alexametrics
24.1 C
Malang
Thursday, 21 October 2021

Terimbas PPKM, Petani Sayur di Kabupaten Malang Menjerit

KEPANJEN – Imbas dari kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) turut berdampak terhadap para petani sayur di Kabupaten Malang. Mereka ‘menjerit’ sebab hingga kemarin (13/10), harga komoditas sayur relatif masih belum stabil.

Kini, harga sayuran di Kabupaten Malang bahkan merosot hingga 50 persen. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Budiar Anwar mengatakan, rata-rata penurunan harga sayuran berkisar 30 persen hingga 50 persen.

Untuk menekan laju penurunan harga tersebut, Budiar meminta para tetap petani menjaga produktivitas tanaman mereka.

”Caranya mereka (petani) harus paham kondisi. Ketika permintaan diperkirakan akan menurun, ya jangan sampai stoknya berlebihan. Kalau stok berlebih, imbasnya harga turun,” ujarnya kemarin (13/10).

Budiar mengatakan, harga sayuran merosot karena di masa PPKM ini banyak pengusaha kuliner gulung tikar. Dengan demikian, para pengusaha yang biasanya membeli sayuran, terpaksa tidak membeli lagi.

Dia memberikan trik agar petani tak banyak merugi di masa pandemi ini. “Sayuran ini rata-rata panen tiga bulan sekali. Saat komoditas sayuran jenis A diprediksi bakal naik dalam waktu tiga bulan ke depan, maka petani bisa menanam sayuran jenis A tersebut,” kata mantan Kasubag Humas Pemkab Malang itu.(fik/dan/rmc)

KEPANJEN – Imbas dari kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) turut berdampak terhadap para petani sayur di Kabupaten Malang. Mereka ‘menjerit’ sebab hingga kemarin (13/10), harga komoditas sayur relatif masih belum stabil.

Kini, harga sayuran di Kabupaten Malang bahkan merosot hingga 50 persen. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Budiar Anwar mengatakan, rata-rata penurunan harga sayuran berkisar 30 persen hingga 50 persen.

Untuk menekan laju penurunan harga tersebut, Budiar meminta para tetap petani menjaga produktivitas tanaman mereka.

”Caranya mereka (petani) harus paham kondisi. Ketika permintaan diperkirakan akan menurun, ya jangan sampai stoknya berlebihan. Kalau stok berlebih, imbasnya harga turun,” ujarnya kemarin (13/10).

Budiar mengatakan, harga sayuran merosot karena di masa PPKM ini banyak pengusaha kuliner gulung tikar. Dengan demikian, para pengusaha yang biasanya membeli sayuran, terpaksa tidak membeli lagi.

Dia memberikan trik agar petani tak banyak merugi di masa pandemi ini. “Sayuran ini rata-rata panen tiga bulan sekali. Saat komoditas sayuran jenis A diprediksi bakal naik dalam waktu tiga bulan ke depan, maka petani bisa menanam sayuran jenis A tersebut,” kata mantan Kasubag Humas Pemkab Malang itu.(fik/dan/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru