alexametrics
21.5 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Millenial Housing, Sangat Efektif Di tengah Pandemi

KOTA BATU – Desain hunian minimalis yang mengusung konsep modern memang banyak diminati di beberapa tahun terkahir ini, khusunya untuk para pasangan muda. Namun, bagaimana para pasangan muda bisa mendesain rumah sesuai keinginan mereka?

Sabtu (3/10) kemarin, Digital Expo (Digitec) mengupas tuntas tentang Millenial Housing untuk merancang ruang secara efektif yang dipandu oleh Pimpinan Redaksi Radar Malang Mardi Sampurno melakukan bincang hangat dengan Anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Rendi Pradipta, ST dalam program Tik Talk yang dilaksanakan di Jawa Pos Radar Malang.

Pada kesempatan itu, Rendi Pradipta, ST menjelaskan, Pandemi tentunya juga berdampak pada dunia arsitek. Sehingga, pihaknya juga harus memikirkan bagaimana proses pembangunan hunian yang aman, khusunya untuk kawasan yang akan dihuni millenial.

“Kami berfikir keras untuk menciptakan rumah yang sehat dengan lahan yang minim atau terbatas, tetapi udara dan pencahayaan yang baik, Karena itu juga berpengaruh pada kesehatan keluarga yang tinggal di hunian tersebut,” terangnya.

Pada masa pandemi ini, sepertinya Millenial Housing justru akan berfungsi lebih baik. Karena seperti diketahui, pandemi identik dengan stay at home. Sehingga, masih banyak pilihan tempat yang bisa gunakan secara maksimal. “Misalnya ruang-ruang terbuka seperti balkon bisa digunakan untuk berjemur,” ungkapnya.

Sementara saat berbicara soal efektivitas, dia melanjutkan, penghuni rumah harus memetakan ruang-ruang yang dijadikan prioritas. Karena hal itu akan memperngaruhi biaya pembangunan.

“Contohnya ruang-ruang yang otomatis anggota keluarga sering menggunakannya, seperti ruang keluarga, dapur bersih dan meja makan, serta kamar tidur dan kamar mandi,”tambahnya.

Tak hanya itu, dalam hal ini cross ventilation juga diperlukan, untuk menjadi penghubung yang bisa mengalirkan udara. “Karena bangunan yang lebih tinggi bukan berarti dapat dikatakan lebih dingin, sehingga dengan penempatan jendela yang pas akan lebih baik dan atau lebih sejuk,”papar Rendi.

Soal budgeting yang dibutuhkan, menurut dia, sesuai dengan besaran renovasi. “Tapi jika diestimasi, dalam permeter perseginya membutuhkan sekitar Rp 4 juta,” pungkasnya.

Pewarta: Ulfa Afrian

KOTA BATU – Desain hunian minimalis yang mengusung konsep modern memang banyak diminati di beberapa tahun terkahir ini, khusunya untuk para pasangan muda. Namun, bagaimana para pasangan muda bisa mendesain rumah sesuai keinginan mereka?

Sabtu (3/10) kemarin, Digital Expo (Digitec) mengupas tuntas tentang Millenial Housing untuk merancang ruang secara efektif yang dipandu oleh Pimpinan Redaksi Radar Malang Mardi Sampurno melakukan bincang hangat dengan Anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Rendi Pradipta, ST dalam program Tik Talk yang dilaksanakan di Jawa Pos Radar Malang.

Pada kesempatan itu, Rendi Pradipta, ST menjelaskan, Pandemi tentunya juga berdampak pada dunia arsitek. Sehingga, pihaknya juga harus memikirkan bagaimana proses pembangunan hunian yang aman, khusunya untuk kawasan yang akan dihuni millenial.

“Kami berfikir keras untuk menciptakan rumah yang sehat dengan lahan yang minim atau terbatas, tetapi udara dan pencahayaan yang baik, Karena itu juga berpengaruh pada kesehatan keluarga yang tinggal di hunian tersebut,” terangnya.

Pada masa pandemi ini, sepertinya Millenial Housing justru akan berfungsi lebih baik. Karena seperti diketahui, pandemi identik dengan stay at home. Sehingga, masih banyak pilihan tempat yang bisa gunakan secara maksimal. “Misalnya ruang-ruang terbuka seperti balkon bisa digunakan untuk berjemur,” ungkapnya.

Sementara saat berbicara soal efektivitas, dia melanjutkan, penghuni rumah harus memetakan ruang-ruang yang dijadikan prioritas. Karena hal itu akan memperngaruhi biaya pembangunan.

“Contohnya ruang-ruang yang otomatis anggota keluarga sering menggunakannya, seperti ruang keluarga, dapur bersih dan meja makan, serta kamar tidur dan kamar mandi,”tambahnya.

Tak hanya itu, dalam hal ini cross ventilation juga diperlukan, untuk menjadi penghubung yang bisa mengalirkan udara. “Karena bangunan yang lebih tinggi bukan berarti dapat dikatakan lebih dingin, sehingga dengan penempatan jendela yang pas akan lebih baik dan atau lebih sejuk,”papar Rendi.

Soal budgeting yang dibutuhkan, menurut dia, sesuai dengan besaran renovasi. “Tapi jika diestimasi, dalam permeter perseginya membutuhkan sekitar Rp 4 juta,” pungkasnya.

Pewarta: Ulfa Afrian

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/