alexametrics
30.2 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Percepat Akselerasi Digital, Menko Airlangga Dukung Bank Digital

RADAR MALANG – Pemanfaatan teknologi bertransformasi menjadi kebutuhan utama di tengah situasi pandemi Covid-19. Momentum ini sekaligus menjadi timing yang tepat utamanya dalam hal akselerasi transformasi figital diberbagai sektor. Terutama disektor keuangan yang secara otomatis bersentuhan langsung dengan program percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN).

”Pemerintah mendorong percepatan transformasi digital di seluruh aspek penunjang aktivitas ekonomi, terutama aktivitas ekonomi digital di Indonesia yang terus mengalami peningkatan.  Bahkan 41,9 persen total transaksi ekonomi digital di Kawasan Asia Tenggara selama tahun 2020 berasal dari Indonesia,” jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Saat ini, total transaksi ekonomi digital Indonesia telah mencapai US$ 44 miliar dan mayoritas disumbang oleh e-commerce.

Transaksi e-commerce, perbankan digital, dan uang elektronik juga diprediksi akan terus meningkat di tahun ini dengan peningkatan terbesar pada transaksi e-commerce. Yakni sebesar 48,4 persen year of year (YoY).

Sementara itu, uang elektronik dan perbankan digital diproyeksikan masing-masing akan mengalami peningkatan sebesar 35,7 persen (YoY) dan 30,1 persen (YoY). Fintech lending turut mengalami perkembangan pesat dimana outstanding pinjaman pada Agustus 2021 tercatat meningkat signifikan menjadi Rp 26,09 triliun. Sementara total pinjaman baru sepanjang tahun 2021 mencapai Rp 101,47 triliun.

Dibalik peluang inovasi yang besar, Indonesia juga masih memiliki sejumlah tantangan yang harus diatasi agar dapat menciptakan ekosistem ekonomi digital yang baik. Indeks Inovasi Global Indonesia tahun 2020 menunjukkan, posisi Indonesia berada di ranking ke-85 dari 131 negara.

Sementara, Indeks Literasi Digital Indonesia tahun 2020 berada pada skala sedang. “Situasi ini membutuhkan terobosan baru dari seluruh pihak. Pembangunan infrastruktur digital, pengembangan SDM, dan regulasi merupakan kunci utama dalam mewujudkan ekosistem ekonomi digital yang mendukung pemulihan ekonomi di berbagai sektor, termasuk sektor keuangan,” ujar Menko Airlangga.

Pemerintah juga mendorong hadirnya bank digital di tanah air. Saat ini, aturan terkait Bank Umum diatur dalam POJK Nomor 12 Tahun 2021 tentang Bank Umum yang mengelompokkan bank berdasarkan modal inti.

Bank dikelompokkan menjadi 4 (empat) Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI). Mulai dari KBMI 1 dengan modal inti sampai dengan Rp 6 triliun dan KBMI 2 dengan modal inti antara Rp 6 triliun sampai Rp 14 triliun. Selanjutnya yakni KBMI 3 dengan modal inti antara Rp 14 triliun sampai Rp 70 triliun dan KBMI 4 dengan modal inti lebih dari Rp 70 Triliun.

Adanya aturan umum ini membuat banyak Bank Buku 1 yang melakukan merger untuk memenuhi persyaratan modal yang naik secara signifikan seiring dengan perkembangan dan transformasi ekonomi digital, saat ini sejumlah perusahaan Financial Technology (fintech) membeli bank Bank Buku 1 dan mengubahnya menjadi Bank Digital. Menko Airlangga mengatakan, “Saat ini, bank digital menjadi semakin bertambah, hasil transformasi dari bank-bank kecil yang dibeli oleh Fintech dan diubah menjadi berbasis bank digital,” tutup Airlangga.

Pewarta: JPRM – Raoul Onley

RADAR MALANG – Pemanfaatan teknologi bertransformasi menjadi kebutuhan utama di tengah situasi pandemi Covid-19. Momentum ini sekaligus menjadi timing yang tepat utamanya dalam hal akselerasi transformasi figital diberbagai sektor. Terutama disektor keuangan yang secara otomatis bersentuhan langsung dengan program percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN).

”Pemerintah mendorong percepatan transformasi digital di seluruh aspek penunjang aktivitas ekonomi, terutama aktivitas ekonomi digital di Indonesia yang terus mengalami peningkatan.  Bahkan 41,9 persen total transaksi ekonomi digital di Kawasan Asia Tenggara selama tahun 2020 berasal dari Indonesia,” jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Saat ini, total transaksi ekonomi digital Indonesia telah mencapai US$ 44 miliar dan mayoritas disumbang oleh e-commerce.

Transaksi e-commerce, perbankan digital, dan uang elektronik juga diprediksi akan terus meningkat di tahun ini dengan peningkatan terbesar pada transaksi e-commerce. Yakni sebesar 48,4 persen year of year (YoY).

Sementara itu, uang elektronik dan perbankan digital diproyeksikan masing-masing akan mengalami peningkatan sebesar 35,7 persen (YoY) dan 30,1 persen (YoY). Fintech lending turut mengalami perkembangan pesat dimana outstanding pinjaman pada Agustus 2021 tercatat meningkat signifikan menjadi Rp 26,09 triliun. Sementara total pinjaman baru sepanjang tahun 2021 mencapai Rp 101,47 triliun.

Dibalik peluang inovasi yang besar, Indonesia juga masih memiliki sejumlah tantangan yang harus diatasi agar dapat menciptakan ekosistem ekonomi digital yang baik. Indeks Inovasi Global Indonesia tahun 2020 menunjukkan, posisi Indonesia berada di ranking ke-85 dari 131 negara.

Sementara, Indeks Literasi Digital Indonesia tahun 2020 berada pada skala sedang. “Situasi ini membutuhkan terobosan baru dari seluruh pihak. Pembangunan infrastruktur digital, pengembangan SDM, dan regulasi merupakan kunci utama dalam mewujudkan ekosistem ekonomi digital yang mendukung pemulihan ekonomi di berbagai sektor, termasuk sektor keuangan,” ujar Menko Airlangga.

Pemerintah juga mendorong hadirnya bank digital di tanah air. Saat ini, aturan terkait Bank Umum diatur dalam POJK Nomor 12 Tahun 2021 tentang Bank Umum yang mengelompokkan bank berdasarkan modal inti.

Bank dikelompokkan menjadi 4 (empat) Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI). Mulai dari KBMI 1 dengan modal inti sampai dengan Rp 6 triliun dan KBMI 2 dengan modal inti antara Rp 6 triliun sampai Rp 14 triliun. Selanjutnya yakni KBMI 3 dengan modal inti antara Rp 14 triliun sampai Rp 70 triliun dan KBMI 4 dengan modal inti lebih dari Rp 70 Triliun.

Adanya aturan umum ini membuat banyak Bank Buku 1 yang melakukan merger untuk memenuhi persyaratan modal yang naik secara signifikan seiring dengan perkembangan dan transformasi ekonomi digital, saat ini sejumlah perusahaan Financial Technology (fintech) membeli bank Bank Buku 1 dan mengubahnya menjadi Bank Digital. Menko Airlangga mengatakan, “Saat ini, bank digital menjadi semakin bertambah, hasil transformasi dari bank-bank kecil yang dibeli oleh Fintech dan diubah menjadi berbasis bank digital,” tutup Airlangga.

Pewarta: JPRM – Raoul Onley

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/