alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Kebangkitan Industri Alat Bulutangkis di Kota Malang

MALANG KOTA-Pandemi Covid-19 turut memukul industri alat-alat olahraga di Kota Malang, khususnya peralatan bulutangkis. Namun selepas Idul Fitri Mei lalu, kondisinya mulai membaik. Pesanan mulai melonjak, meski belum bisa kembali 100 persen. Kota Malang yang memiliki banyak industri rumahan alat-alat bulu tangkis. Utamanya raket dan shuttlecock.

Jenis dan kualitasnya pun beragam. Ada yang untuk mainan anak, ada juga yang sudah bisa dikategorikan berstandar turnamen. Seperti sektor ekonomi lainnya, industri alat-alat olahraga semacam itu terseok-seok di awal-awal pandemi Covid-19. Permintaan menurun, produksi pun turun drastis.

Hal itu diakui Koordinator Home Industri Racket Kelurahan Balearojosari Novianto. Dalam kondisi normal, produksi raket di wilayahnya bisa sampai 3.000 per hari. Namun di awal pandemi anjlok tinggal seribu raket per hari. Beberapa pekerja terpaksa dirumahkan.  ”Karena memang tidak ada yang dikerjakan. Awalnya delapan orang menjadi empat orang,” ungkapnya.

Seiring melandainya angka kasus Covid-19,  permintaan pun meningkat lagi. Namun sampai saat ini belum bisa disebut kembali seperti kondisi sebelum pandemi. Novianto mengistilahkan kondisi industri rumahan alat olahraga saat ini masih merangkak. Belum bisa berdiri, apalagi berlari.

 

Nyaris Berhenti, Kini Bisa 2.000 Raket per Hari

 

PRIA yang sudah 17 tahun menggeluti bisnis produksi alat olahraga itu menyebutkan, peningkatan produksi raket mulai beranjak ke angka 75 persen. Per hari setidaknya bisa memproduksi sekitar 2.000 raket. ”Kami juga menjual raket ke luar kota.  Sehingga meski perekonomian di Kota Malang belum pulih secara maksimal, masih ada pesanan dari luar kota,” ujarnya.

Di luar itu juga ada kendala sulitnya mengangkat angka produksi ke kondisi normal. Menurut ayah dua anak itu, saat ini pihaknya kesulitan mencari bahan baku raket. Bahkan terkesan langka. Pada saat yang sama, pesaing produksi raket juga banyak. ”Itu juga yang membuat produksi belum bisa pulih seratus persen,” terang pria asal Desa Klayatan, Kabupaten Malang, itu.

Pembuatan raket secara manual juga terbilang tidak gampang. Mulai dari membentuk frame dengan alat berbentuk ”T” yang berbahan aluminium, mengebor lubang-lubang untuk senar, hingga memasang handle dari bahan kayu.

Untuk pemasangan senar dan mata ayam pada lubang-lubang raket biasanya dikerjakan warga sekitar kawasan industri rumahan dengan upah tertentu. ”Baru setelah itu finishing, termasuk pengecatan dan pemasangan spons pada handle. Paling akhir ya packaging,” pungkasnya. (ulf/fat/rmc)

MALANG KOTA-Pandemi Covid-19 turut memukul industri alat-alat olahraga di Kota Malang, khususnya peralatan bulutangkis. Namun selepas Idul Fitri Mei lalu, kondisinya mulai membaik. Pesanan mulai melonjak, meski belum bisa kembali 100 persen. Kota Malang yang memiliki banyak industri rumahan alat-alat bulu tangkis. Utamanya raket dan shuttlecock.

Jenis dan kualitasnya pun beragam. Ada yang untuk mainan anak, ada juga yang sudah bisa dikategorikan berstandar turnamen. Seperti sektor ekonomi lainnya, industri alat-alat olahraga semacam itu terseok-seok di awal-awal pandemi Covid-19. Permintaan menurun, produksi pun turun drastis.

Hal itu diakui Koordinator Home Industri Racket Kelurahan Balearojosari Novianto. Dalam kondisi normal, produksi raket di wilayahnya bisa sampai 3.000 per hari. Namun di awal pandemi anjlok tinggal seribu raket per hari. Beberapa pekerja terpaksa dirumahkan.  ”Karena memang tidak ada yang dikerjakan. Awalnya delapan orang menjadi empat orang,” ungkapnya.

Seiring melandainya angka kasus Covid-19,  permintaan pun meningkat lagi. Namun sampai saat ini belum bisa disebut kembali seperti kondisi sebelum pandemi. Novianto mengistilahkan kondisi industri rumahan alat olahraga saat ini masih merangkak. Belum bisa berdiri, apalagi berlari.

 

Nyaris Berhenti, Kini Bisa 2.000 Raket per Hari

 

PRIA yang sudah 17 tahun menggeluti bisnis produksi alat olahraga itu menyebutkan, peningkatan produksi raket mulai beranjak ke angka 75 persen. Per hari setidaknya bisa memproduksi sekitar 2.000 raket. ”Kami juga menjual raket ke luar kota.  Sehingga meski perekonomian di Kota Malang belum pulih secara maksimal, masih ada pesanan dari luar kota,” ujarnya.

Di luar itu juga ada kendala sulitnya mengangkat angka produksi ke kondisi normal. Menurut ayah dua anak itu, saat ini pihaknya kesulitan mencari bahan baku raket. Bahkan terkesan langka. Pada saat yang sama, pesaing produksi raket juga banyak. ”Itu juga yang membuat produksi belum bisa pulih seratus persen,” terang pria asal Desa Klayatan, Kabupaten Malang, itu.

Pembuatan raket secara manual juga terbilang tidak gampang. Mulai dari membentuk frame dengan alat berbentuk ”T” yang berbahan aluminium, mengebor lubang-lubang untuk senar, hingga memasang handle dari bahan kayu.

Untuk pemasangan senar dan mata ayam pada lubang-lubang raket biasanya dikerjakan warga sekitar kawasan industri rumahan dengan upah tertentu. ”Baru setelah itu finishing, termasuk pengecatan dan pemasangan spons pada handle. Paling akhir ya packaging,” pungkasnya. (ulf/fat/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/