alexametrics
20.5 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

“Pedasnya” Harga Cabai Bisa Picu Inflasi di Kota Malang

MALANG KOTA – Naiknya sejumlah harga kebutuhan pangan sejak bulan Desember lalu tak hanya mengakibatkan masyarakat merogoh koceknya lebih dalam. Namun juga berpengaruh pada tingkat inflasi di Kota Malang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bila kondisi itu mengakibatkan tingkat inflasi Kota Malang pada bulan lalu berada di angka 0,73 persen.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi selama tiga bulan terakhir. Bahkan inflasi Kota Malang lebih tinggi dari Kota Surabaya, yang hanya 0,65 persen. Bila dilihat lebih detail, diketahui bila komoditas cabai rawit menjadi kebutuhan pangan yang menyumbang tingkat inflasi tertinggi. ”Cabai rawit memiliki andil dalam inflasi sebesar 0,23 persen,” kata Kepala BPS Kota Malang Erny Fatma Setyoharini saat dikonfirmasi siang kemarin (3/1).

Mantan Kepala BPS Kota Blitar itu menyebut bila harga cabai rawit pernah menyentuh angka Rp 120 ribu per kilogram. Harga itu sebanding dengan harga satu kilogram daging sapi. Kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat tertahan. Beruntung, dalam tiga hari terakhir pasca tahun baru, harga cabai rawit mulai turun ke harga Rp 70 ribu per kilogram.

Di samping itu, naiknya harga minyak goreng juga menjadi penyumbang terbesar kedua inflasi Kota Malang. Persentase yang disumbangkan sebesar 0,19 persen. Erny menyebut bila minyak goreng yang diekspor membuat stok di dalam negeri menjadi langka dan mahal. ”Kalau sekarang harga dua komoditas itu mulai turun tapi tak signifikan. Kami berharap pada Januari ini bisa menekan laju inflasi,” harap perempuan berkacamata itu.

Di sisi lain, Bank Indonesia kantor Perwakilan (BI Kpw) Malang justru mencatat bila indeks keyakinan konsumen (IKK) meningkat dalam beberapa waktu terakhir. ”Pada bulan lalu (Desember), tingkat IKK-nya mencapai 131,67. Naik jika dibanding bulan sebelumnya (November), yang hanya 129,79,” kata Kepala BI KPw Malang Azka Subhan.

Hal itu mengindikasikan bahwa keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi kembali pada level optimistis. Menyikapi fenomena itu, BI KPw Malang tetap bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah. Tujuannya untuk memperkuat lumbung pangan daerah. Serta melakukan pemantauan terhadap ketersediaan stok komoditas pangan strategis melalui forum tim pengendali inflasi daerah(TPID). ”Kami optimistis nanti pertumbuhan ekonomi melaju di angka 5 persen pada 2022 mendatang,” tambah Azka. (adn/by)

MALANG KOTA – Naiknya sejumlah harga kebutuhan pangan sejak bulan Desember lalu tak hanya mengakibatkan masyarakat merogoh koceknya lebih dalam. Namun juga berpengaruh pada tingkat inflasi di Kota Malang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bila kondisi itu mengakibatkan tingkat inflasi Kota Malang pada bulan lalu berada di angka 0,73 persen.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi selama tiga bulan terakhir. Bahkan inflasi Kota Malang lebih tinggi dari Kota Surabaya, yang hanya 0,65 persen. Bila dilihat lebih detail, diketahui bila komoditas cabai rawit menjadi kebutuhan pangan yang menyumbang tingkat inflasi tertinggi. ”Cabai rawit memiliki andil dalam inflasi sebesar 0,23 persen,” kata Kepala BPS Kota Malang Erny Fatma Setyoharini saat dikonfirmasi siang kemarin (3/1).

Mantan Kepala BPS Kota Blitar itu menyebut bila harga cabai rawit pernah menyentuh angka Rp 120 ribu per kilogram. Harga itu sebanding dengan harga satu kilogram daging sapi. Kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat tertahan. Beruntung, dalam tiga hari terakhir pasca tahun baru, harga cabai rawit mulai turun ke harga Rp 70 ribu per kilogram.

Di samping itu, naiknya harga minyak goreng juga menjadi penyumbang terbesar kedua inflasi Kota Malang. Persentase yang disumbangkan sebesar 0,19 persen. Erny menyebut bila minyak goreng yang diekspor membuat stok di dalam negeri menjadi langka dan mahal. ”Kalau sekarang harga dua komoditas itu mulai turun tapi tak signifikan. Kami berharap pada Januari ini bisa menekan laju inflasi,” harap perempuan berkacamata itu.

Di sisi lain, Bank Indonesia kantor Perwakilan (BI Kpw) Malang justru mencatat bila indeks keyakinan konsumen (IKK) meningkat dalam beberapa waktu terakhir. ”Pada bulan lalu (Desember), tingkat IKK-nya mencapai 131,67. Naik jika dibanding bulan sebelumnya (November), yang hanya 129,79,” kata Kepala BI KPw Malang Azka Subhan.

Hal itu mengindikasikan bahwa keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi kembali pada level optimistis. Menyikapi fenomena itu, BI KPw Malang tetap bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah. Tujuannya untuk memperkuat lumbung pangan daerah. Serta melakukan pemantauan terhadap ketersediaan stok komoditas pangan strategis melalui forum tim pengendali inflasi daerah(TPID). ”Kami optimistis nanti pertumbuhan ekonomi melaju di angka 5 persen pada 2022 mendatang,” tambah Azka. (adn/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/