alexametrics
20.8 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Apel, Ikonik Kota Batu yang Kian Redup

KOTA BATU – Menyebut Kota Batu, akan terbayang ikonnya ke buah apel. Keberadaan buah ini lambat laun semakin terancam. Produktivitasnya kian tahun terus menurun. Banyak faktor jadi penyebabnya, mulai dari perubahan iklim, menyusutnya lahan pertanian, hingga potensi pertanian lain yang lebih menggiurkan. Jika tak ingin ikon Kota Wisata itu punah, maka butuh perhatian semua pihak.

Terancamnya keberlangsungan buah apel ini seperti tergambar pada keluhan pedagang dan petani apel di Kota Batu. Asminah, 65, pedagang apel di pasar Kota Batu mengaku dalam beberapa bulan ini, terutama sejak Idul Fitri yang lalu, stok apel lokal terus menipis. Barangnya langka. Sehingga harga kulakannya pun menjadi mahal.

Asminah menyebutkan, harga kulakan apel manalagi misalnya, yang biasanya Rp 10 ribu per kilogram (kg), menjadi Rp 15 ribu. Apel manalagi itu biasanya yang paling laris. Namun stok di petani juga sudah tidak banyak lagi. Padahal permintaan masih cukup besar. ”Barangnya sedikit, jadinya harganya mahal,” keluh Asminah beberapa hari lalu.

Winardi, petani apel Desa Pandanrejo, juga mengakui jika pertanian apel sedang menurun. Di Kecamatan Bumiaji saja misalnya, sudah tak banyak petani yang menanam apel. Faktornya banyak. Sebagian lahan pertanian diubah jadi lokasi wisata alam. Biaya perawatan mahal, sementara pemasaran sulit. ”Permasalahan itulah membuat banyak petani apel yang beralih menanam jeruk. Mulai dari mencari bibit yang sulit, pemeliharaan yang mahal, dan juga sulitnya mencari pekerja di bidang pertanian,” terangnya.

Jumlah panen apel kini sudah tidak sebanyak tahun sebelumnya. (Rubianto/Radar Batu)

Soal perawatan yang mahal, Winardi menjelaskan, pertanian apel untuk perawatan 1 hektare butuh biaya mencapai Rp 2 juta saat musim kemarau. Sedangkan musim hujan bisa dua kali lipatnya. Hasilnya, dari satu hektare saat ini petani hanya bisa panen hingga 20 ton. Ini karena unsur organik dalam tanah yang terus berkurang serta usia pohon yang sudah tua.

”Sedangkan dulu tahun 1990-an sebelum perubahan iklim dan belum pesatnya pariwisata, per hektare lahan mampu menghasilkan 60 ton apel,” kata Winardi.

Sedangkan untuk harga, dia mengungkapkan, saat ini per kilogram apel rata-rata Rp 6.000-Rp 8.000 dari petani ke pedagang. Seharusnya harga jual dari petani untuk mendapat keuntungan di atas Rp 10 ribu. Jika panen serentak pada bulan yang sama bisa hanya Rp 3.000-Rp 5.000 per kg. Harga jual hampir sama dengan jeruk. Namun perawatan apel jauh lebih sulit dan lebih mahal. Inilah yang membuat banyak petani apel hijrah ke jeruk.

Apa yang disampaikan Asminah dan Winardi itu sesuai dengan fakta jika ada penurunan produktivitas pohon apel di Kota Batu. Karena dari data Dinas Pertanian Kota Batu, dari tahun ke tahun komoditas apel kian lesu. Dalam lima tahun terakhir sejak 2015, jumlah tanaman ada 2.121.929 pohon. Jumlah tanaman produktif ada 1.115.081 pohon dengan angka produksi sebanyak 671.207 kuintal dalam setahun. Yang artinya, dalam per satu pohonnya nilai produktivitasnya menghasilkan 15,05 kilogram.

Sementara pada 2019, jumlah tanaman apel menurun menjadi 2.119.165 pohon, dan tanaman yang produktif hanya 857.830 pohon dengan angka produksi apel sebanyak 505.252 kuintal. Artinya, tingkat produktivitas apel dalam per satu pohonnya turun menjadi 14.72 kg.

Terbaru, di 2020 ini, pada triwulan pertama, jumlah produksi apel, 72.274 kuintal apel dari 1.569.145 pohon. Yang mana, jumlah pohon produktif 602.190, sedangkan 903.620 tidak produktif. Sementara, di triwulan ke dua, jumlah produksi apel turun menjadi 43.652 kuintal apel dari 1.119.100 pohon. Yang mana jumlah pohon produktif 335.717, sedangkan 661.048-nya tidak produktif.

Kepala Dinas Pertanian Kota Batu Sugeng Pramono membenarkan adanya penurunan komoditas apel untuk beberapa tahun terakhir ini. Menurut dia, hal itu disebabkan oleh anomali iklim. ”Karena anomali iklim ini menyebabkan suhu rata-rata naik, padahal tanaman buah apel ini memerlukan suhu yang dingin dan unsur hara yang cukup, jadi terganggu pada produktivitas,” terang Sugeng.

Sedangkan penyebab yang lainnya, dia melanjutkan, pada dasarnya kadar C organik tanah yang baik itu ada di angka 6 persen. Namun, kadar C organik tanah di Kota Batu saat ini berada di angka 2 persen.

Penyebab lain, para petani apel dalam menggunakan bahan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) terlalu berlebihan. Tak hanya itu, dari sisi usia, 80 persen pohon apel sudah waktunya regenerasi. ”Memang sudah di atas 30 tahun lebih,” tandasnya.

Pewarta: Ulfa Afrian

KOTA BATU – Menyebut Kota Batu, akan terbayang ikonnya ke buah apel. Keberadaan buah ini lambat laun semakin terancam. Produktivitasnya kian tahun terus menurun. Banyak faktor jadi penyebabnya, mulai dari perubahan iklim, menyusutnya lahan pertanian, hingga potensi pertanian lain yang lebih menggiurkan. Jika tak ingin ikon Kota Wisata itu punah, maka butuh perhatian semua pihak.

Terancamnya keberlangsungan buah apel ini seperti tergambar pada keluhan pedagang dan petani apel di Kota Batu. Asminah, 65, pedagang apel di pasar Kota Batu mengaku dalam beberapa bulan ini, terutama sejak Idul Fitri yang lalu, stok apel lokal terus menipis. Barangnya langka. Sehingga harga kulakannya pun menjadi mahal.

Asminah menyebutkan, harga kulakan apel manalagi misalnya, yang biasanya Rp 10 ribu per kilogram (kg), menjadi Rp 15 ribu. Apel manalagi itu biasanya yang paling laris. Namun stok di petani juga sudah tidak banyak lagi. Padahal permintaan masih cukup besar. ”Barangnya sedikit, jadinya harganya mahal,” keluh Asminah beberapa hari lalu.

Winardi, petani apel Desa Pandanrejo, juga mengakui jika pertanian apel sedang menurun. Di Kecamatan Bumiaji saja misalnya, sudah tak banyak petani yang menanam apel. Faktornya banyak. Sebagian lahan pertanian diubah jadi lokasi wisata alam. Biaya perawatan mahal, sementara pemasaran sulit. ”Permasalahan itulah membuat banyak petani apel yang beralih menanam jeruk. Mulai dari mencari bibit yang sulit, pemeliharaan yang mahal, dan juga sulitnya mencari pekerja di bidang pertanian,” terangnya.

Jumlah panen apel kini sudah tidak sebanyak tahun sebelumnya. (Rubianto/Radar Batu)

Soal perawatan yang mahal, Winardi menjelaskan, pertanian apel untuk perawatan 1 hektare butuh biaya mencapai Rp 2 juta saat musim kemarau. Sedangkan musim hujan bisa dua kali lipatnya. Hasilnya, dari satu hektare saat ini petani hanya bisa panen hingga 20 ton. Ini karena unsur organik dalam tanah yang terus berkurang serta usia pohon yang sudah tua.

”Sedangkan dulu tahun 1990-an sebelum perubahan iklim dan belum pesatnya pariwisata, per hektare lahan mampu menghasilkan 60 ton apel,” kata Winardi.

Sedangkan untuk harga, dia mengungkapkan, saat ini per kilogram apel rata-rata Rp 6.000-Rp 8.000 dari petani ke pedagang. Seharusnya harga jual dari petani untuk mendapat keuntungan di atas Rp 10 ribu. Jika panen serentak pada bulan yang sama bisa hanya Rp 3.000-Rp 5.000 per kg. Harga jual hampir sama dengan jeruk. Namun perawatan apel jauh lebih sulit dan lebih mahal. Inilah yang membuat banyak petani apel hijrah ke jeruk.

Apa yang disampaikan Asminah dan Winardi itu sesuai dengan fakta jika ada penurunan produktivitas pohon apel di Kota Batu. Karena dari data Dinas Pertanian Kota Batu, dari tahun ke tahun komoditas apel kian lesu. Dalam lima tahun terakhir sejak 2015, jumlah tanaman ada 2.121.929 pohon. Jumlah tanaman produktif ada 1.115.081 pohon dengan angka produksi sebanyak 671.207 kuintal dalam setahun. Yang artinya, dalam per satu pohonnya nilai produktivitasnya menghasilkan 15,05 kilogram.

Sementara pada 2019, jumlah tanaman apel menurun menjadi 2.119.165 pohon, dan tanaman yang produktif hanya 857.830 pohon dengan angka produksi apel sebanyak 505.252 kuintal. Artinya, tingkat produktivitas apel dalam per satu pohonnya turun menjadi 14.72 kg.

Terbaru, di 2020 ini, pada triwulan pertama, jumlah produksi apel, 72.274 kuintal apel dari 1.569.145 pohon. Yang mana, jumlah pohon produktif 602.190, sedangkan 903.620 tidak produktif. Sementara, di triwulan ke dua, jumlah produksi apel turun menjadi 43.652 kuintal apel dari 1.119.100 pohon. Yang mana jumlah pohon produktif 335.717, sedangkan 661.048-nya tidak produktif.

Kepala Dinas Pertanian Kota Batu Sugeng Pramono membenarkan adanya penurunan komoditas apel untuk beberapa tahun terakhir ini. Menurut dia, hal itu disebabkan oleh anomali iklim. ”Karena anomali iklim ini menyebabkan suhu rata-rata naik, padahal tanaman buah apel ini memerlukan suhu yang dingin dan unsur hara yang cukup, jadi terganggu pada produktivitas,” terang Sugeng.

Sedangkan penyebab yang lainnya, dia melanjutkan, pada dasarnya kadar C organik tanah yang baik itu ada di angka 6 persen. Namun, kadar C organik tanah di Kota Batu saat ini berada di angka 2 persen.

Penyebab lain, para petani apel dalam menggunakan bahan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) terlalu berlebihan. Tak hanya itu, dari sisi usia, 80 persen pohon apel sudah waktunya regenerasi. ”Memang sudah di atas 30 tahun lebih,” tandasnya.

Pewarta: Ulfa Afrian

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/