alexametrics
21.6 C
Malang
Sunday, 3 July 2022

Sempat Putus Asa Tak Bisa Jualan, Kelinci Hias Kini Kembali Laris

KOTA BATU – Meningkatnya arus kunjungan wisatawan ke Kota Batu di era tatanan baru, membuat peternak kelinci hias sudah bisa kembali tersenyum. Setelah sempat dibuat putus asa karena empat bulan tidak melakukan penjualan sama sekali, kali ini permintaan kembali meningkat.

”Sekarang (penjualan) sudah naik 50 persen. Ini karena sudah ada wisatawan yang berkunjung,” ungkap Muhamad Sholeh, peternak kelinci hias di Pandesari, Kecamatan Pujon, Jumat (28/8).

Menurut Sholeh, sebelum masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dicabut, para peternak sempat dibuat frustasi. Sebab sama sekali tidak ada pembeli. Apalagi juga aturan tidak boleh ke luar kota sehingga para tengkulak yang biasanya membeli dalam jumlah besar juga tidak ada.

Sholeh menambahkan, kelinci yang dia pelihara beragam jenis. Ada kelinci lokal, New Zealand, dan Holland. Permintaan terbesar yaitu jenis Holland. Sedangkan untuk pemasaran ke Surabaya dan terbanyak ke Bojonegoro.

Dalam seminggu, dia mengaku bisa menjual 100 kelinci. Untuk penjualan eceran dapat menjual 50 kelinci per minggunya. Untuk harga, rata-rata antara Rp 150 ribu sampai Rp 1 juta.

Pria 42 tahun ini pun kerap kekurangan suplai dengan banyaknya permintaan. Karena itu dia menjalin kerja sama dengan peternak lain. Ke depan, dia ingin membentuk paguyuban peternak kelinci.

Pewarta: Wildan

KOTA BATU – Meningkatnya arus kunjungan wisatawan ke Kota Batu di era tatanan baru, membuat peternak kelinci hias sudah bisa kembali tersenyum. Setelah sempat dibuat putus asa karena empat bulan tidak melakukan penjualan sama sekali, kali ini permintaan kembali meningkat.

”Sekarang (penjualan) sudah naik 50 persen. Ini karena sudah ada wisatawan yang berkunjung,” ungkap Muhamad Sholeh, peternak kelinci hias di Pandesari, Kecamatan Pujon, Jumat (28/8).

Menurut Sholeh, sebelum masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dicabut, para peternak sempat dibuat frustasi. Sebab sama sekali tidak ada pembeli. Apalagi juga aturan tidak boleh ke luar kota sehingga para tengkulak yang biasanya membeli dalam jumlah besar juga tidak ada.

Sholeh menambahkan, kelinci yang dia pelihara beragam jenis. Ada kelinci lokal, New Zealand, dan Holland. Permintaan terbesar yaitu jenis Holland. Sedangkan untuk pemasaran ke Surabaya dan terbanyak ke Bojonegoro.

Dalam seminggu, dia mengaku bisa menjual 100 kelinci. Untuk penjualan eceran dapat menjual 50 kelinci per minggunya. Untuk harga, rata-rata antara Rp 150 ribu sampai Rp 1 juta.

Pria 42 tahun ini pun kerap kekurangan suplai dengan banyaknya permintaan. Karena itu dia menjalin kerja sama dengan peternak lain. Ke depan, dia ingin membentuk paguyuban peternak kelinci.

Pewarta: Wildan

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/