RADAR MALANG - Perang dagang antara Amerika Serikat dan China kembali mencuat.
Pada Kamis lalu (24/4), kedua negara dikabarkan tengah melangsungkan pembicaraan tarif.
Namun, belum diketahui siapa perwakilan resmi dari masing-masing pihak.
Mengutip laporan dari Antara News, kabar ini dikonfirmasi oleh Presiden AS Donald Trump.
Meski begitu, klaim tersebut dibantah oleh Pemerintah China, sehingga memunculkan ketidakpastian di pasar global.
Ketidakpastian terkait negosiasi dagang ini dinilai dapat memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk mata uang seperti rupiah.
Namun, pelemahan dolar AS turut menahan tekanan tersebut.
Analis pasar uang Ariston Tjendra menyebut bahwa pernyataan yang saling bertolak belakang dari AS dan China mengenai negosiasi tarif dapat memicu kekhawatiran pasar.
"Berita-berita menyangkal telah dimulainya pembicaraan soal tarif antara AS dan China seperti yang diklaim oleh Presiden Trump bisa memberikan tekanan ke aset berisiko," ujarnya dalam laporan KataData.
Meski demikian, indeks dolar AS yang berada di kisaran 99,18, melemah dibandingkan hari sebelumnya di level 99,50, turut mendorong penguatan rupiah.
Akibatnya, rupiah justru bergerak menguat pada pembukaan perdagangan pagi ini, Selasa (29/4).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 45 poin di level Rp16.810 per dolar AS, lalu terus menguat hingga Rp16.782 per dolar AS pada pukul 09.40 WIB.
Mayoritas mata uang Asia juga mengalami penguatan, seperti ringgit Malaysia yang menguat sebesar 0,71%.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa pelemahan dolar AS terjadi akibat rilis data aktivitas manufaktur Amerika yang menurun tajam.
"Rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS yang melemah setelah data ekonomi menunjukkan aktivitas manufaktur di AS anjlok tajam,” ujarnya.
Dengan sentimen ini, rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.850 per dolar AS sepanjang hari. (ney)
Editor : Aditya Novrian