Cuitan Kontroversial Trump Soal Tragedi Minneapolis Bikin Berang Sederet Selebriti Ini

RADARMALANG – Kematian pria kulit hitam, George Floyd akibat perlakuan berlebihan dari polisi Minneapolis menyulut emosi masyarakat Amerika Serikat. Tak terkecuali kalangan selebriti.

Mereka bersuara menuntut keadilan atas nyawa George Floyd yang melayang tanpa arti. Alih-alih mendapatkan jawaban dari pemerintah setempat ataupun pusat, amarah mereka makin tersulut setelah Presiden AS Donald Trump membuat cuitan kontroversial.

Pada Kamis (28/5) malam, sekelompok demonstran melakukan protes atas kebrutalan polisi serta keputusan bahwa petugas yang membunuh Floyd hanya dipecat dan bukan diberi hukuman kurungan.

Kemudian, pada Jumat (29/5) pagi, Trump mengunggah cuitan yang menyatakan seolah-olah presiden AS tersebut mendukung kebrutalan polisi.

“Saya tidak bisa mundur dan menyaksikan ini terjadi di Kota Amerika yang hebat, Minneapolis. Kurangnya kepemimpinan. Jika Walikota Kiri Radikal yang sangat lemah, Jacob Frey, tidak mengendalikan kotanya, saya akan mengirim pengawal nasional dan menyelesaikan pekerjaan dengan benar,” cuit Trump.

Ia melanjutkan, “Para preman ini tidak menghargai memori George Floyd, dan saya tidak akan membiarkan itu terjadi. Baru saja berbicara dengan Gubernur Tim Walz dan mengatakan padanya bahwa Militer akan selalu bersamanya. Kesulitan apapun dan kami akan mengambil kendali, tapi, ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai. Terima kasih!”

Sederet musisi seperti Taylor Swift, Niall Horan, hingga Billie Eilish buka suara soal cuitan kontroversial tersebut. “Setelah menyalakan api supremasi kulit putih dan rasisme seluruh kepresidenan Anda, Anda punya keberanian untuk berpura-pura superioritas moral sebelum mengancam kekerasan?” respon Swift dalam sebuah cuitannya.

Dengan mengulangi kalimat terakhir Trump “When the loothing starts, the shooting starts”, Swift mengakhiri pernyataannya dengan menunjukkan bahwa ia tak akan memilih Trump di pemilu selanjutnya.

Sementara itu, Niall Horan menyampaikan isu mengenai rasisme yang ia sebut “telah merajalela selama ratusan tahun”. Ia pun turut mengecam ujaran Trump yang menyebut bahwa para demonstran adalah preman.

“Preman?? Orang-orang ini memprotes fakta bahwa salah satu polisi putih kebinatangan Anda berlutut di tenggorokan George dan memaksanya untuk berhenti bernapas dan membunuhnya??” imbuh mantan anggota One Direction tersebut.

Pasalnya, cuitan tersebut tak hanya dianggap “memuliakan kekerasan”, tapi juga terdapat memori sejarah dibaliknya. “When the loothing starts, the shooting starts” merupakan kalimat yang dilontarkan oleh seorang Kepala Polisi Miami, Walter Headley, pada tahun 1967.

Berdasarkan The Washington Post, seperti dikutip dari CBS News (30/5), Miami meliki relasi kuat dengan isu rasisme pada tahun tersebut. Ketika itu, perampokan bersenjata dan kerusuhan mencengkeram lingkungan yang dikelilingi oleh orangrr kulit hitam di Miami.

Kepala polisi tersebut mengadakan konferensi pers yang “mendeklarasikan perang” terhadap para ‘preman’ ini. Headley memperingatkan akan menggunakan senapan atas perintahnya dan melontarkan kalimat tersebut.

Cuitan kedua Trump yang menyebut para demonstran sebagai preman dan kalimat “when the loothing starts, the shooting starts” itu pun kemudian mendapatkan tindakan dari pihak Twitter. Meski tak dihapus, Twitter memberikan label pada cuitan tersebut yang menerangkan bahwa terdapat muatan kekerasan dalam cuitan tersebut yang melanggar aturan Twitter.

Penulis: Ananda Triana
Foto: Twitter @RealDonaldTrump, The Verge
Editor: Indra M