Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Malang, tulisan promo antara 15 hingga 40 persen terpampang nyaris di semua lorong. Stok barang juga terlihat berkurang, bahkan banyak spot yang terlihat kosong. Di area makanan beku misalnya, lemari pendingin terlihat tak diaktifkan 50 persen.
Pun di lantai dua, rak-rak yang berisi pakaian terlihat kosong mlompong. Meja kasir yang berjejer hanya dibuka 2-3 titik saja. Salah satu karyawan yang ditemui Jawa Pos Radar Malang, Giant MOG akan ditutup pada awal Maret.
Namun Store Manager Giant MOG, Etik Setyorini masih enggan menyatakan gerai Giant MOG bakal ditutup. "Kalau masalah itu, konfirmasi ke pusat saja di Jakarta," ujar Etik.
Penutupan supermarket tak hanya di Kota Malang saja, kondisi ini juga terjadi di beberapa daerah. Salah satunya adalah di Giant Margo City saat ini tengah menjual habis stok dagangannya. Sebab mulai Maret 2021, Giant Margo City tutup permanen.
Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Malang (UM), Prof Dr Imam Mukhlis SE MSi memprediksi, kondisi ini dipicu persaingan industri ritel makanan yang meningkat dan perubahan perilaku konsumen di Indonesia.
"Karena daya beli masyarakat menurun sehingga masyarakat selektif dalam berkonsumsi pada kebutuhan dasar dan kebutuhan tersebut dipenuhi di toko di sekitar tempat tinggal," papar guru besar FE UM itu.
Apalagi saat ini masyarakat sekarang cenderung bersifat hati-hati dalam berbelanja. Karena melihat pola keuangan di periode sebelumnya dan ekspektasi ekonomi di masa pandemi seperti saat ini.
"Persaingan bisnis adalah sesuatu yang rasional dalam kondisi sekarang dan perubahan perilaku konsumen menjadi keniscayaan. Jadi penutupan gerai
merupakan strategi bisnis untuk menghindari kerugian berkelanjutan dan menerapkan strategi baru. Sesuai dengan selera pasar,daya beli konsumen,dan rencana bisnis investor," tutupnya.
Pewarta : Errica Vannie Editor : Shuvia Rahma