21.6 C
Malang
Friday, 3 February 2023

UMK Naik, Harga Bahan Pokok Akan Ikut

BATU – Upah minimum kota/kabupaten (UMK) Batu dipastikan bakal mengalami kenaikan pada tahun 2023. Ini tentu menjadi angin segar bagi masyarakat. Tapi di sisi lain, kenaikan ini juga menimbulkan ancaman baru.

Sebagai informasi, Disnaker Kota Batu telah mengusulkan kenaikan UMK sebesar 7,6 persen. Itu artinya dari UMK tahun 2022 berada Rp 2.830.000. Kemungkinan besar UMK 2023 berada di Rp 3.035.000.

Dengan adanya kenaikan UMK, kemungkinan besar harga pokok juga ikut naik. Bahkan prediksi pengamat ekonomi Universitas Brawijaya Joko Budi Santoso SE ME, kenaikan bahan pokok bakal lebih tinggi daripada kenaikan UMK. ”Secara empirik kenaikan UMK ini akan mendorong kenaikan harga bahan pokok. Karena pada sisi produksi akan mengalami kenaikan biaya produksi yang disebabkan oleh naiknya upah pekerja,” terangnya.

Untuk itu Joko menyarankan, Pemkot Batu mulai sekarang harus merancang program untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok, ketika UMK resmi dinaikkan. Hal ini agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan meminimalisir adanya inflasi.

”Kebijakan bantuan subsidi upah menurut saya harus dilanjutkan dan diperluas di 2023. Serta kebijakan pemerintah pusat kepada daerah terkait pengalokasian persen dana transfer ke daerah (TKDD) untuk perlindungan sosial harus terus dilanjutkan di 2023,” jelasnya.

Tak hanya memperhatikan masyarakat, Pemkot Batu juga harus menaruh perhatian kepada pengusaha. Dengan kenaikan ini, beban gaji mereka bakal bertambah. Karena tak semua produksi bisa menaikkan harga jual barang mereka. ”Pengusaha baru bisa kembali bernapas usai pandemi, tapi sekarang harus menerima adanya kenaikan UMK. Ini juga harus menjadi perhatian pemerintah. Harus ada kebijakan yang pro kepada pengusaha, seperti relaksasi pajak,” ungkap Joko.

Ditanya terkait kenaikan UMK sebesar 7,6 persen. Menurut Joko, itu merupakan besaran yang ideal. Mengingat adanya inflasi akibat kenaikan BBM beberapa waktu lalu. Sehingga, membuat meningkatnya pengeluaran masyarakat. ”Angka kenaikan ini masih cukup logis, mengingat ancaman resesi ekonomi dunia 2023 akan berdampak pada stagflasi. Yaitu inflasi tinggi, sementara pertumbuhan ekonomi rendah,” tandas Joko. (adk/lid)

BATU – Upah minimum kota/kabupaten (UMK) Batu dipastikan bakal mengalami kenaikan pada tahun 2023. Ini tentu menjadi angin segar bagi masyarakat. Tapi di sisi lain, kenaikan ini juga menimbulkan ancaman baru.

Sebagai informasi, Disnaker Kota Batu telah mengusulkan kenaikan UMK sebesar 7,6 persen. Itu artinya dari UMK tahun 2022 berada Rp 2.830.000. Kemungkinan besar UMK 2023 berada di Rp 3.035.000.

Dengan adanya kenaikan UMK, kemungkinan besar harga pokok juga ikut naik. Bahkan prediksi pengamat ekonomi Universitas Brawijaya Joko Budi Santoso SE ME, kenaikan bahan pokok bakal lebih tinggi daripada kenaikan UMK. ”Secara empirik kenaikan UMK ini akan mendorong kenaikan harga bahan pokok. Karena pada sisi produksi akan mengalami kenaikan biaya produksi yang disebabkan oleh naiknya upah pekerja,” terangnya.

Untuk itu Joko menyarankan, Pemkot Batu mulai sekarang harus merancang program untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok, ketika UMK resmi dinaikkan. Hal ini agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan meminimalisir adanya inflasi.

”Kebijakan bantuan subsidi upah menurut saya harus dilanjutkan dan diperluas di 2023. Serta kebijakan pemerintah pusat kepada daerah terkait pengalokasian persen dana transfer ke daerah (TKDD) untuk perlindungan sosial harus terus dilanjutkan di 2023,” jelasnya.

Tak hanya memperhatikan masyarakat, Pemkot Batu juga harus menaruh perhatian kepada pengusaha. Dengan kenaikan ini, beban gaji mereka bakal bertambah. Karena tak semua produksi bisa menaikkan harga jual barang mereka. ”Pengusaha baru bisa kembali bernapas usai pandemi, tapi sekarang harus menerima adanya kenaikan UMK. Ini juga harus menjadi perhatian pemerintah. Harus ada kebijakan yang pro kepada pengusaha, seperti relaksasi pajak,” ungkap Joko.

Ditanya terkait kenaikan UMK sebesar 7,6 persen. Menurut Joko, itu merupakan besaran yang ideal. Mengingat adanya inflasi akibat kenaikan BBM beberapa waktu lalu. Sehingga, membuat meningkatnya pengeluaran masyarakat. ”Angka kenaikan ini masih cukup logis, mengingat ancaman resesi ekonomi dunia 2023 akan berdampak pada stagflasi. Yaitu inflasi tinggi, sementara pertumbuhan ekonomi rendah,” tandas Joko. (adk/lid)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru