alexametrics
21.9 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Musim Hujan Penanaman Lebih Sulit, Harga Seledri Naik

KOTA BATU – Petani seledri di Kota Batu nampak semringah lantaran harga sayur yang menjadi bahan beberapa masakan khas Indonesia ini kembali melonjak. Dari yang normalnya Rp 3.000 per ikat menjadi Rp 5.000 ribu setiap ikatnya.

“Alhamdulillah harganya bagus, tapi permasalahan cuaca menjadi kesulitan tersendiri terhadap perawatannya,” kata salah satu petani seledri, Rusmiati, yang berada di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, hari ini (7/12).

Ia mengungkapkan, cuaca ekstrem akhir-akhir ini berdampak pada pertumbuhan daun seledri. Daun yang tumbuh dirasa kurang sehat lantaran kadar airnya terlalu banyak. Penanaman pun sulit dilakukan.

“Tanaman pasti menjadi rentan terkena penyakit. Apalagi hujan yang menyebabkan terlalu banyak air berimbas pada daya tahan tanaman,” ucapnya.

Karean itu, perawatan ekstra seperti penyemprotan rutin menjadi salah satu jalan keluar yang bisa dilakukan.

Petani seledri lain, Riani yang juga di daerah tersebut mengaku tidak menyangka dengan kenaikan harga tersebut. “Sempat khawatir karena kebanyakan harga sayur lain sedang tidak bagus. Kami sangat bersyukur,” papar dia..

Riani mengaku bisa melakukan panen sekali dalam seminggu. Disetiap panen yang dilakukan rata-rata memperoleh hasil 90 sampai 100 kilogram seledri. Hasil itu didapat dari lahan seluas 150 meter persegi.

Namun, penjualannya hanya meliputi seluruh Malang Raya. Biaya ongkos kirim yang mahal, menjadi salah satu alasan ia sulit untuk memperluas pasar hingga luar daerah. Imbas Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tempo hari juga sempat membuatnya libur lima bulan.

Berangsur normalnya roda perekonomian membuat para petani perlahan bangkit. Selain dampak buruk, musim hujan juga memberikan efek positif. “Jadi nggak perlu nyiram kalau gini, dengan hujan saja sudah cukup. Cuma, perawatannya saja yang harus lebih,” katanya.

Pewarta: Wildan Agta Affirdausy

KOTA BATU – Petani seledri di Kota Batu nampak semringah lantaran harga sayur yang menjadi bahan beberapa masakan khas Indonesia ini kembali melonjak. Dari yang normalnya Rp 3.000 per ikat menjadi Rp 5.000 ribu setiap ikatnya.

“Alhamdulillah harganya bagus, tapi permasalahan cuaca menjadi kesulitan tersendiri terhadap perawatannya,” kata salah satu petani seledri, Rusmiati, yang berada di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, hari ini (7/12).

Ia mengungkapkan, cuaca ekstrem akhir-akhir ini berdampak pada pertumbuhan daun seledri. Daun yang tumbuh dirasa kurang sehat lantaran kadar airnya terlalu banyak. Penanaman pun sulit dilakukan.

“Tanaman pasti menjadi rentan terkena penyakit. Apalagi hujan yang menyebabkan terlalu banyak air berimbas pada daya tahan tanaman,” ucapnya.

Karean itu, perawatan ekstra seperti penyemprotan rutin menjadi salah satu jalan keluar yang bisa dilakukan.

Petani seledri lain, Riani yang juga di daerah tersebut mengaku tidak menyangka dengan kenaikan harga tersebut. “Sempat khawatir karena kebanyakan harga sayur lain sedang tidak bagus. Kami sangat bersyukur,” papar dia..

Riani mengaku bisa melakukan panen sekali dalam seminggu. Disetiap panen yang dilakukan rata-rata memperoleh hasil 90 sampai 100 kilogram seledri. Hasil itu didapat dari lahan seluas 150 meter persegi.

Namun, penjualannya hanya meliputi seluruh Malang Raya. Biaya ongkos kirim yang mahal, menjadi salah satu alasan ia sulit untuk memperluas pasar hingga luar daerah. Imbas Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tempo hari juga sempat membuatnya libur lima bulan.

Berangsur normalnya roda perekonomian membuat para petani perlahan bangkit. Selain dampak buruk, musim hujan juga memberikan efek positif. “Jadi nggak perlu nyiram kalau gini, dengan hujan saja sudah cukup. Cuma, perawatannya saja yang harus lebih,” katanya.

Pewarta: Wildan Agta Affirdausy

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/