alexametrics
26.5 C
Malang
Saturday, 5 December 2020

Oknum Eks Pinca Bank Jatim Kepanjen Mainkan Kredit Ratusan Miliar

KEPANJEN – Dugaan penyaluran kredit yang tak wajar dengan nilai fantastis terjadi di Bank Jatim Cabang Kepanjen. Nilai penyimpangannya tak main-main, puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Penyelidikan kasus ini terus bergulir sejak tahun lalu, dari yang penyelidikan, naik status ke penyidikan. Dari yang ditangani Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepanjen, kini ditangani Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim. Namun hingga kini, belum ada tersangka yang ditetapkan.

DB, nasabah yang mengaku sebagai korban dalam kasus tersebut bercerita, semua berawal pada sekitar akhir 2017. ”Saat itu saya didatangi oleh petugas Bank Jatim Cabang Kepanjen. Saya ditawari untuk menjadi nasabahnya,” cerita DB yang merupakan salah satu pengusaha properti di Kabupaten Malang.

DB ditawari kredit dalam jumlah besar. ”Saya pun tertarik karena kebetulan sedang butuh tambahan modal,” lanjut pengusaha muda ini.

Apalagi, DB melanjutkan, yang ikut menawarinya kredit adalah MR, pemimpin cabang Bank Jatim Kepanjen saat itu. ”Saya tegaskan di awal, saya tidak mau kalau pinjamannya sedikit karena bisnis yang saya jalankan butuh modal besar,” cerita DB.

Setelah mengadakan pertemuan beberapa kali dengan si pemimpin cabang bank itu, DB mengajukan pinjaman sebesar Rp 100 miliar. Namun, karena plafon maksimal bank milik Pemprov Jatim itu di tingkat cabang maksimal hanya Rp 3 miliar, maka diaturlah skenario. Yang mengatur skenario, menurut DB, adalah MR langsung. ”Saya manut saja saat itu,” imbuh DB.

Di antara skenario itu adalah jumlah kredit Rp 100 miliar harus dipecah-pecah menjadi nominal lebih kecil, mulai Rp 500 juta hingga Rp 3 miliar, sampai nilai totalnya mencapai Rp 100 miliar. Selanjutnya, nama peminjamnya tak boleh satu orang. Makanya, DB disuruh merekrut beberapa orang untuk dijadikan sebagai nama-nama peminjam.

Jadi, mereka ini boleh dibilang sebagai peminjam atas nama karena nama-namanya hanya dipakai untuk memuluskan pencairan kredit DB. Tak hanya itu, menurut DB, sertifikat-sertifikat aset miliknya, yang semula atas namanya yang akan dijadikan agunan untuk pinjaman Rp 100 miliar itu, harus dibaliknamakan menjadi milik nama-nama yang menjadi peminjam tadi. Mengapa DB mau melakukan itu? Karena yang mengatur cara dan tahapan seperti itu adalah MR. ”

Masak saya tidak percaya? Lagi pula, saya sebelumnya tidak tahu-menahu soal prosedur peminjaman uang di bank,” jelasnya.

Setelah semua tahapan dilakukan dan berkas-berkas juga diberikan, DB pun menunggu pencairan kreditnya. Hingga berbulan-bulan tak ada kabar. Hingga suatu ketika DB mengonfirmasi ke MR. Selanjutnya, berkas-berkas pengajuan kredit diverifikasi oleh internal bank. Akhirnya kredit DB cair. Tapi, yang mengejutkan DB, jumlah kredit yang dicairkan bukan Rp 100 miliar, tapi hanya sekitar Rp 43 miliar.

Januari 2018, perjanjian kredit (PK) oleh notaris mulai dilakukan. Pencairan tahap I pun berjalan mulus. Setiap bulannya, pengajuan kredit yang diajukan oleh DB melalui nama-nama orang rekrutan tadi terus diproses. Hingga Juli 2019, pencairan tahap akhir dilakukan. Sayangnya, dari plafon Rp 43 miliar, DB hanya menerima sekitar Rp 32 miliar, sedangkan sisanya sekitar Rp 11 miliar tidak diberikan.

”Saat itu saya berpikir, uang sekitar Rp 11 miliar yang dipotong dari plafon yang disetujui itu adalah hold amount atau dana yang ditahan oleh bank,” terangnya.

”Dan dana hold itu, pemahaman saya, untuk berjaga-jaga jika terjadi keterlambatan angsuran. Sehingga sistem secara otomatis mendebet angsuran dari dana yang ditahan itu,” tambahnya.

Sehingga, dengan pemahamannya seperti itu, DB tidak mengangsur kreditnya karena merasa akan diangsur melalui dana yang di-hold tadi. Tapi, ternyata yang terjadi tak seperti itu. DB kaget ketika mengetahui bahwa dia telah menunggak angsuran beberapa kali. Lebih kagetnya lagi, statusnya di BI Checking adalah label Call-5. Artinya, kreditnya sudah masuk dalam kategori kredit macet dan debitor tercatat menunggak cicilan kredit lebih dari 180 hari. DB pun masuk dalam daftar hitam perbankan.

”Saya baru mengetahui kondisi itu ketika beberapa orang tim audit internal bank Jatim tiba-tiba menemui saya. Mereka mengaku dari kantor pusat Surabaya,” terangnya. ”Datang pun tidak pada jam kerja, tapi malam hari. Pernah pukul sepuluh malam (22.00) juga,” ujarnya.

Audit yang menurut DB tak wajar ini membuatnya mulai curiga. Karena dalam pemahamannya, audit internal itu hanya berfokus pada kinerja perbankan secara internal, bukan membidik para debitornya. Yang membuatnya lebih curiga lagi, para tim audit internal Bank Jatim dari pusat itu tidak langsung menuju rumahnya, melainkan mendatangi rumah tetangganya di kanan-kiri. Para tim audit itu, DB mengatakan, bahkan melanggar hak privasinya dengan memberitahukan kepada tetangganya bahwa dia memiliki piutang sangat besar yang tidak diangsur berbulan-bulan alias kredit macet.

”Saya menjadi bingung, mengapa bisa sampai seperti ini. Saya mengajukan kredit awalnya karena ditawari. Semua mekanisme yang mengatur juga pihak bank. Tapi mengapa malah saya yang dikejar-kejar?” katanya.

Dalam kondisi seperti itu, DB berusaha menghubungi MR. Pernah suatu ketika bertemu dengan MR, MR menjelaskan kepada DB bahwa sedang ada audit internal. DB sempat menanyakan dana sekitar Rp 11 miliar yang di-hold. Lagi-lagi DB dibuat kaget karena dari Rp 11 miliar itu sudah digunakan MR sekitar Rp 5 miliar. MR mengatakan untuk keperluan administrasi. ”Dia (MR) bahkan sudah membuat surat pernyataan yang mengakui telah menggunakan Rp 5 miliar,” katanya.

Dari penelusuran Jawa Pos Radar Malang, berdasarkan bocoran dokumen audit internal di Bank Jatim, dari jumlah sekitar Rp 11 miliar itu, selain mengalir ke MR juga mengalir ke penyelia kredit. Tercatat ada 23 nama yang pengajuan kreditnya ditangani oleh Bank Jatim Kepanjen melalui MR dan si penyelia kredit itu.

Dalam kondisi ”kemelut” seperti itu, MR dimutasi dari Bank Jatim Kepanjen pada Oktober tahun lalu. DB mencurigai, pemutasian MR dilakukan sebagai langkah penyelamatan. Sebab, sudah jadi rahasia umum, MR adalah anak salah satu mantan pejabat penting di Bank Jatim yang meski sudah pensiun, tapi disebut-sebut masih mempunyai pengaruh.

Episode selanjutnya, DB merasa menjadi ”bulan-bulanan”. Kasus ini pun bergulir di ranah hukum. Aparat dari Kejaksanaan Negeri (Kejari) Kepanjen turun untuk menyelidiki kasus penyimpangan di Bank Jatim Kepanjen. DB lantas diperiksa. Ternyata, yang dimintai keterangan tak hanya DB, ada empat pengusaha lainnya yang juga diperiksa. Mereka tampaknya juga menjadi ”korban” dari skenario pencairan kredit yang tak wajar dari Bank Jatim Kepanjen.

Jadi, total ada lima pengusaha yang diperiksa. Selain DB, mereka adalah AP, pengusaha karoseri di Gondanglegi; MG, pengusaha furnitur yang cukup ternama di Malang; NJ, pengusaha asal Turen; dan CN, pengusaha properti di Kota Malang. Jika ditotal, kredit yang dikucurkan oleh Bank Jatim Kepanjen kepada kelima pengusaha itu mencapai Rp 200 miliar. Sayangnya, dari lima pengusaha yang menjadi ”korban” itu, hanya DB yang bersedia diwawancarai dan dikonfirmasi. MG ketika ditemui wartawan koran ini tak bersedia berkomentar.

Tak hanya Kejari Kepanjen yang turun tangan. Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perwakilan Malang, DB mengatakan, juga turun tangan. Itu terjadi di awal-awal 2020. Hingga Maret lalu, kasus ini masih ditangani Kejari Kepanjen. Sudah beberapa kali lima pengusaha tadi dimintai keterangan oleh Kejari Kepanjen. Saat itu surat panggilan ditanda tangani oleh Kasi Pidsus Kejari Kepanjen Muhandas Ullimen.

”Semua saya beberkan apa adanya. Tidak ada satu pun yang saya tutup-tutupi,” tukas laki-laki yang juga pengusaha pupuk ini.

Hingga menjelang pertengahan Maret lalu, kasus ini tiba-tiba diambil alih oleh kejaksaan tinggi (kejati). Ketika ditangani kejati, DB juga beberapa kali diperiksa. Yang membuat janggal DB, surat pemberitahuan pemanggilan yang diteken Kasidik Pidsus Kejati Antonius Despinola itu dikirimkan melalui pesan WhatsApp (WA). Karena posisi DB waktu itu masih berada di Jakarta untuk urusan bisnis, dia tidak bisa memenuhi pemanggilan tersebut.

”Sekitar dua atau tiga hari setelah saya pulang dari Jakarta, baru saya datang ke kejati,” katanya.

Ketika diperiksa di kejati itu, materi pemeriksaannya hampir sama dengan pemeriksaan di kejari, yakni seputar proses pengajuan kredit yang dilakukannya di Bank Jatim Kepanjen. Tak sendirian, DB juga bertemu dengan empat pengusaha lain yang terlibat dalam kasus serupa. Pemanggilan oleh kejati terus berlanjut.

Sejumlah petugas Bank Jatim Kepanjen kabarnya juga diperiksa di kejati, mulai dari petugas teller yang terkait dengan pencairan kredit, analis kredit, hingga MR dan driver-nya, sedangkan si penyelia kredit kabarnya telah dinon-job-kan.
Pada 24 Agustus lalu, DB bersama para pengusaha yang menjadi korban dipanggil lagi di kejati. Kali ini, masih kata DB, penyidikan sudah mengarah lebih jauh, bahkan ada kesan DB dan keempat temannya disangka menjadi komplotan si pimpinan bank untuk melakukan pencucian uang bersama-sama dan memperkaya diri. DB pun syok.

”Saya ini kan nasabah, mengajukan pinjaman atas penawaran yang dilakukan berulang-ulang. Saya juga tidak memiliki wewenang apa pun dalam mengatur kebijakan bank. Kok sekarang malah dituduh berkomplot?” kata dia geram. ”Apalagi korupsi. Menjadi ketua RT saja tidak pernah, ini malah dituduh korupsi. Saya tidak habis pikir,” tandasnya seraya menunjukkan berbagai dokumen dan berkas kepada Jawa Pos Radar Malang.

Selain diperiksa di kejati, DB juga mengaku pernah diperiksa di Polda Jatim. Yang menarik, saat diperiksa di depan penyidik Polda Jatim, DB sempat bertemu dengan MR. Tapi, yang membuat DB jengkel, saat itu MR mengaku tidak mengenalnya. Padahal, DB beberapa kali bertemu MR. Berkat ”rayuan” MR-lah, DB akhirnya mengajukan kredit ke Bank Jatim Kepanjen. Untuk meyakinkan wartawan koran ini, DB lantas menunjukkan foto-foto dokumentasi pertemuannya dengan MR.

Kini, nasib DB ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Di masa susah karena pandemi seperti ini, dia harus menerima kenyataan, namanya di-blacklist perbankan. Semua usahanya pun macet. Akibatnya, ratusan karyawannya terpaksa dirumahkan karena tak sanggup membayar gaji dan tak ada proyek yang berjalan. (tim rm)

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Belajar Daring, Bikin Pendidik Mendadak Jadi Youtuber

MALANG KOTA - Masa pandemi membuat sistem pendidikan harus menyesuaikan diri agar tetap berjalan meski dilaksanakan dari jarak jauh (daring/PJJ). Sehingga, guru dituntut tak hanya mengajar, tapi juga mendidik dengan cara lebih fleksibel, kreatif, menarik dan menyenangkan.

Free Runners Malang Ngopi Sehat di Cafe NGORAN

MALANG KOTA - Cafe NGORAN yang dibuka tiap pagi selama seminggu ini di halaman Jawa Pos Radar Malang mampu menjadi magnet bagi komunitas di Malang raya untuk menggelar gathering santai. Salah satunya adalah komunitas Free Runners Malang, yang pagi tadi, Sabtu (5/12) terlihat asyik bercengkrama di cafe yang memiliki bar berupa kendaraan oranye serupa Bajaj besutan Social Palace tersebut.

Jalur alternatif Avia Dibuka Lagi

MALANG KOTA - Akibat berita miring jalur alternatif Avia berbayar, per Rabu (18/11) jalur ini ditutup. Namun siapa sangka, pada Jumat (4/12) kemarin trabasan ini dibuka lagi.

Distribusi Surat Suara Pilkada Kabupaten Malang Target Tuntas 2 Hari

KEPANJEN - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Malang menargetkan pendistribusian kertas surat suara dan logistik lain ke panitia pemilihan kecamatan (PPK), selesai dalam dua hari, yaitu pada tanggal 6-7 Desember mendatang.

Susul Mortal Kombat, Suicide Squad dan Conjuring Tayang di HBO Max

RADARMALANG - HBO Max telah mengumumkan akan ada 17 film dari Warner Bros yang rilis di layanan streaming tersebut. Semua film akan tersedia di HBO Max berbarengan dengan perilisan filmnya di bioskop. Film-film tersebut akan tersedia untuk pelanggan HBO Max tanpa biaya tambahan dan akan tersedia secara eksklusif selama sebulan, sama seperti Wonder Woman 1984.

Wajib Dibaca

Belajar Daring, Bikin Pendidik Mendadak Jadi Youtuber

MALANG KOTA - Masa pandemi membuat sistem pendidikan harus menyesuaikan diri agar tetap berjalan meski dilaksanakan dari jarak jauh (daring/PJJ). Sehingga, guru dituntut tak hanya mengajar, tapi juga mendidik dengan cara lebih fleksibel, kreatif, menarik dan menyenangkan.

Free Runners Malang Ngopi Sehat di Cafe NGORAN

MALANG KOTA - Cafe NGORAN yang dibuka tiap pagi selama seminggu ini di halaman Jawa Pos Radar Malang mampu menjadi magnet bagi komunitas di Malang raya untuk menggelar gathering santai. Salah satunya adalah komunitas Free Runners Malang, yang pagi tadi, Sabtu (5/12) terlihat asyik bercengkrama di cafe yang memiliki bar berupa kendaraan oranye serupa Bajaj besutan Social Palace tersebut.

Jalur alternatif Avia Dibuka Lagi

MALANG KOTA - Akibat berita miring jalur alternatif Avia berbayar, per Rabu (18/11) jalur ini ditutup. Namun siapa sangka, pada Jumat (4/12) kemarin trabasan ini dibuka lagi.

Distribusi Surat Suara Pilkada Kabupaten Malang Target Tuntas 2 Hari

KEPANJEN - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Malang menargetkan pendistribusian kertas surat suara dan logistik lain ke panitia pemilihan kecamatan (PPK), selesai dalam dua hari, yaitu pada tanggal 6-7 Desember mendatang.