alexametrics
25.9C
Malang
Friday, 22 January 2021

Soal Ekonomi: Whats Next?

Pemikiran Para Tokoh Menatap Malang di 2021

Tahun 2020 sudah berakhir. Sejarah mencatat bahwa kondisi ekonomi 2020 sangat berbeda dari berbagai tahun sebelumnya akibat pandemi Covid 19 yang sukses meluluh lantakkan ekonomi di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Maret 2020, wabah Covid–19 tidak hanya memengaruhi sektor kesehatan, tetapi juga sosial ekonomi. Meski tak mudah, namun kondisi ekonomi nasional di penghujung 2020 kian menunjukkan perbaikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 terkontraksi minus 3,49% secara year on year (yoy). Meski demikian, kontraksi di kuartal III-2020 lebih baik dibandingkan posisi pada kuartal II-2020 yang tercatat minus 5,32% (yoy).
Perekonomian yang terkontraksi di level provinsi dan nasional ini tentunya juga tercermin pada level regional khususnya pada wilayah Malang Raya. Wilayah Malang Raya meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu yang terkenal dengan pesona wisatanya juga tak luput dari dampak negatif ekonomi akibat Covid-19.

Pembatasan aktivitas masyarakat untuk meminimalisasi penyebaran virus secara langsung menyebabkan terjadinya efek domino pada sektor-sektor perekonomian lainnya seperti jasa akomodasi dan penyediaan makanan minuman, perdagangan, serta transportasi. Data BPS menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, Kota Malang mengalami deflasi. Pada Agustus 2020 tercatat Kota Malang mengalami deflasi 0,06%, lalu September 2020 deflasi 0,05%, dan kembali mengalami deflasi pada Oktober 2020 sebesar 0,06%. Meski demikian, sepanjang bulan Desember 2020 menunjukkan hasil yang positif dan mencerminkan adanya pertumbuhan ekonomi. BPS menunjukkan bahwa pada awal Desember 2020 Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,31% month to month.

Hal itu mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat mulai tumbuh yang tercermin dari kenaikan harga, khususnya pada komoditas makanan, minuman, dan tembakau sebagai akibat dari permintaan yang meningkat. Tak hanya itu, peningkatan kinerja ekonomi Malang Raya di akhir tahun 2020 di sektor perdagangan besar dan eceran juga terlihat dari hasil survei penjualan eceran (SPE) yang dilakukan oleh Bank Indonesia dmenunjukkan bahwa total omzeit di wilayah Malang Raya telah mulai tumbuh sebesar 11,84% (mtm) sepanjang bulan Desember 2020. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi omzet bulan November 2020 yang terkontaksi sebesar -7,49% (mtm).

Optimalisasi Kinerja Pemerintah
Sejak munculnya kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada Maret 2020 silam, peningkatan jumlah masyarakat yang terinfeksi virus Covid 19 belum juga menunjukkan adanya penurunan. Bahkan, wilayah Malang Raya dalam beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan yang signifikan hingga sempat mencapai lebih dari 60 kasus kasus per hari pada 12 Desember 2020. Bahkan, saat ini tingkat hunian pasien positif terpapar covid-19 yang sedang rawat inap di rumah sakit Malang Raya mencapai 70 persen. Kenaikan jumlah masyarakat yang terinfeksi Covid-19 tak hanya mengguncang sektor kesehatan tetapi juga berdampak pada sektor ekonomi. Jika peningkatan jumlah masyarakat yang terinfeksi Covid-19 tak segera diatasi, maka besar kemungkinan sektor ekonomi di Malang Raya yang telah mulai bangkit akan kembali terpuruk akibat badai virus Covid-19. Hal itu mengingat kinerja pertumbuhan ekonomi daerah masih sangat dipengaruhi oleh faktor kesehatan yang menyebabkan pembatasan fisik dan sosial, serta aktivitas pariwisata.
Secara umum, catatan ekonomi 2019 dan 2020 memperkuat anggapan bahwa perekonomian sangat tergantung pada kinerja pemerintah, terutama dalam mengelola fiskal. Tak dapat dipungkiri bahwa pada sisi penerimaan secara nasional kini mengalami penurunan tajam (shortfall) hingga 18,5 persen yang selanjutnya berdampak pada anggaran Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) yang diterima daerah. Saat ini, pemangkasan TKDD dilakukan oleh pemerintah sebagai bentuk penyesuaian atas penurunan penerimaan pajak.
Data menunjukkan bahwa penerimaan pajak hingga akhir November 2020 mencapai Rp 925 triliun atau turun 18,5% dibandingkan dengan pencapaian tahun 2019 sebesar Rp 1.136,13 triliun.

Di sisi lain, ketika pemerintah terpaksa melakukan pemangkasan TKDD akibat penurunan penerimaan nasional, sebagian besar pemerintah daerah (Pemda) mengalami penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD) akibat pandemi Covid-19. Data menunjukkan bahwa Kota Malang pada semester 1 2020 mengalami penurunan PAD hingga Rp 165 miliar atau turun sebesar 26,65% dari proyeksi awal APBD murni tahun anggaran 2020. Selain itu, PAD Kota Batu yang memiliki pesona wisata sebagai penopang ekonomi juga turut mengalami penurunan PAD. Angka PAD Kota Batu yang semula ditargetkan dalam APBD murni sebesar Rp 207 miliar, namun ketika terjadi pandemi diturunkan hingga Rp 105 miliar atau turun sebanyak Rp 83 miliar atau berkurang 40,10 persen dari target awal.

Pada sisi belanja, khususnya berupa gaji dan tunjangan saat ini tidak mengalami penurunan. Meski demikian, pengeluaran masyarakat dan swasta kini masih jauh dari yang diharapkan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa konsumsi rumah tangga hingga kini masih menjadi penopang struktur PDB Indonesia. Pada triwulan III 2020, sumbangsih konsumsi rumah tangga mencapai 57,31 persen. Oleh sebab itu, Belanja APBD diharapkan mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi daerah untuk dapat memberikan stimulus di dalam meningkatkan konsumsi masyarakat dan swasta. Artinya, dukungan pemerintah terhadap peningkatan daya beli masyarakat masih perlu terus diupayakan.

Optimisme Menyongsong 2021
Di tengah ketidakpastian pandemi, akhir tahun 2020 ditutup dengan tren perbaikan beberapa variabel ekonomi yang dapat menjadi optimisme baru dalam menyongsong 2021. Tren perbaikan kinerja ekonomi, konsumsi dan investasi diharapkan akan terus meningkat sebagaimana juga diindikasikan oleh beberapa leading indicators seperti Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia dan data penjualan ritel. PMI Manufaktur Indonesia pada triwulan III naik ke level 48,3, setelah sempat turun tajam pada triwulan II pada level 31,7. Indeks Penjualan Riil juga pulih dengan tumbuh -9.6 persen dibanding kinerja pada triwulan II yang terkontraksi dalam hingga -18,2 persen. Selain itu, Sektor-sektor yang terkait pariwisata dan mobilitas masyarakat, yang tertekan sangat dalam pada triwulan II, juga mencatat perbaikan meskipun masih dalam zona kontraksi. Malang Raya sebagai salah satu wilayah yang menjadi destinasi wisata telah mulai mengalami kenaikan okupansi hotel, meski angkanya masih di bawah 50 persen secara rata-rata dibandingkan kondisi normal.

Memacu pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi tak bisa hanya bertumpu pada faktor-faktor ekonomi saja. Di luar berbagai faktor ekonomi yang terus distimulus, terdapat pula faktor kesehatan yang juga tetap harus dijaga agar keduanya dapat berjalan selaras. Ketersediaan vaksin dan fasilitas kesehatan yang memadai di setiap daerah adalah kunci untuk semakin memperkuat optimisme yang dibangun di 2021 mendatang.
Selain itu, menjadi hal penting juga bagi setiap daerah untuk mampu menelisik berbagai sektor yang berpotensi dapat tumbuh dengan cepat (jumpstart) di tahun 2021. Perdagangan berbasis e-commerce, penguatan jaringan antar pelaku ekonomi, pembangunan platform yang melibatkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pelatihan Information Communication Technology (ICT) yang dibiayai oleh pemerintah, dan bantuan pembiayaan bagi UMKM oleh perbankan merupakan beberapa upaya yang dapat dilakukan pemerintah daerah dalam mempercepat perbaikan ekonomi daerah akibat pandemi. Semoga. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Wajib Dibaca