PULUHAN karyawan di rumah produksi Ayung Sportindo di Gang V, Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang tampak sibuk kemarin siang (30/9).
Ada yang tengah menjahit.
Ada pula yang bertugas merapikan pakaian.
Total ada 30 karyawan yang biasa bekerja di rumah produksi tersebut.
Di Malang, itu bukan satu-satunya tempat produksi Ayung Sportindo.
Ada pula tempat serupa di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Di sana juga ada 30-an karyawan.
Semua berada dalam komando Asrul Tsani.
Selain di Malang, dia juga memiliki puluhan mitra penjahit di Tangerang dan Bandung.
Bisnis konveksi sudah dijalani Asrul sejak 1997.
Tepatnya saat dia berkuliah di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB).
Semua berawal dari pamannya yang seorang penjahit bordir.
Dari sana, dia punya beberapa kenalan penjahit baju di Malang.
Semasa kuliah, Asrul berinisiatif menawarkan jasa tersebut kepada teman-temannya.
Mulai dari pemesanan topi, kaus hingga jaket custom ditampungnya.
Saat itu, tidak mudah baginya untuk mendapatkan pelanggan.
Dia harus keliling fakultas dan keliling kampus untuk menempelkan brosur yang dia buat.
Beberapa juga dia tempelkan di ATM dekat kampus.
”Dulu saya hafalkan jadwal cleaning service bersih-bersih ATM saat jam 6 pagi. Jadi saya harus menempel brosur setelahnya agar tidak dibuang,” kata pria kelahiran Banyuwangi tersebut.
Di kertas brosur itu, dia mencantumkan nomor telepon rumah dan alamat kontrakan nya.
Karena tidak banyak yang menghubunginya dengan cara promosi seperti itu, dia memanfaatkan yellow pages atau buku telepon.
Asrul masih ingat betul, buku tersebut berisi nomor telepon dan alamat instansi-instansi yang ada di Indonesia, mulai pemerintahan hingga lembaga pendidikan.
Brosur-brosur tersebut Asrul kirimkan ke sekolah-sekolah yang ada di Jawa Timur.
”Jadi di kop suratnya saya tuliskan kepada Ketua Osis atau ketua kelas,” kata pria kelahiran 1975 tersebut.
Dari sekitar 100 brosur yang ia sebar di seluruh sekolah tersebut, ada satu sampai dua yang minat pesan di tempatnya.
Meskipun jauh dan pesanannya sedikit, Asrul tetap melayaninya.
Untuk mengantarkan baju atau jaket pesanan tersebut, Asrul harus naik kereta ke Jember hingga Madiun.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak yang mengenal bisnis konveksinya.
Beberapa lembaga pendidikan seperti sekolah dan pesantren menjadi langganannya.
”Dulu saya mengantar ke Jember pakai motor, pas sudah punya motor,” tutur Asrul.
Hingga pada 2002 dia bisa membeli mobil pertamanya.
Saat itulah usahanya semakin berjalan lancar.
Banyak pesanan yang datang dari pelanggannya di Jawa Timur.
Perjalanannya sempat menemui kendala saat dia tertipu dengan iming-iming bisnis rental mobil.
Tergiur dengan nilai investasi yang dijanjikan, dia malah memiliki banyak utang.
Itu turut berdampak pada bisnis konveksinya.
Asrul tak menyerah.
Dia membaca peluang bisnis di era internet semakin terbuka.
Dia lantas memutuskan untuk belajar marketing dengan blog.
”Saya ikut pelatihan bayar Rp 250 ribu,” kata Asrul.
Kemudian dia mulai memasarkan bisnis konveksinya melalui blog.
Dari sana, dia mendapatkan klien pertama dari Malaysia, dengan pesanan 3.000 biji.
Dengan memanfaatkan penjahit-penjahit kenalannya, Asrul menyanggupi pesanan tersebut.
Dari sana, dia kemudian dikenalkan dengan vendor asal Malaysia dan mendapatkan ribuan pesanan setiap bulannya.
”Vendor itu menjualnya ke Amerika hingga Yordania,” imbuhnya.
Hingga 2017, Asrul hampir tidak pernah menerima pesanan dari dalam negeri.
Sebab, pesanan dari luar negeri terus datang kepadanya.
Setelah berhenti bekerja sama dengan vendor asal Malaysia tersebut, Asrul mulai membuat marketplace dan menjual jaket balap.
”Penjualan cukup turun saat itu, sampai pas pandemi 2019 saya kepikiran produksi masker kain dan hazmat,” kata dia.
Pada 2022 setelah pandemi hingga saat ini, Asrul kembali berinovasi untuk membuat pakaian safety.
Mulai dari jaket bomber safety, ware pack safety dan jeans safety.
Dalam satu bulan, Asrul bisa mengumpulkan omzet hingga Rp 200 juta. Saat ini, produk pakaian safety buatan Asrul digunakan di berbagai perusahaan di seluruh Indonesia.
Seperti Freeport, Goldman, New Mont, dan BUMN. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana