alexametrics
22.5 C
Malang
Wednesday, 25 May 2022

Sumpah Pemuda, OJK Malang Ngobrol Keuangan Bareng Ridwan Remin

MALANG KOTA – Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, rangkaian kegiatan Bulan Inklusi Keuangan 2020 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, menghadirkan pembicara muda untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan milenial, dalam webinar bertajuk Tetap Kreatif di Masa Pandemi bersama Komika Ridwan Remin.

Dalam webinar yang diikuti lebih dari 260 peserta dari berbagai daerah tersebut, Remin mengaku, pandemi juga berefek pada stand up comedy. Ia mengatakan, panggung virtual berbeda dengan tampil offline, di televisi, bahkan ketika menghadirkan komedi di YouTube.

“Lebih sulit, salah satunya karena ada delay. Kadang ngelucunya udah selesai tapi belum ada yang ketawa. Giliran udah ngomong, baru audience ketawa. Nah itu salah satu tantangannya,” kata dia.

Ia menambahkan, di masa pandemi, komika juga menghadapi tiga fase. “Bulan pertama pandemi, merasa bersyukur ada tabungan. Walau pemasukan tidak dari tampil. Beberapa bulan berikutnya, masuk masa khawatir. Fase ketiga, masuk masa adaptasi,” urai komika berkacamata ini.

Pada masa adaptasi, komika khususnya dirinya, mencoba memberanikan untuk tampil secara virtual dengan penyesuaian-penyesuaian. Setelah mendobrak ketakutan ini, Remin mulai terbiasa tampil virtual. Dia mengaku keuangannya sudah lumayan membaik.

Memang, job masih belum sebanyak sebelum pandemi Covid. Di awal tahun, ia bisa tampil seminggu tiga kali. Sekarang, dia tampil seminggu sekali.
“Dibandingkan Januari sebelum pandemi, ya bagus Januari. Tapi, sekarang sudah lumayan,” ujarnya.

Kondisi yang tak terlalu stabil membuat Remin pun harus pintar-pintar mengatur keuangan. Salah satu tips yang dibagikannya adalah dengan tidak mudah terseret arus tren.

“Fokus pada target. Kalau saya, targetnya pengin beli rumah yang besar. Karena itu, saya menghindari foya-foya supaya target tersebut segera tercapai,” ungkapnya.

Hal tersebut juga diamini oleh financial planner muda, Dr Dwi Wulandari SE MM CFP. Ia mengatakan, salah satu cara mengawali perencanaan keuangan adalah dengan menentukan 5 pos pengeluaran meliputi pengeluaran sosial, investasi atau tabungan, cicilan hutang, kebutuhan rutin, dan mengeluaran lifestyle.

Financial Planner, Dwi Wulandari (kanan) memaparkan tips mengelola keuangan sederhana (screenshot)

“Jadi setelah gajian, uang jangan langsung dihabiskan. Lakukan budgeting. Karena, naik gaji itu hanya setahun sekali, tapi jebakan hutang ada 365 hari dalam setahun. Sehingga Anda wajib melakukan financial planning,” urai pengajar ekonomi moneter, keuangan, perbankan, dan investasi di beberapa universitas ini.

Kepala OJK Malang, Sugiarto Kasmuri menambahkan peningkatan literasi keuangan sangat penting. Apalagi, saat ini akses jasa keuangan semakin luas. Literasi keuangan penting agar masyarakat kritis memilih.

“Dengan literasi keuangan, masyarakat tidak gampang diiming-imingi. Ada dua prinsip kritis literasi keuangan. yaitu, logis dan legal,” ujar Sugiarto.

Menurut Sugiarto, jasa keuangan harus logis risiko dan profitnya. Jika profitnya terlalu tinggi, maka masyarakat harus waspada.
“Kalau janji keuntungannya besar sekali tiap bulan, itu tidak logis. Ini harus diwaspadai. Lalu, harus dicek juga, apakah produk keuangan itu legal. Ini bisa dilihat langsung di situs OJK,” terang Sugiarto.

Selain webinar yang dimoderatori Direktur Deazha, Dewi Yuhana, acara tersebut juga menghadirkan kegiatan lain, seperti lomba menggambar Keluarga Sikapi, Lomba Opini, Lomba Menulis Opini, hingga Lomba Desain Poster.

Pewarta: Inifia

MALANG KOTA – Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, rangkaian kegiatan Bulan Inklusi Keuangan 2020 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, menghadirkan pembicara muda untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan milenial, dalam webinar bertajuk Tetap Kreatif di Masa Pandemi bersama Komika Ridwan Remin.

Dalam webinar yang diikuti lebih dari 260 peserta dari berbagai daerah tersebut, Remin mengaku, pandemi juga berefek pada stand up comedy. Ia mengatakan, panggung virtual berbeda dengan tampil offline, di televisi, bahkan ketika menghadirkan komedi di YouTube.

“Lebih sulit, salah satunya karena ada delay. Kadang ngelucunya udah selesai tapi belum ada yang ketawa. Giliran udah ngomong, baru audience ketawa. Nah itu salah satu tantangannya,” kata dia.

Ia menambahkan, di masa pandemi, komika juga menghadapi tiga fase. “Bulan pertama pandemi, merasa bersyukur ada tabungan. Walau pemasukan tidak dari tampil. Beberapa bulan berikutnya, masuk masa khawatir. Fase ketiga, masuk masa adaptasi,” urai komika berkacamata ini.

Pada masa adaptasi, komika khususnya dirinya, mencoba memberanikan untuk tampil secara virtual dengan penyesuaian-penyesuaian. Setelah mendobrak ketakutan ini, Remin mulai terbiasa tampil virtual. Dia mengaku keuangannya sudah lumayan membaik.

Memang, job masih belum sebanyak sebelum pandemi Covid. Di awal tahun, ia bisa tampil seminggu tiga kali. Sekarang, dia tampil seminggu sekali.
“Dibandingkan Januari sebelum pandemi, ya bagus Januari. Tapi, sekarang sudah lumayan,” ujarnya.

Kondisi yang tak terlalu stabil membuat Remin pun harus pintar-pintar mengatur keuangan. Salah satu tips yang dibagikannya adalah dengan tidak mudah terseret arus tren.

“Fokus pada target. Kalau saya, targetnya pengin beli rumah yang besar. Karena itu, saya menghindari foya-foya supaya target tersebut segera tercapai,” ungkapnya.

Hal tersebut juga diamini oleh financial planner muda, Dr Dwi Wulandari SE MM CFP. Ia mengatakan, salah satu cara mengawali perencanaan keuangan adalah dengan menentukan 5 pos pengeluaran meliputi pengeluaran sosial, investasi atau tabungan, cicilan hutang, kebutuhan rutin, dan mengeluaran lifestyle.

Financial Planner, Dwi Wulandari (kanan) memaparkan tips mengelola keuangan sederhana (screenshot)

“Jadi setelah gajian, uang jangan langsung dihabiskan. Lakukan budgeting. Karena, naik gaji itu hanya setahun sekali, tapi jebakan hutang ada 365 hari dalam setahun. Sehingga Anda wajib melakukan financial planning,” urai pengajar ekonomi moneter, keuangan, perbankan, dan investasi di beberapa universitas ini.

Kepala OJK Malang, Sugiarto Kasmuri menambahkan peningkatan literasi keuangan sangat penting. Apalagi, saat ini akses jasa keuangan semakin luas. Literasi keuangan penting agar masyarakat kritis memilih.

“Dengan literasi keuangan, masyarakat tidak gampang diiming-imingi. Ada dua prinsip kritis literasi keuangan. yaitu, logis dan legal,” ujar Sugiarto.

Menurut Sugiarto, jasa keuangan harus logis risiko dan profitnya. Jika profitnya terlalu tinggi, maka masyarakat harus waspada.
“Kalau janji keuntungannya besar sekali tiap bulan, itu tidak logis. Ini harus diwaspadai. Lalu, harus dicek juga, apakah produk keuangan itu legal. Ini bisa dilihat langsung di situs OJK,” terang Sugiarto.

Selain webinar yang dimoderatori Direktur Deazha, Dewi Yuhana, acara tersebut juga menghadirkan kegiatan lain, seperti lomba menggambar Keluarga Sikapi, Lomba Opini, Lomba Menulis Opini, hingga Lomba Desain Poster.

Pewarta: Inifia

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/