alexametrics
18.5 C
Malang
Wednesday, 29 June 2022

Kepastian Spin-off UUS BTN akan Dilaporkan ke OJK Tahun Depan

 

JawaPos.com – Kepastian mengenai skema pemisahan (spin off) Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yakni BTN Syariah menjadi Badan Usaha Syariah (BUS) harus disetorkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun depan. Direktur Keuangan & Treasury BTN Nixon LP Napitupulu menyampaikan, saat ini pihaknya masih terus melakukan kajian spin off.

Beberapa isu yang mengemuka terkait spin off UUS perbankan pelat merah saat ini, yaitu pertama ada wacana konsolidasi bank-bank syariah milik pemerintah. Namun, wacana pertama ini belum ada kepastian.

Kedua, ada wacana spin off masing-masing perbankan. Nixon mengatakan, jika berdiri sendiri-sendiri maka dibutuhkan modal yang lumayan besar untuk menguasai 100 persen BUS-nya.

Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) harus dijaga di level 15 persen. Itu artinya BTN perlu dana sekitar Rp 4,5-Rp 5 triliun untuk modal BTN Syariah.

Wacana kedua ini juga belum pasti. Sebab masih banyak hal yang perlu dikalkulasi. Misalnya, neraca BUS yang harus seimbang. Ini berarti butuh dana yang besar untuk menutup gap tersebut.

“Apakah awal-awal (ditutup) oleh induk, atau mereka terbitkan SUKUK untuk menutup aset dan liabilitas,” katanya, dalam kegiatan Media Gathering di Jogjakarta, Jumat (4/10).

Selain itu, banyak UUS yang masih ‘numpang’ ke induknya, misalnya kantor meminjam induk usaha, kendaraan meminjam, dan sebagainya. Jika berdiri sendiri, maka harus dipastikan BUS bisa beroperasi tanpa sokongan dari induk yang mereka nikmati selama ini.

Kemudian ketiga, ada wacana merger dengan UUS bank lain. Nixon mengatakan, opsi ini membutuhkan modal yang tidak terlalu banyak.

“Itu pros-cons (plus-minus) yang harus kami itung, sebelum 2020, apakah kerja sama operasi dengan BUMN lain atau spin off sendiri,” tuturnya.

Lebih jauh ia menambahkan, tahun depan rencana spin off UUS akan disampaikan ke OJK. Setelah itu, perseroan memiliki waktu hingga 2023 untuk segera merealisasikan aksi korporasi tersebut.

“Beberapa opsi sedang kami kaji untuk melakukan spin off antara lain mengakuisisi bank syariah lain, merger dengan bank BUMN syariah, dan mendirikan anak usaha baru. Yang terpenting ada cangkangnya (wadah atau perusahaan) dulu sebagai tempat BTN syariah,” pungkasnya.

Dalam kesempatan sama, Direktur Consumer Banking BTN Budi Satria optimistis, rencana spin off tersebut bakal mendongkrak kinerja BTN. Budi mengungkapkan, selama ini kinerja UUS BTN sudah sangat baik. Namun karena masih berupa unit usaha, maka ruang untuk ekspansi sangat terbatas.

“Untuk itu diharapkan dengan menjadi entitas bisnis yang berdiri sendiri ruang gerak BTN Syariah dalam mengembangkan bisnisnya ke depan akan semakin besar,” katanya.

Menurut dia, ketika BTN Syariah sudah menjadi perseroan terbatas (PT) dalam hal kebutuhan pembiayaan maka banyak pilihan yang bisa diambil, salah satunya dengan melakukan go public atau penawaran umum saham perdana. Selain itu, BTN Syariah juga bisa menerbitkan berbagai instrumen produk pasar modal seperti obligasi ataupun KIK EBA.

“BTN Syariah akan menjadi satu-satunya bank syariah dengan core bussinisnya sama dengan induknya, sehingga infrastrukturnya lengkap,” tegas Budi.

Pasar Syariah Menjanjikan

Menurut Ekonom BTN Winang Budoyo, permintaan pasar akan pembiayaan perumahan dengan konsep syariah di Indonesia sangat tinggi. Maka dari itu, keberadaan BTN Syariah pasca spin off nanti akan menambah pilihan masyarakat yang ingin mencari pembiayaan perumahan dengan konsep syariah.

Senada, pengamat pasar modal Haryajid Ramelan mengatakan, instrumen syariah sangat dibutuhkan masyarakat di Indonesia. Adanya BTN Syariah yg masuk dalam core bisnis yang sama dengan induknya dengan cara syar’i menjadikan masyarakat tidak lagi berpindah bank.

“Besarnya masyarakat muslim yang mulai hijrah ke instrumen syariah memberikan peluang besar bagi BTN Syariah,” katanya.

Menurut Haryajid, pembiayaan perumahan secara syariah sangat potensial berkembang di tengah lesunya pasar properti dengan pembiayaan konvensional.

Sebagai informasi, hingga semester-I 2019, BTN Syariah mencatatkan pertumbuhan aset di level 19,67 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp 29,17 triliun. Kenaikan aset tersebut disokong peningkatan pembiayaan sebesar 16,54 persen (yoy) menjadi Rp 23,16 triliun.

Sedangkan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 18,15 persen (yoy) menjadi Rp 23,03 triliun. Dengan capaian kinerja tersebut, BTN Syariah meraup laba senilai Rp 105,23 miliar pada semester-I 2019.

 

JawaPos.com – Kepastian mengenai skema pemisahan (spin off) Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yakni BTN Syariah menjadi Badan Usaha Syariah (BUS) harus disetorkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun depan. Direktur Keuangan & Treasury BTN Nixon LP Napitupulu menyampaikan, saat ini pihaknya masih terus melakukan kajian spin off.

Beberapa isu yang mengemuka terkait spin off UUS perbankan pelat merah saat ini, yaitu pertama ada wacana konsolidasi bank-bank syariah milik pemerintah. Namun, wacana pertama ini belum ada kepastian.

Kedua, ada wacana spin off masing-masing perbankan. Nixon mengatakan, jika berdiri sendiri-sendiri maka dibutuhkan modal yang lumayan besar untuk menguasai 100 persen BUS-nya.

Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) harus dijaga di level 15 persen. Itu artinya BTN perlu dana sekitar Rp 4,5-Rp 5 triliun untuk modal BTN Syariah.

Wacana kedua ini juga belum pasti. Sebab masih banyak hal yang perlu dikalkulasi. Misalnya, neraca BUS yang harus seimbang. Ini berarti butuh dana yang besar untuk menutup gap tersebut.

“Apakah awal-awal (ditutup) oleh induk, atau mereka terbitkan SUKUK untuk menutup aset dan liabilitas,” katanya, dalam kegiatan Media Gathering di Jogjakarta, Jumat (4/10).

Selain itu, banyak UUS yang masih ‘numpang’ ke induknya, misalnya kantor meminjam induk usaha, kendaraan meminjam, dan sebagainya. Jika berdiri sendiri, maka harus dipastikan BUS bisa beroperasi tanpa sokongan dari induk yang mereka nikmati selama ini.

Kemudian ketiga, ada wacana merger dengan UUS bank lain. Nixon mengatakan, opsi ini membutuhkan modal yang tidak terlalu banyak.

“Itu pros-cons (plus-minus) yang harus kami itung, sebelum 2020, apakah kerja sama operasi dengan BUMN lain atau spin off sendiri,” tuturnya.

Lebih jauh ia menambahkan, tahun depan rencana spin off UUS akan disampaikan ke OJK. Setelah itu, perseroan memiliki waktu hingga 2023 untuk segera merealisasikan aksi korporasi tersebut.

“Beberapa opsi sedang kami kaji untuk melakukan spin off antara lain mengakuisisi bank syariah lain, merger dengan bank BUMN syariah, dan mendirikan anak usaha baru. Yang terpenting ada cangkangnya (wadah atau perusahaan) dulu sebagai tempat BTN syariah,” pungkasnya.

Dalam kesempatan sama, Direktur Consumer Banking BTN Budi Satria optimistis, rencana spin off tersebut bakal mendongkrak kinerja BTN. Budi mengungkapkan, selama ini kinerja UUS BTN sudah sangat baik. Namun karena masih berupa unit usaha, maka ruang untuk ekspansi sangat terbatas.

“Untuk itu diharapkan dengan menjadi entitas bisnis yang berdiri sendiri ruang gerak BTN Syariah dalam mengembangkan bisnisnya ke depan akan semakin besar,” katanya.

Menurut dia, ketika BTN Syariah sudah menjadi perseroan terbatas (PT) dalam hal kebutuhan pembiayaan maka banyak pilihan yang bisa diambil, salah satunya dengan melakukan go public atau penawaran umum saham perdana. Selain itu, BTN Syariah juga bisa menerbitkan berbagai instrumen produk pasar modal seperti obligasi ataupun KIK EBA.

“BTN Syariah akan menjadi satu-satunya bank syariah dengan core bussinisnya sama dengan induknya, sehingga infrastrukturnya lengkap,” tegas Budi.

Pasar Syariah Menjanjikan

Menurut Ekonom BTN Winang Budoyo, permintaan pasar akan pembiayaan perumahan dengan konsep syariah di Indonesia sangat tinggi. Maka dari itu, keberadaan BTN Syariah pasca spin off nanti akan menambah pilihan masyarakat yang ingin mencari pembiayaan perumahan dengan konsep syariah.

Senada, pengamat pasar modal Haryajid Ramelan mengatakan, instrumen syariah sangat dibutuhkan masyarakat di Indonesia. Adanya BTN Syariah yg masuk dalam core bisnis yang sama dengan induknya dengan cara syar’i menjadikan masyarakat tidak lagi berpindah bank.

“Besarnya masyarakat muslim yang mulai hijrah ke instrumen syariah memberikan peluang besar bagi BTN Syariah,” katanya.

Menurut Haryajid, pembiayaan perumahan secara syariah sangat potensial berkembang di tengah lesunya pasar properti dengan pembiayaan konvensional.

Sebagai informasi, hingga semester-I 2019, BTN Syariah mencatatkan pertumbuhan aset di level 19,67 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp 29,17 triliun. Kenaikan aset tersebut disokong peningkatan pembiayaan sebesar 16,54 persen (yoy) menjadi Rp 23,16 triliun.

Sedangkan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 18,15 persen (yoy) menjadi Rp 23,03 triliun. Dengan capaian kinerja tersebut, BTN Syariah meraup laba senilai Rp 105,23 miliar pada semester-I 2019.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/