alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Harga Turun Drastis, Peternak Jatim Bagikan 500 Ekor Ayam Gratis

MALANG – Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jatim 500 ekor ayam dan 5 kwintal telur secara gratis kepada warga Kabupaten Malang. Hal ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap anjloknya harga daging ayam hidup di kalangan peternak.

Sekretaris Pinsar Jatim, Fathoni Mahmudi mengatakan, hal ini dilakukan karena saat ini harga ayam hidup dari peternak anjlok. “HPP (Harga Pokok Penjualan) kami dari sarana produksi ayam yang kami pelihara untuk jadi ayam hidup ini Rp 19.500 sementara harga jual jatuh di angka Rp 10 ribu,” tegasnya.

Menurutnya, anjloknya harga ayam hidup dipicu kurang tegasnya pemerintah pusat dalam pengaturan suplai demand bibit ayam yang beredar. Sehingga menyebabkan over stok. Dampaknya, harga ayam di level peternak turun drastis.

“Di kandang, ayam hidup hanya Rp 10 ribu. Sehingga daripada kami jual juga rugi, sementara masyarakat untuk dapat meningkatkan imunnya masih beli dengan harga tinggi,” imbuhnya.

Dia menyebut, penurunan harga ini hanya dirasakan di kalangan peternak UMKM saja. Sedang harga juga daging ayam mati di pasar, masih terbilang stabil, atau berada di angka Rp 35 ribu per kilo.

Fathoni mengaku saat ini sudah banyak peternak ayam yang gulung tikar karena merugi. Sehingga Pinsar Jatim meminta agar ada perhatian dari pemerintah untuk bisa dapat mengontrol dalam pengimplementasian perundang-undangan dan Permentan nomor 32 tentang perlindungan peternak rakyat skala UMKM.

Permintaan ketegasan ini, dia sebut lebih condong mengarah pada Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) di bawah Kementerian Pertanian. “Pengaturan suplai demand yang tidak sempurna di level peternak, membuat pelaku UMKM seperti kami mengalami kerugian yang sangat besar,” tandasnya.

Pihaknya berharap, pemerintah pusat bisa peduli terhadap para warga yang mempunyai usaha peternakan ayam. Dengan cara lebih dapat mengatur stok, sehingga harga daging ayam hidup bisa kembali stabil.

Jika fenomena seperti ini terus terjadi, bukan tidak mungkin jika akhirnya akan semakin banyak peternak ayam yang akan bangkrut, karena biaya operasional dan penjualan tidak seimbang.

“Kami berharap ini segera menemukan solusinya, sehingga UMKM seperti kami ini bisa hidup kembali,” pungkas Fathoni.

Pewarta: Achmad Fikyansyah

MALANG – Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jatim 500 ekor ayam dan 5 kwintal telur secara gratis kepada warga Kabupaten Malang. Hal ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap anjloknya harga daging ayam hidup di kalangan peternak.

Sekretaris Pinsar Jatim, Fathoni Mahmudi mengatakan, hal ini dilakukan karena saat ini harga ayam hidup dari peternak anjlok. “HPP (Harga Pokok Penjualan) kami dari sarana produksi ayam yang kami pelihara untuk jadi ayam hidup ini Rp 19.500 sementara harga jual jatuh di angka Rp 10 ribu,” tegasnya.

Menurutnya, anjloknya harga ayam hidup dipicu kurang tegasnya pemerintah pusat dalam pengaturan suplai demand bibit ayam yang beredar. Sehingga menyebabkan over stok. Dampaknya, harga ayam di level peternak turun drastis.

“Di kandang, ayam hidup hanya Rp 10 ribu. Sehingga daripada kami jual juga rugi, sementara masyarakat untuk dapat meningkatkan imunnya masih beli dengan harga tinggi,” imbuhnya.

Dia menyebut, penurunan harga ini hanya dirasakan di kalangan peternak UMKM saja. Sedang harga juga daging ayam mati di pasar, masih terbilang stabil, atau berada di angka Rp 35 ribu per kilo.

Fathoni mengaku saat ini sudah banyak peternak ayam yang gulung tikar karena merugi. Sehingga Pinsar Jatim meminta agar ada perhatian dari pemerintah untuk bisa dapat mengontrol dalam pengimplementasian perundang-undangan dan Permentan nomor 32 tentang perlindungan peternak rakyat skala UMKM.

Permintaan ketegasan ini, dia sebut lebih condong mengarah pada Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) di bawah Kementerian Pertanian. “Pengaturan suplai demand yang tidak sempurna di level peternak, membuat pelaku UMKM seperti kami mengalami kerugian yang sangat besar,” tandasnya.

Pihaknya berharap, pemerintah pusat bisa peduli terhadap para warga yang mempunyai usaha peternakan ayam. Dengan cara lebih dapat mengatur stok, sehingga harga daging ayam hidup bisa kembali stabil.

Jika fenomena seperti ini terus terjadi, bukan tidak mungkin jika akhirnya akan semakin banyak peternak ayam yang akan bangkrut, karena biaya operasional dan penjualan tidak seimbang.

“Kami berharap ini segera menemukan solusinya, sehingga UMKM seperti kami ini bisa hidup kembali,” pungkas Fathoni.

Pewarta: Achmad Fikyansyah

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/