alexametrics
23C
Malang
Wednesday, 3 March 2021

Bupati Malang Optimis Tahun Ini Bisa Serap Investasi Rp 20 Triliun

MALANG – Pandemi tak menyurutkan optimisme Bupati Malang Sanusi terkait pertumbuhan iklim investasi di Kabupaten Malang.

”Kalau satu investor masing-masing Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun, maka totalnya ya sekitar Rp 20 triliun yang nanti akan menanamkan modalnya di Kabupaten Malang,” kata Bupati Malang Sanusi, beberapa waktu yang lalu.

Bupati yang berdomisili di Kecamatan Gondanglegi ini mengaku sudah berkomunikasi dengan sejumlah calon investor. ”Sebelumnya ada (calon investor) dari Belanda yang tertarik untuk melakukan investasi di bidang pengelolaan pariwisata dan penyediaan sarana perhotelan di Malang selatan. Saat ini masih dalam penjajakan,” beber pria berusia 60 tahun itu.

Selain dari Belanda, Sanusi juga mengatakan bahwa pihaknya sudah berkomunikasi dengan investor asal Dubai, Uni Emirat Arab, untuk membangun wilayah Malang Selatan.

”Kalau yang dari Dubai, selain perhotelan, mereka juga berencana untuk mengembangkan sport tourism-nya. Jadi akan dikembangkan lebih maksimal lagi wahana permainan airnya. Seperti jetski, paralayang, diving, dan yang lainnya,” imbuh Sanusi.

Sejak jauh-jauh hari, Pemkab Malang memang sudah menunjukkan agresifitasnya dalam membuka peluang investasi. Pada 10 Desember 2019 lalu, bersama DPRD Kabupaten Malang, mereka sudah meneken peraturan daerah (Perda) nomor 3 tahun 2019 tentang pemberian insentif dan kemudahan investasi.

Di tahun yang sama, wilayah ibukota Kabupaten Malang, yakni Kepanjen, memang resmi didatangi dua investor lokal. Yang sama-sama memulai pembangunan hotel di Kepanjen. Dalam Perda yang sudah diteken itu, Sanusi menyebut bila pihaknya berpeluang memberikan insentif kepada para investor yang masuk dalam kategori yang ditentukan.

Salah satunya, berhasil memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Hingga investor yang terbukti mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal, menggunakan sebagian besar sumber daya lokal, dan beberapa hal lainnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat menambahkan, saat ini juga banyak desa di wilayahnya yang berpotensi untuk dimasuki investor.

”Banyak desa yang sekarang menjalankan BUMDes (badan usaha milik desa). Selain bisa mengoptimalkan potensi masing-masing, mereka (pihak desa) juga bisa melakukan kerjasama dengan pihak ketiga untuk dapat mengembangkan wisata yang ada di desa,” terangnya.

Ia juga mengatakan bahwa saat ini sudah ada beberapa investor yang melirik kawasan ekonomi khusus (KEK) Singhasari. Berdasarkan laporan terakhir yang dia terima, sudah ada 7 investor yang masuk ke sana.

”Mereka sudah melakukan kerja sama dan sudah tanda tangan MoU (memorandum of understanding) juga,” kata Wahyu.

Pejabat eselon II A Pemkab Malang itu menilai, progres KEK Singhasari lebih baik ketimbang KEK di daerah lain.

Untuk diketahui, di Indonesia saat ini ada 15 daerah yang ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus atau KEK. Sejumlah 11 di antaranya sudah beroperasi dan 4 sisanya masih dalam tahap pembangunan. Yang masih dalam tahap pembangunan yakni KEK Tanjung Api-Api di Sumatera Selatan, KEK Kendal di Jawa Tengah, KEK Likupang di Sulawesi Utara, dan KEK Singhasari di Kabupaten Malang.

”Di antara KEK yang saat ini sedang digarap secara nasional, KEK Singhasari menjadi kawasan ekonomi khusus yang paling terdepan progresnya secara nasional,” kata Wahyu.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Malang, Subur Hutagalung, menyebut ada sejumlah alasan investor banyak melirik Kabupaten terluas kedua di Jatim itu. Yang utama karena Kabupaten Malang memiliki segala potensi alam. Seperti laut, dataran hingga pegunungan. Sehingga sangat banyak potensi yang bisa dimasuki investor.

”Yang tidak ada di daerah lain, di Kabupaten Malang ada. Contohnya mulai dari perkebunan, laut, pegunungan dan perikanan,” imbuhnya. (fik/nug/adn/by/rmc)

MALANG – Pandemi tak menyurutkan optimisme Bupati Malang Sanusi terkait pertumbuhan iklim investasi di Kabupaten Malang.

”Kalau satu investor masing-masing Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun, maka totalnya ya sekitar Rp 20 triliun yang nanti akan menanamkan modalnya di Kabupaten Malang,” kata Bupati Malang Sanusi, beberapa waktu yang lalu.

Bupati yang berdomisili di Kecamatan Gondanglegi ini mengaku sudah berkomunikasi dengan sejumlah calon investor. ”Sebelumnya ada (calon investor) dari Belanda yang tertarik untuk melakukan investasi di bidang pengelolaan pariwisata dan penyediaan sarana perhotelan di Malang selatan. Saat ini masih dalam penjajakan,” beber pria berusia 60 tahun itu.

Selain dari Belanda, Sanusi juga mengatakan bahwa pihaknya sudah berkomunikasi dengan investor asal Dubai, Uni Emirat Arab, untuk membangun wilayah Malang Selatan.

”Kalau yang dari Dubai, selain perhotelan, mereka juga berencana untuk mengembangkan sport tourism-nya. Jadi akan dikembangkan lebih maksimal lagi wahana permainan airnya. Seperti jetski, paralayang, diving, dan yang lainnya,” imbuh Sanusi.

Sejak jauh-jauh hari, Pemkab Malang memang sudah menunjukkan agresifitasnya dalam membuka peluang investasi. Pada 10 Desember 2019 lalu, bersama DPRD Kabupaten Malang, mereka sudah meneken peraturan daerah (Perda) nomor 3 tahun 2019 tentang pemberian insentif dan kemudahan investasi.

Di tahun yang sama, wilayah ibukota Kabupaten Malang, yakni Kepanjen, memang resmi didatangi dua investor lokal. Yang sama-sama memulai pembangunan hotel di Kepanjen. Dalam Perda yang sudah diteken itu, Sanusi menyebut bila pihaknya berpeluang memberikan insentif kepada para investor yang masuk dalam kategori yang ditentukan.

Salah satunya, berhasil memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Hingga investor yang terbukti mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal, menggunakan sebagian besar sumber daya lokal, dan beberapa hal lainnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat menambahkan, saat ini juga banyak desa di wilayahnya yang berpotensi untuk dimasuki investor.

”Banyak desa yang sekarang menjalankan BUMDes (badan usaha milik desa). Selain bisa mengoptimalkan potensi masing-masing, mereka (pihak desa) juga bisa melakukan kerjasama dengan pihak ketiga untuk dapat mengembangkan wisata yang ada di desa,” terangnya.

Ia juga mengatakan bahwa saat ini sudah ada beberapa investor yang melirik kawasan ekonomi khusus (KEK) Singhasari. Berdasarkan laporan terakhir yang dia terima, sudah ada 7 investor yang masuk ke sana.

”Mereka sudah melakukan kerja sama dan sudah tanda tangan MoU (memorandum of understanding) juga,” kata Wahyu.

Pejabat eselon II A Pemkab Malang itu menilai, progres KEK Singhasari lebih baik ketimbang KEK di daerah lain.

Untuk diketahui, di Indonesia saat ini ada 15 daerah yang ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus atau KEK. Sejumlah 11 di antaranya sudah beroperasi dan 4 sisanya masih dalam tahap pembangunan. Yang masih dalam tahap pembangunan yakni KEK Tanjung Api-Api di Sumatera Selatan, KEK Kendal di Jawa Tengah, KEK Likupang di Sulawesi Utara, dan KEK Singhasari di Kabupaten Malang.

”Di antara KEK yang saat ini sedang digarap secara nasional, KEK Singhasari menjadi kawasan ekonomi khusus yang paling terdepan progresnya secara nasional,” kata Wahyu.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Malang, Subur Hutagalung, menyebut ada sejumlah alasan investor banyak melirik Kabupaten terluas kedua di Jatim itu. Yang utama karena Kabupaten Malang memiliki segala potensi alam. Seperti laut, dataran hingga pegunungan. Sehingga sangat banyak potensi yang bisa dimasuki investor.

”Yang tidak ada di daerah lain, di Kabupaten Malang ada. Contohnya mulai dari perkebunan, laut, pegunungan dan perikanan,” imbuhnya. (fik/nug/adn/by/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru