alexametrics
29 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Telur dan Ayam Picu Inflasi Kota Malang di April 2021

MALANG KOTA – Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,10 persen pada bulan April. Salah satu komoditas penyumbang inflasi adalah ayam potong dan telur. Dari delapan kota yang masuk dalam Indeks harga Konsumen (IHK), kesemuanya mengalami inflasi.

Inflasi tertinggi tercatat di Sumenep sebesar 0,53 persen. Dan inflasi terendah terjadi di Banyuwangi sebesar 0,02 persen. Hal ini terungkap dalam rilis yang dibeberkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang hari ini (3/5).

Kepala BPS Kota Malang Erny Fatma Setyoharini mengatakan, inflasi ini terjadi akibat kenaikan dari beberapa kelompok pengeluaran. Pada periode April ini, komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, pisang, anggur, daging sapi, cabai merah, bubur, bakso siap santap, semangka, dan sepeda anak.

“Sementara dari 11 kelompok pengeluaran, 9 diantaranya memberikan andil inflasi, 1 kelompok menyumbang deflasi dan satunya lagi tidak memberikan andil apa-apa,” rinci Erny.

Kesembilan kelompok pengeluaran tersebut antara lain kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,07 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi 0,08 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,07 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi sebesar 0,18 persen. Kelompok pengeluaran kesehatan juga mengalami inflasi sebesar 0,02 persen.

Kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar -0,04 persen. Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan juga mengalami inflasi sebesar 0,02 persen. Kelompok rekreasi, olahraga dan budaya mengalamu inflasi 0,03 persen. Kelompok pengeluaran pendidikan tidak mengalami inflasi.

Kelompok penyedia makanan dan minuman /restoran mengalami kenaikan 0,03 persen. Dan perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,34 persen. “Di sisi lain ada komoditas yang mengalami deflasi,” lanjutnya.

Antara lain cabe rawit turun 37,9 persen, vitamin turun 5,6 persen, bawang merah turun 3,3 persen, kacang panjang turun 7,7 persen, beras turun 0,2 persen, nangka muda turun 17,1 persen. Lalu buah pir turun 5,4 persen, labu siam turun 6,9 persen, tomat turun 4,7 persen dan kangkung 3,6 persen.

Pewarta: Intan Refa S

MALANG KOTA – Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,10 persen pada bulan April. Salah satu komoditas penyumbang inflasi adalah ayam potong dan telur. Dari delapan kota yang masuk dalam Indeks harga Konsumen (IHK), kesemuanya mengalami inflasi.

Inflasi tertinggi tercatat di Sumenep sebesar 0,53 persen. Dan inflasi terendah terjadi di Banyuwangi sebesar 0,02 persen. Hal ini terungkap dalam rilis yang dibeberkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang hari ini (3/5).

Kepala BPS Kota Malang Erny Fatma Setyoharini mengatakan, inflasi ini terjadi akibat kenaikan dari beberapa kelompok pengeluaran. Pada periode April ini, komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, pisang, anggur, daging sapi, cabai merah, bubur, bakso siap santap, semangka, dan sepeda anak.

“Sementara dari 11 kelompok pengeluaran, 9 diantaranya memberikan andil inflasi, 1 kelompok menyumbang deflasi dan satunya lagi tidak memberikan andil apa-apa,” rinci Erny.

Kesembilan kelompok pengeluaran tersebut antara lain kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,07 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi 0,08 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,07 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi sebesar 0,18 persen. Kelompok pengeluaran kesehatan juga mengalami inflasi sebesar 0,02 persen.

Kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar -0,04 persen. Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan juga mengalami inflasi sebesar 0,02 persen. Kelompok rekreasi, olahraga dan budaya mengalamu inflasi 0,03 persen. Kelompok pengeluaran pendidikan tidak mengalami inflasi.

Kelompok penyedia makanan dan minuman /restoran mengalami kenaikan 0,03 persen. Dan perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,34 persen. “Di sisi lain ada komoditas yang mengalami deflasi,” lanjutnya.

Antara lain cabe rawit turun 37,9 persen, vitamin turun 5,6 persen, bawang merah turun 3,3 persen, kacang panjang turun 7,7 persen, beras turun 0,2 persen, nangka muda turun 17,1 persen. Lalu buah pir turun 5,4 persen, labu siam turun 6,9 persen, tomat turun 4,7 persen dan kangkung 3,6 persen.

Pewarta: Intan Refa S

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru