KOTA BATU – Pandemi Covid-19,membuat banyak warung kopi atau kafe yang tutup selama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) beberapa waktu lalu. Meski PSBB sudah berakhir, bisnis kafe belum sepenuhnya normal.
Kondisi ini juga berimbas pada sektor hulunya. Yakni pertanian kopi.
Untungnya, dampak itu tidak terlalu dirasakan.
“Karena kebetulan pada awal pandemi masuk siklus perawatan kebun kopi,” ucap Pendamping Pemberdaya Petani Kopi di Kota Batu Wahyu Eko Purwanto.
Mulanya dia sempat waswas jika pada musim panen kopi, pandemi belum usai dan tetap diberlakukan PSBB.
Karena seperti diketahui, petani kopi mempunyai siklus dalam setiap tahunnya. Yang mana, pada Februari-Mei, menjadi masa-masa petani melakukan perawatan kebun kopi. Sementara, Juni-Agustus menjadi masa panen untuk kopi.
“Sehingga, awalnya kami menduga, hasil panen kopi akan berpengaruh pada pangsa pasar,” ungkap Wahyu.
Untungnya, PSBB sudah berakhir. Warung kopi pun mulai buka dan memulihkan diri. Meski perlahan. “Sehingga, pangsa pasarnya ada meski tidak maksimal,”imbuhnya.
Ia juga mengimbau, agar petani kopi dan pengolah kopi bisa berdaptasi dengan pandemi ini. Banyak perubahan yang harus dilakukan pada sistem penjualan dan pemasaran.
“Salah satunya petani dan pengolah kopi harus mampu memanfaatkan potensi media sosial dan market place untuk menawarkan hasil produksi kopi,” pungkasnya.
Pewarta : Ulfa Afrian
Foto: Ilustrasi kopi
Editor: Indra M