alexametrics
22.1 C
Malang
Wednesday, 25 May 2022

Import Kota Malang Mulai Tinggalkan China

MALANG KOTA – Masih minimnya nilai ekspor Kota Malang berkebalikan dengan barang impor yang masuk. Tahun ini, terjadi peningkatan impor yang nilainya mencapai Rp 655 miliar. Mayoritas produk luar negeri yang masuk tersebut berkaitan dengan rokok.

Melejitnya angka impor tersebut terlihat bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2020, nilai impor hanya Rp 93,6 miliar. Artinya, pada 2021 ini terjadi peningkatan senilai Rp 562 miliar.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Sapto Wibowo mengatakan, komoditas impor terbanyak meliputi flavor, tembakau, carbon molecular, paper printing, tipping paper dan cut rag tobacco. ”Barang-barang itu diimpor dari berbagai negara,” imbuhnya. Di antaranya Amerika, Singapura, Prancis, Italia, Polandia, China, California, Jerman, Hongkong, Arab, Malaysia, New Zealand dan Kanada.

Tahun sebelumnya, barang impor hanya didominasi dari tiga negara. Yakni, Singapura, Vietnam dan China saja. Padahal, untuk jenis barang yang didatangkan lebih bervariasi dibandingkan tahun ini. Beberapa komoditas tersebut di antaranya tembakau,  decoration lamp, flavor, vacuum refill hingga led display accessories.

Terkait tingginya nilai impor, Sapto menyatakan hingga kini pihaknya masih menunggu feedback positif pengusaha eksportir maupun pelaku UMKM. Dari data yang masuk, tahun ini realisasi ekspor baru mencapai Rp 1,3 miliar. ”Masih rendahnya ekspor ini tak hanya di Kota Malang tapi juga daerah lain. Hal itu kemungkinan karena juga terdampak pandemi,” tambahnya.

Selama ini, pihaknya juga mengupayakan untuk terus meningkatkan nilai ekspor. Salah satunya  dengan menyosialisasikan bagaimana cara mengekspor. Sebab, yang sering menjadi keluhan adalah mereka kesulitan dengan prosedur dan persyaratan agar bisa ekspor. “Jadi kami berikan edukasi pada mereka, bahkan kami juga bekerja sama dengan kementerian untuk melakukan sosialisasi itu,” paparnya.

Selain itu, Diskopindag juga bekerja sama dengan stakeholder terkait untuk mencari buyer luar negeri. “Meski masih pandemi kami intens berkoordinasi secara virtual,” ujarnya. Dengan begitu, mereka bisa membuka peluang meningkatkan nilai ekspor.

Pewarta: Ulfa Afrian

MALANG KOTA – Masih minimnya nilai ekspor Kota Malang berkebalikan dengan barang impor yang masuk. Tahun ini, terjadi peningkatan impor yang nilainya mencapai Rp 655 miliar. Mayoritas produk luar negeri yang masuk tersebut berkaitan dengan rokok.

Melejitnya angka impor tersebut terlihat bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2020, nilai impor hanya Rp 93,6 miliar. Artinya, pada 2021 ini terjadi peningkatan senilai Rp 562 miliar.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Sapto Wibowo mengatakan, komoditas impor terbanyak meliputi flavor, tembakau, carbon molecular, paper printing, tipping paper dan cut rag tobacco. ”Barang-barang itu diimpor dari berbagai negara,” imbuhnya. Di antaranya Amerika, Singapura, Prancis, Italia, Polandia, China, California, Jerman, Hongkong, Arab, Malaysia, New Zealand dan Kanada.

Tahun sebelumnya, barang impor hanya didominasi dari tiga negara. Yakni, Singapura, Vietnam dan China saja. Padahal, untuk jenis barang yang didatangkan lebih bervariasi dibandingkan tahun ini. Beberapa komoditas tersebut di antaranya tembakau,  decoration lamp, flavor, vacuum refill hingga led display accessories.

Terkait tingginya nilai impor, Sapto menyatakan hingga kini pihaknya masih menunggu feedback positif pengusaha eksportir maupun pelaku UMKM. Dari data yang masuk, tahun ini realisasi ekspor baru mencapai Rp 1,3 miliar. ”Masih rendahnya ekspor ini tak hanya di Kota Malang tapi juga daerah lain. Hal itu kemungkinan karena juga terdampak pandemi,” tambahnya.

Selama ini, pihaknya juga mengupayakan untuk terus meningkatkan nilai ekspor. Salah satunya  dengan menyosialisasikan bagaimana cara mengekspor. Sebab, yang sering menjadi keluhan adalah mereka kesulitan dengan prosedur dan persyaratan agar bisa ekspor. “Jadi kami berikan edukasi pada mereka, bahkan kami juga bekerja sama dengan kementerian untuk melakukan sosialisasi itu,” paparnya.

Selain itu, Diskopindag juga bekerja sama dengan stakeholder terkait untuk mencari buyer luar negeri. “Meski masih pandemi kami intens berkoordinasi secara virtual,” ujarnya. Dengan begitu, mereka bisa membuka peluang meningkatkan nilai ekspor.

Pewarta: Ulfa Afrian

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/