alexametrics
27C
Malang
Tuesday, 2 March 2021

Ekonom Faisal Basri Kritisi Peleburan Pegadaian, BRI dan PNM

JAKARTA – Rencana penggabungan PT Pegadaian (Persero) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk serta PNM (Perusahaan Nasional Madani) mendapat perhatian serius dari pengamat ekonomi Faisal Basri. Ia dinilai, penggabungan akan merubah fungsi dan peran Pegadaian karena kedua perusahaan plat merah ini punya karakter bisnis berbeda.

Ia menuturkan, BRI merupakan bank yang membantu perusahaan menengah dan besar dengan persyaratan yang ketat. Sementara PNM merupakan lembaga pembiayaan yang membantu pengusaha menengah dan kecil yang tidak bank minded.

Pun demikian pegadaian yang lebih banyak membantu sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan masyarakat umumnya menggadaikan barang tanpa prosedur ketat untuk mendapatkan dana segar.

Jika diibaratkan makanan, Ekonom senior Universitas Indonesia mengibaratkan BRI adalah steak, PNM adalah opor ayam akan terasa enak jika dimakan sendiri sendiri.

“Pecel enak, steak enak, opor ayam enak, tapi kalau semua digabung, semua jadi tidak enak,” ungkap Faisal Basri dalam acara Seminar Nasional Serikat Pekerja (SP) Pegadaian yang digelar secara virtual di All Sedayu Hotel Jakarta Utara, Rabu (13/1/2021).

Alih-alih penggabungan, Faizal Basri mengusulkan agar PT Pegadaian (Persero) menjadi perusahaan terbuka atau go public melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) agar perusahaan ini bisa tetap menjalankan fungsinya secara terbuka dan bisa diakses oleh masyarakat.

“Listing saja ke bursa. Enggak usah gede-gede, 5 persen saja. Saya kira Pegadaian akan semakin berkembang,” imbuh dia.

Rencana Menteri BUMN untuk membentuk induk perusahaan guna memperkuat sektor UMKM justru bertentangan untuk memajukan UMKM.

“Jika ingin membuat PNM dan Pegadaian melaju kencang, bukan di bawah ketiak perbankan,” tandas Faisal.

Pewarta: Raoul Onley

JAKARTA – Rencana penggabungan PT Pegadaian (Persero) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk serta PNM (Perusahaan Nasional Madani) mendapat perhatian serius dari pengamat ekonomi Faisal Basri. Ia dinilai, penggabungan akan merubah fungsi dan peran Pegadaian karena kedua perusahaan plat merah ini punya karakter bisnis berbeda.

Ia menuturkan, BRI merupakan bank yang membantu perusahaan menengah dan besar dengan persyaratan yang ketat. Sementara PNM merupakan lembaga pembiayaan yang membantu pengusaha menengah dan kecil yang tidak bank minded.

Pun demikian pegadaian yang lebih banyak membantu sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan masyarakat umumnya menggadaikan barang tanpa prosedur ketat untuk mendapatkan dana segar.

Jika diibaratkan makanan, Ekonom senior Universitas Indonesia mengibaratkan BRI adalah steak, PNM adalah opor ayam akan terasa enak jika dimakan sendiri sendiri.

“Pecel enak, steak enak, opor ayam enak, tapi kalau semua digabung, semua jadi tidak enak,” ungkap Faisal Basri dalam acara Seminar Nasional Serikat Pekerja (SP) Pegadaian yang digelar secara virtual di All Sedayu Hotel Jakarta Utara, Rabu (13/1/2021).

Alih-alih penggabungan, Faizal Basri mengusulkan agar PT Pegadaian (Persero) menjadi perusahaan terbuka atau go public melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) agar perusahaan ini bisa tetap menjalankan fungsinya secara terbuka dan bisa diakses oleh masyarakat.

“Listing saja ke bursa. Enggak usah gede-gede, 5 persen saja. Saya kira Pegadaian akan semakin berkembang,” imbuh dia.

Rencana Menteri BUMN untuk membentuk induk perusahaan guna memperkuat sektor UMKM justru bertentangan untuk memajukan UMKM.

“Jika ingin membuat PNM dan Pegadaian melaju kencang, bukan di bawah ketiak perbankan,” tandas Faisal.

Pewarta: Raoul Onley

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru