alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Kumpul di Batu, Peternak Ayam Nasional Tuntut Pemerintah Buat Perpres

KOTA BATU – Harga daging ayam di pasaran saat ini mencapai Rp 30 ribu per kilogram. Kondisi ini banyak dikeluhkan oleh para peternak karena merugi. Untuk merespons hal itu, Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia menggelar kegiatan di Hotel Singhasari Resort & Convention, Kamis (10/12).

Ketua PINSAR Jawa Timur H Kholiq mengatakan adanya kegiatan tersebut untuk mempertahankan aturan yang ada sebelumnya. Dia mengatakan pada tahun 2019 lalu pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) membuka pintu bagi para pengusaha perunggasan swasta untuk berinvestasi di bidang pembibitan grand parent stock (GPS) atau indukan ayam ras pedaging. Tujuan pemerintah membuka investasi itu untuk menekan importasi GPS.

“Itu menyebabkan kerugian sangat besar bagi peternak karena GPS yang dikeluarkan oleh pemerintah sangat besar. Akibatnya PS (parent stock) berlebihan, jumlah DOC (day old chick) banyak sekali juga,” kata pria yang juga peternak ayam asal Tumpang, Kabupaten Malang.

Dia mengungkapkan, sejak tahun lalu peternak mengalami kerugian sekitar Rp 3.000 setiap kilogram penjualan ayam broiler. Dengan demikian, kerugian setiap peternak rata-rata di atas Rp 100 juta sejak tahun lalu sampai saat ini.

Meski begitu, Kholiq melanjutkan, Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) sudah mengupayakan langkah stabilisasi pasokan dengan harapan harga ayam hidup di tingkat peternak berangsur mengalami kenaikan dan stabil. Salah satunya, telah diterbitkannya Surat Edaran (SE) Dirjen PKH No. 09246T/SE/PK/230./F/08/2020 Tentang Pengurangan DOC FS Melalui Cutting Hatching Egg (HE) Umur 18 Hari, Penyesuaian Setting HE dan Afkir Dini Parent Stock (PS) Tahun 2020.

Dia berharap kedepannya, peternak dapat menjual ayam hidup broiler diatas Harga Pokok Penjualan (HPP) seperti saat ini. Dia mengatakan HPP saat ini yakni Rp 17.500. “Sedangkan bulan Januari 2021 diperkirakan menjadi Rp 18.500 karena DOC dan pakan naik. Nah inginnya kedua komoditi itu turun harganya juga,” katanya. Sehingga, menurutnya diperlukan aturan yang baku melalui perpres untuk mempertahankan aturan yang telah ada

Ada sekitar 130 peternak asal Pulau Jawa dan Bali yang berada di Batu. Mereka menggelar acara dengan tema Rembug Nasional Perunggasan Terbitkan Perpres Untuk Perlindungan Terhadap Peternak Rakyat Mandiri. “Peternak itu ingin adanya jaminan supaya tidak merugi lagi seperti tahun-tahun sebelumnya,” tegas dia.

Pewarta: Nugraha Perdana

KOTA BATU – Harga daging ayam di pasaran saat ini mencapai Rp 30 ribu per kilogram. Kondisi ini banyak dikeluhkan oleh para peternak karena merugi. Untuk merespons hal itu, Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia menggelar kegiatan di Hotel Singhasari Resort & Convention, Kamis (10/12).

Ketua PINSAR Jawa Timur H Kholiq mengatakan adanya kegiatan tersebut untuk mempertahankan aturan yang ada sebelumnya. Dia mengatakan pada tahun 2019 lalu pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) membuka pintu bagi para pengusaha perunggasan swasta untuk berinvestasi di bidang pembibitan grand parent stock (GPS) atau indukan ayam ras pedaging. Tujuan pemerintah membuka investasi itu untuk menekan importasi GPS.

“Itu menyebabkan kerugian sangat besar bagi peternak karena GPS yang dikeluarkan oleh pemerintah sangat besar. Akibatnya PS (parent stock) berlebihan, jumlah DOC (day old chick) banyak sekali juga,” kata pria yang juga peternak ayam asal Tumpang, Kabupaten Malang.

Dia mengungkapkan, sejak tahun lalu peternak mengalami kerugian sekitar Rp 3.000 setiap kilogram penjualan ayam broiler. Dengan demikian, kerugian setiap peternak rata-rata di atas Rp 100 juta sejak tahun lalu sampai saat ini.

Meski begitu, Kholiq melanjutkan, Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) sudah mengupayakan langkah stabilisasi pasokan dengan harapan harga ayam hidup di tingkat peternak berangsur mengalami kenaikan dan stabil. Salah satunya, telah diterbitkannya Surat Edaran (SE) Dirjen PKH No. 09246T/SE/PK/230./F/08/2020 Tentang Pengurangan DOC FS Melalui Cutting Hatching Egg (HE) Umur 18 Hari, Penyesuaian Setting HE dan Afkir Dini Parent Stock (PS) Tahun 2020.

Dia berharap kedepannya, peternak dapat menjual ayam hidup broiler diatas Harga Pokok Penjualan (HPP) seperti saat ini. Dia mengatakan HPP saat ini yakni Rp 17.500. “Sedangkan bulan Januari 2021 diperkirakan menjadi Rp 18.500 karena DOC dan pakan naik. Nah inginnya kedua komoditi itu turun harganya juga,” katanya. Sehingga, menurutnya diperlukan aturan yang baku melalui perpres untuk mempertahankan aturan yang telah ada

Ada sekitar 130 peternak asal Pulau Jawa dan Bali yang berada di Batu. Mereka menggelar acara dengan tema Rembug Nasional Perunggasan Terbitkan Perpres Untuk Perlindungan Terhadap Peternak Rakyat Mandiri. “Peternak itu ingin adanya jaminan supaya tidak merugi lagi seperti tahun-tahun sebelumnya,” tegas dia.

Pewarta: Nugraha Perdana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/