alexametrics
21.8 C
Malang
Monday, 4 July 2022

Manisnya Cokelat Topeng Malang Sentuh Pasar Eropa

MALANG KOTA – Kota Malang kembali menembus pasar internasional di Industri Seni. Replika Topeng Malangan Djoko Rendy sukses dibuat oleh seniman unggul kota ini. Cokelat topeng ini melejit tembus pasar Eropa, yakni Jerman dan Prancis. Ditemui kemarin (8/9), di Kedai Seni Malangan, pria berusia 58 tahun itu mengaku telah memulai produksi topeng bebahahan coklat sejak 2014. Berawal dari ide membuat jajanan coklat untuk mengisi waktu luang di sela kesibukan mengedukasi tentang budaya topeng pada anak-anak.

”Selama ini saya sering menemukan kendala saat mengedukasi anak-anak di lapangan, sering kali mereka ketakutan saat melihat bentuknya,” kata Djoko. Salah satu inovasi edukasi yang dianggapnya paling sesuai yakni melalui jajanan.

”Tujuannya supaya anak-anak tidak hanya bisa mengenal, tetapi juga suka,” terang dia.

Metode ini sudah dia terapkan di beberapa sekolah sejak tahun 2014 lalu. Seperti TK Santa Immaculata Kepanjen dan TK Muslimat NU 12 Blimbing.

Jika sebelumnya cokelat topeng diproduksinya untuk kepentingan edukasi, belakangan karya Djoko juga banyak diminati untuk dijadikan suvenir pernikahan juga oleh-oleh saat kunjungan instansi dinas maupun swasta. Dari situ, peluang bisnis jajanan cokelatnya pun mulai dilirik pasar.

”Untuk pemasaran biasanya kami memanfaatkan media sosial,” imbuhnya.

Harga coklat topeng yang dijualnya pun beragam, tergantung jenis dan ukurannya. Untuk satu paket cokelat, Djoko membanderol harga mulai dari Rp 2.500 hingga yang termahal Rp 350 ribu. Dalam satu bulan, Djoko bisa mengantongi omzet penjualan antara Rp 5 juta sampai Rp 6 juta.

Guna menjaga kualitas produk buatannya, seluruh proses produksi jajanan khas Kota Malang tersebut diawasinya secara langsung. Hingga saat ini Djoko mengaku telah memproduksi 12 karakter topeng malangan. Di antaranya seperti, Panji Asmoro Bangun, Dewi Sekar Taji, Gunung Sari, Ragil Kuning, Klono, Bapang, Patih Putih, dan tokoh-tokoh antagonis.
Dibantu partnernya Dyah Yuliani, kini tak hanya cokelat berbentuk topeng yang diproduksi Djoko. Produk lainnya bakso, kue kering, dan puding berbentuk topeng juga mulai diproduksinya.

Pewarta : Ilmi Ariyanti

MALANG KOTA – Kota Malang kembali menembus pasar internasional di Industri Seni. Replika Topeng Malangan Djoko Rendy sukses dibuat oleh seniman unggul kota ini. Cokelat topeng ini melejit tembus pasar Eropa, yakni Jerman dan Prancis. Ditemui kemarin (8/9), di Kedai Seni Malangan, pria berusia 58 tahun itu mengaku telah memulai produksi topeng bebahahan coklat sejak 2014. Berawal dari ide membuat jajanan coklat untuk mengisi waktu luang di sela kesibukan mengedukasi tentang budaya topeng pada anak-anak.

”Selama ini saya sering menemukan kendala saat mengedukasi anak-anak di lapangan, sering kali mereka ketakutan saat melihat bentuknya,” kata Djoko. Salah satu inovasi edukasi yang dianggapnya paling sesuai yakni melalui jajanan.

”Tujuannya supaya anak-anak tidak hanya bisa mengenal, tetapi juga suka,” terang dia.

Metode ini sudah dia terapkan di beberapa sekolah sejak tahun 2014 lalu. Seperti TK Santa Immaculata Kepanjen dan TK Muslimat NU 12 Blimbing.

Jika sebelumnya cokelat topeng diproduksinya untuk kepentingan edukasi, belakangan karya Djoko juga banyak diminati untuk dijadikan suvenir pernikahan juga oleh-oleh saat kunjungan instansi dinas maupun swasta. Dari situ, peluang bisnis jajanan cokelatnya pun mulai dilirik pasar.

”Untuk pemasaran biasanya kami memanfaatkan media sosial,” imbuhnya.

Harga coklat topeng yang dijualnya pun beragam, tergantung jenis dan ukurannya. Untuk satu paket cokelat, Djoko membanderol harga mulai dari Rp 2.500 hingga yang termahal Rp 350 ribu. Dalam satu bulan, Djoko bisa mengantongi omzet penjualan antara Rp 5 juta sampai Rp 6 juta.

Guna menjaga kualitas produk buatannya, seluruh proses produksi jajanan khas Kota Malang tersebut diawasinya secara langsung. Hingga saat ini Djoko mengaku telah memproduksi 12 karakter topeng malangan. Di antaranya seperti, Panji Asmoro Bangun, Dewi Sekar Taji, Gunung Sari, Ragil Kuning, Klono, Bapang, Patih Putih, dan tokoh-tokoh antagonis.
Dibantu partnernya Dyah Yuliani, kini tak hanya cokelat berbentuk topeng yang diproduksi Djoko. Produk lainnya bakso, kue kering, dan puding berbentuk topeng juga mulai diproduksinya.

Pewarta : Ilmi Ariyanti

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/