari 42 unit menjadi 94 unit (123 persen). Angga lantas membagikan salah satu kisah pembelinya yang merupakan pedagang buah di jalanan Kota Malang. Awalnya pedagang tersebut menjajakan buah menggunakan mobil pikap sewaan. ”Per hari dia bayar sewa mobil Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu,” ujar Angga. Angga tidak langsung menawarkan produknya kepada pedagang yang sebenarnya belum berniat membeli mobil pikap itu. Dia hanya mengajaknya berhitung tentang keuntungan penjualan buah yang tergerus biaya bayar sewa kendaraan.

Setelah dihitung, biaya sewa harian itu bisa digunakan untuk membayar cicilan mobil pikap. ”Yang berat memang pada saat membayar uang mukanya saja. Tapi pada akhirnya pedagang itu membeli mobil pikap,” ujarnya. Kenaikan penjualan mobil bahkan bisa didukung faktor yang cenderung anomali. Misalnya saat banyak perusahaan yang kolaps akibat pandemi pada pertengahan 2021. Tak sedikit di antara perusahaan-perusahaan itu yang melakukan PHK besar-besaran.

Beberapa karyawan memutuskan untuk menggunakan pesangon mereka untuk membeli mobil dan beralih menjadi driver taksi online. Seperti yang diungkapkan Galih Pamungkas, pria asal Dinoyo yang telah 15 tahun menjabat sebagai supervisor di sebuah pabrik di Surabaya. Pada Maret 2021, dia terkena pemutusan hubungan kerja dan memutuskan untuk pulang ke Kota Malang. Pesangon yang dia dapatkan dibelikan mobil dan dijadikan taksi online. ”Teman-teman sejawat saya yang kena PHK juga pada membeli mobil. Malah ada yang membuka bisnis travel,” katanya.

Kenaikan penjualan juga terjadi pada brand Honda. Misalnya yang dituturkan Sales Supervisor Honda Mandalasena Malang Rizku Al Fajr. Menurutnya, kenaikan penjualan mobil-mobil Honda pada triwulan pertama tahun ini mencapai 50 persen hingga 80 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. ”Yang menyumbang penjualan terbesar masih Honda Brio,” ujarnya. Begitu juga dengan brand Daihatsu. Supervisor Astra Daihatsu Ahmad Yani Malang Wahyu Candra Kurniawan, menuturkan bahwa penjualan pada triwulan pertama tahun ini naik dibandingkan tahun lalu.

”Terutama Ayla, Sigra, dan GranMax pick up yang memiliki kontribusi 60 persen dari penjualan,” kata dia. Melihat kenaikan penjualan mobil di Kota Malang, peneliti senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB Joko Budi Santoso menilai tren itu berdampak baik bagi pemulihan ekonomi di Kota Malang. Sebab, mobil juga diposisikan sebagai bagian dari input produksi. ”Misalnya, mobil untuk bisnis travel, logistik, dan operasional dinas pemerintahan dan perkantoran swasta,” ujarnya. Menurut Joko, sektor transportasi juga akan membawa multiplier effect ke sektor usaha lainnya, seperti bengkel, spare part, dan oli.

Dia lantas mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Maret 2022 yang menyebut mobil menjadi komoditas tertinggi kedua penyumbang inflasi dengan andil 0,10 persen. Joko melihat hal itu sebagai salah satu tanda pergerakan positif sektor dunia usaha. Seperti pembelian mobil yang dilakukan oleh perorangan yang selanjutnya disewakan ke agen travel. Lalu, pembelian mobil oleh kantor untuk operasional. Juga pembelian mobil jenis pikap untuk menjajakan usaha. ”Tren kenaikan penjualan mobil ini juga menandakan daya beli masyarakat naik. Apalagi jika sektor swasta menambah unit mobil, itu mengindikasikan industri dan jasa sudah bangkit,” pungkas Joko. (rb5/fat)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/