alexametrics
29 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Seminar Perbankan Syariah OJK Malang

Wali Kota Malang Sebut Nasabah Bank Syariah Mirip Mualaf

MALANG KOTA – Hari ini (5/5) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah Malang menggelar seminar bertajuk “Peningkatan Peran Perbankan Syariah Dalam Upaya Pemulihan Ekonomi Daerah di Tengah Masa Pandemi”. Seminar ini digelar di ballroom Ijen Suites Resort and Convention Malang.

Seminar ini menghadirkan beberapa tokoh antara lain Wali Kota Malang Sutiaji, Kepala OJK Wilayah Malang Sugiarto Kasmuri, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Prof Dr H Abdul Haris MAg, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) KH Mas’udi Busyiri, Kepala Bank Syariah Indonesia (BSI) Moh Endri Dzul Fikri, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad serta Kepala Kemenag Kota Malang Mochtar Hazawawi.

Saat Wali Kota Malang Sutiaji hadir, langsung memberikan santunan kepada anak yatim yang turut hadir di sana. “Bulan Ramadan ini menjadi momentum yang tepat bagi pelaku ekonomi dan keuangan syariah untuk keluar melompat lebih tinggi lagi,” kata Kepala OJK Malang Sugiarto Kasmuri.

Sugiarto menuturkan, perbankan syariah selama pandemi menunjukkan kinerja yang positif baik dari segi penyaluran pinjaman maupun penyerapan dana pihak ketiga. Namun pada saat yang bersamaan, perbankan syariah juga menghadapi tantangan besar berupa rendahnya literasi masyarakat terkait perbankan syariah.

Sugiarto menyebutkan, indeks literasi keuangan syariah di Indonesia masih belum mencapai 10 persen atau hanya 8,9 persen. Sedangkan inklusi keuangan masih tercatat 9,1 persen.

“Tentu perlu langkah-langkah yang tidak biasa dalam mendorong tingkat literasi dan inklusi keuangan agar masyarakat semakin mudah dalam akses keuangan syariah serta paham produk dan layanan keuangan syariah,” sambungnya.

Wali Kota Malang, Sutiaji menambahkan, tertarik dengan fenomena tersebut. Rendahnya literasi dan tingginya inklusi keuangan warga Malang Raya menunjukkan bahwa nasabah perbankan syariah sudah paham dengan produk.

“Ibarat Islam, nasabah bank syariah itu mualaf. Belajar (paham produk) dulu baru masuk. Biasanya yang mualaf ini ibadahnya lebih kenceng,” candanya.

Ia menyebut, tantangan-tantangan tersebut bisa melalui pengembangan teknologi, misalnya sistem pembayaran digital, sehingga warga bisa mendapatkan nilai plus saat menjadi nasabah perbankan syariah.

Pewarta: Intan Refa Septiana

MALANG KOTA – Hari ini (5/5) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah Malang menggelar seminar bertajuk “Peningkatan Peran Perbankan Syariah Dalam Upaya Pemulihan Ekonomi Daerah di Tengah Masa Pandemi”. Seminar ini digelar di ballroom Ijen Suites Resort and Convention Malang.

Seminar ini menghadirkan beberapa tokoh antara lain Wali Kota Malang Sutiaji, Kepala OJK Wilayah Malang Sugiarto Kasmuri, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Prof Dr H Abdul Haris MAg, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) KH Mas’udi Busyiri, Kepala Bank Syariah Indonesia (BSI) Moh Endri Dzul Fikri, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad serta Kepala Kemenag Kota Malang Mochtar Hazawawi.

Saat Wali Kota Malang Sutiaji hadir, langsung memberikan santunan kepada anak yatim yang turut hadir di sana. “Bulan Ramadan ini menjadi momentum yang tepat bagi pelaku ekonomi dan keuangan syariah untuk keluar melompat lebih tinggi lagi,” kata Kepala OJK Malang Sugiarto Kasmuri.

Sugiarto menuturkan, perbankan syariah selama pandemi menunjukkan kinerja yang positif baik dari segi penyaluran pinjaman maupun penyerapan dana pihak ketiga. Namun pada saat yang bersamaan, perbankan syariah juga menghadapi tantangan besar berupa rendahnya literasi masyarakat terkait perbankan syariah.

Sugiarto menyebutkan, indeks literasi keuangan syariah di Indonesia masih belum mencapai 10 persen atau hanya 8,9 persen. Sedangkan inklusi keuangan masih tercatat 9,1 persen.

“Tentu perlu langkah-langkah yang tidak biasa dalam mendorong tingkat literasi dan inklusi keuangan agar masyarakat semakin mudah dalam akses keuangan syariah serta paham produk dan layanan keuangan syariah,” sambungnya.

Wali Kota Malang, Sutiaji menambahkan, tertarik dengan fenomena tersebut. Rendahnya literasi dan tingginya inklusi keuangan warga Malang Raya menunjukkan bahwa nasabah perbankan syariah sudah paham dengan produk.

“Ibarat Islam, nasabah bank syariah itu mualaf. Belajar (paham produk) dulu baru masuk. Biasanya yang mualaf ini ibadahnya lebih kenceng,” candanya.

Ia menyebut, tantangan-tantangan tersebut bisa melalui pengembangan teknologi, misalnya sistem pembayaran digital, sehingga warga bisa mendapatkan nilai plus saat menjadi nasabah perbankan syariah.

Pewarta: Intan Refa Septiana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru