Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Usaha Produksi Sambal asal Pakisaji Diekspor ke Empat Negara

A. Nugroho • Jumat, 23 Mei 2025 | 16:53 WIB
TEMBUS MANCANEGARA: Noviana Rahmawati ditemani suaminya memproduksi sambel
TEMBUS MANCANEGARA: Noviana Rahmawati ditemani suaminya memproduksi sambel

PAKISAJI - Semakin banyak produk asal Kabupaten Malang yang menembus pasar mancanegara. Salah satunya sambal yang diproduksi Noviana Rahmawati. Pemilik usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Dapurnya Subur di Dusun Sememek, Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji itu mengekspor sambal ke empat negara.

Yakni Hongkong, Singapura, Taiwan, dan Malaysia.

“Per bulan, estimasi kirim 40-50 botol ke masing-masing negara itu,” ujar Novi ditemui kemarin (22/5) Biasanya, per orang memesan 10-20 botol.

Per botol kemasan 200 gram dibanderol Rp 20.000 sampai Rp 30.000. Butuh waktu beberapa hari untuk pengiriman ke luar negeri. Sebagai contoh, jika dikirim ke Hongkong, butuh waktu empat hari.

Namun untuk ke Singapura atau Malaysia bisa lebih cepat. Selain pengiriman ke luar negeri, dia juga menerima pesanan untuk dikirim ke seluruh Indonesia. Pembeli bisa memesan melalui marketplace maupun pesan secara manual dan dikirim menggunakan jasa ekspedisi.

“Pasar kami sudah tersebar. Mulai dari pulau Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan,” kata Novi.

Per hari, dia bisa mengolah 42 kilogram cabai rawit menjadi sambal bawang dengan beragam isian. Mulai ayam suwir, paru-paru sapi, tuna asap, teri medan, hingga baby cumi. Dengan jumlah produksi tersebut, dia menyebut, per bulan bisa memperoleh omzet hingga Rp 25 juta.

Usaha tersebut dimulai sejak 2018 lalu. Berawal dari keisengan Novi yang hobi memasak dalam jumlah banyak. Modal yang dikeluarkan sekitar Rp 50.000 dengan bahan baku 0,5 kilogram cabai rawit.

“Waktu itu ukuran botolnya hanya 150 gram dan kami jual dengan harga Rp 15.000 per botol. Varian pertama yang kami jual itu ayam suwir,” ucapnya.

Awalnya dia hanya menjual ke teman-teman yang ada di kontaknya. Sekali membeli, teman-temannya itu memesan kembali. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membuka pre order (PO) sambal tersebut.

Dari mulut ke mulut, semakin banyak yang memesan sambalnya. Setelah 1,5 tahun, Novi yang awalnya bekerja di salah satu perusahaan  memutuskan berhenti dan fokus melanjutkan usahanya di bidang kuliner itu.

Editor : A. Nugroho
#UMKM #Ekspor Sambal #sambal #usaha