alexametrics
23.6 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

250 Koperasi di Kota Malang Mati Suri

MALANG KOTA – Sebanyak 250 koperasi di Kota Malang butuh perhatian lebih serius dari Pemkot Malang. Sebab, koperasi sejumlah itu masuk kategori mati suri. Artinya, antara hidup dan mati tidak jelas. Disebut hidup, tapi tidak ada aktivitas. Disebut mati, tapi masih tercatat di Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang.

Kepala Diskopindag Kota Malang M. Syailendra mengatakan, koperasi yang aktif saat ini hanya sekitar 350 koperasi. ”Kami sudah mengajukan penonaktifan koperasi sekitar 250 koperasi,” ungkapnya.

Namun, pihaknya masih menunggu prosesnya dari Kementerian Koperasi. Untuk koperasi yang tidak aktif itu, dia membeberkan, mayoritas yang bergerak di bidang simpan pinjam.

Menurut dia, banyak penyebab ketidakaktifan koperasi yang mati suri itu. Di antaranya, koperasi yang sudah terdaftar itu kemungkinan besar karena bermasalah di internal mereka. Seperti kepengurusannya, keanggotaannya, atau bisa juga dikarenakan simpan pinjam yang tidak lancar.

”Kalau simpan pinjamnya macet, kan usahanya tidak berkembang,” ungkapnya.

Misalnya, bila anggota sudah berkurang dan tidak melakukan kewajiban koperasi seperti rapat anggota tahunan (RAT). ”Kebetulan kami selalu update kegiatannya mereka. Makanya kami tahu mana koperasi yang aktif dan mana yang tidak aktif dari 600 koperasi itu,” bebernya.

Hal itu biasanya diketahui saat diskopindag memantau dan memonitoring RAT koperasi. Selain itu, juga dari laporan keuangan mereka. Padahal, dia mengatakan, pihaknya terus melakukan upaya untuk mengoptimalkan koperasi yang sudah terdaftar tersebut. Salah satunya dengan tetap rutin melakukan pembinaan. Yang mana, tujuan akhirnya agar koperasi bisa melakukan rapat anggota tahunan (RAT).

”Karena RAT menjadi salah satu tolok ukur dari aktifnya suatu koperasi,” jelas dia.

Di masa pandemi ini, seharusnya koperasi bisa mempunyai andil untuk pemulihan ekonomi dengan membantu pemberdayaan perekonomian masyarakat.

”Harusnya koperasi ini diperkuat, misalnya di tingkat PKK, RT ataupun RW,”
imbaunya.

Sebenarnya, menurut Syailendra, agar koperasi bisa tetap aktif keberadaannya, salah satu yang bisa dilakukan adalah memilih pengurus yang kompeten. Juga penataan manajemennya juga harus bagus. Sehingga, pengawasan dari koperasi itu bisa efektif dan bisa tetap berjalan.

Sebab, tak bisa dipungkiri, dia juga menyampaikan, keberadaan koperasi saat ini memang berkompetisi, terlebih koperasi di bidang simpan pinjam.

”Biasanya saingannya memang bank, seperti bank yang menawarkan bunga kecil melalui KUR (kredit usaha rakyat),” tandas dia. (ulf/c1/abm/rmc)

MALANG KOTA – Sebanyak 250 koperasi di Kota Malang butuh perhatian lebih serius dari Pemkot Malang. Sebab, koperasi sejumlah itu masuk kategori mati suri. Artinya, antara hidup dan mati tidak jelas. Disebut hidup, tapi tidak ada aktivitas. Disebut mati, tapi masih tercatat di Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang.

Kepala Diskopindag Kota Malang M. Syailendra mengatakan, koperasi yang aktif saat ini hanya sekitar 350 koperasi. ”Kami sudah mengajukan penonaktifan koperasi sekitar 250 koperasi,” ungkapnya.

Namun, pihaknya masih menunggu prosesnya dari Kementerian Koperasi. Untuk koperasi yang tidak aktif itu, dia membeberkan, mayoritas yang bergerak di bidang simpan pinjam.

Menurut dia, banyak penyebab ketidakaktifan koperasi yang mati suri itu. Di antaranya, koperasi yang sudah terdaftar itu kemungkinan besar karena bermasalah di internal mereka. Seperti kepengurusannya, keanggotaannya, atau bisa juga dikarenakan simpan pinjam yang tidak lancar.

”Kalau simpan pinjamnya macet, kan usahanya tidak berkembang,” ungkapnya.

Misalnya, bila anggota sudah berkurang dan tidak melakukan kewajiban koperasi seperti rapat anggota tahunan (RAT). ”Kebetulan kami selalu update kegiatannya mereka. Makanya kami tahu mana koperasi yang aktif dan mana yang tidak aktif dari 600 koperasi itu,” bebernya.

Hal itu biasanya diketahui saat diskopindag memantau dan memonitoring RAT koperasi. Selain itu, juga dari laporan keuangan mereka. Padahal, dia mengatakan, pihaknya terus melakukan upaya untuk mengoptimalkan koperasi yang sudah terdaftar tersebut. Salah satunya dengan tetap rutin melakukan pembinaan. Yang mana, tujuan akhirnya agar koperasi bisa melakukan rapat anggota tahunan (RAT).

”Karena RAT menjadi salah satu tolok ukur dari aktifnya suatu koperasi,” jelas dia.

Di masa pandemi ini, seharusnya koperasi bisa mempunyai andil untuk pemulihan ekonomi dengan membantu pemberdayaan perekonomian masyarakat.

”Harusnya koperasi ini diperkuat, misalnya di tingkat PKK, RT ataupun RW,”
imbaunya.

Sebenarnya, menurut Syailendra, agar koperasi bisa tetap aktif keberadaannya, salah satu yang bisa dilakukan adalah memilih pengurus yang kompeten. Juga penataan manajemennya juga harus bagus. Sehingga, pengawasan dari koperasi itu bisa efektif dan bisa tetap berjalan.

Sebab, tak bisa dipungkiri, dia juga menyampaikan, keberadaan koperasi saat ini memang berkompetisi, terlebih koperasi di bidang simpan pinjam.

”Biasanya saingannya memang bank, seperti bank yang menawarkan bunga kecil melalui KUR (kredit usaha rakyat),” tandas dia. (ulf/c1/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/